..and the blabla..

1 jam kemarin telah membuka mataku

Langit Jakarta.. 18.10, minggu ke-3 April 2011

“nomer 31C ya mba?,” tanya seorang ibu-ibu padaku.
“iya bu,” aku tersenyum padanya.

ibu itu lalu duduk tepat di sebelahku. petang itu, aku hendak kembali ke kotaku.

lama…kami terdiam. sampai akhirnya ibu itu (bodohnya aku tak menanyakan namanya) membuka percakapan setelah seorang pramugara memintaku untuk mematikan HP.

“Biasa itu mba, saya dulu juga pernah jadi pramugari soalnya,” kata ibu itu.
“iya bu? asyik dunk..bisa kemana-mana gratisan,” kataku.
“iya..tapi gak enaknya jarang ketemu keluarga,”
“tahun berapa bu?,”
“1986-1989,”
“wah..saya masih TK itu bu. Di mana?,”
“sekarang udah gulung tikar maskapainya, Bouraq,”
aku mengangguk-angguk. “kenapa berhenti?,” lanjutku.

ibu itu lalu menjelaskan alasannya berhenti menjadi pramugari karena menikah. awal-awal, menurut pengakuannya, dia sempat stres karena gak ada kegiatan di rumah.

“tiap malam nangis mba.. gak ada yang dikerjain soalnya,”

tapi itu tak berlanjut lama. ibu itu mulai bisa menyesuaikan diri dengan kondisinya. dia lalu menerima dengan lapang dada menjadi ibu rumah tangga murni.

“apalagi, sebulan setelah menikah, saya langsung hamil. padahal saya niatnya nunda dulu. tapi ya disyukuri aja,”
“mba uda berkeluarga?,” aku mengangguk.
“berarti saya perlu belajar banyak dari ibu ya,”
“jadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karier itu sebenarnya gampang-gampang susah mba,”
“banget bu. harus pinter-pinter bagi waktu,”
“mba dari mana ini?,”
“dari dinas di jakarta,”
“asli surabaya?,”
aku mengangguk… “ibu juga surabaya?,”
“saya asli surabaya, tapi rumah di malang. sekarang lagi nemenin suami di Bengkulu,”
“mba mau coklat?,” ibu itu mengulurkan silverqueen padaku.
“makasih, ibu aja,”

kemudian aku tahu kalau ibu itu berasal dari jalan peneleh, sebuah perkampungan kuno di Surabaya.

yang membuatku kagum padanya, karena dia begitu sabar dan ikhlas menjalani semua. ibu itu bercerita, betapa hebatnya konflik batin yang dialaminya sejak jobless.

“saya tertekan lahir batin mba,”

wajar sih, dari pramugari yang bisa kemana-mana, pengen apapun bisa, mendadak harus duduk manis di rumah. itu menurut pengakuannya padaku.

“tapi setelah anak-anak sudah dewasa, saya jadi ngerti dan bersyukur bahwa jalan yang saya ambil untuk jadi ibu rumah tangga itu yang terbaik. saya sekarang mendapat hasilnya,”

ibu itu punya 3 anak. pertama cowo sedang kuliah sekitar 20 tahun umurnya, yang kedua cewe SMA dan yang bontot cowo masih SMP.

“teman-teman yang dulu ngolokin saya, sekarang mereka ganti bertanya ke saya. kok bisa ya. mereka terkagum2 pada saya. soalnya mereka sering ke psikiater,” ibu itu lalu tersenyum.
“waduh bu, trus saya gimana dunk? anak saya sering saya tinggal,”
“uda punya anak toh?,”
“sudah, 1, cewe,”
“umur berapa?,”
“18 bulan,”
“mba kan pegawai pemerintah, jadi gak masalah. waktunya teratur, sabtu-minggu libur kan?,”
“kalau dipikir-pikir, jadi ibu rumah tangga yang bener-bener sesuai syar’i itu menyenangkan lho. meski sangat sulit di awal,”

aku langsung terdiam mendengar kata ibu itu. apa aku bisa menjadi seperti itu? apa aku sanggup? apa aku sudah menjalankan seperti ibu itu? apa aku bisa menjaga kehormatanku? menjaga kehormatan suamiku? menjaga kehormatan keluargaku?

tiba-tiba aku merasakan kepalaku berat. “bu, saya merem dulu ya, agak pening,”
“iya mba, monggo,”

goncangan di dalam kabin semakin terasa. si kapten kemudian memberitahukan kepada kami, bahwa cuaca sedang buruk sekali di luar sana. pantas aja, batinku. jadi berasa naik kapal yang diombang-ambing ombak. ini penerbangan terburuk sepanjang hidupku.

sekita 20 menit kemudian, guncangan-guncangan itu sudah mulai berkurang. ibu itu kemudian mulai mengajakku ngobrol lagi. kali ini tentang kuliner.

“kangen lontong balap mba,”
“lontong balap Garuda buk, paling enak di surabaya,”
“iya, sudah 3 bulan gak makan. kangen juga sama tahu campur, rujak cingur. 1 lagi, lontong kupang,”
aku tertawa.. “ngidam ya bu,”
“uda lama banget mba. di sana (bengkulu, red) jarang yang jual,”
aku lalu bertanya lagi, bagaimana caranya mendidik anak2nya sampai sebesar itu.
“kuncinya harus jujur, sabar dan ikhlas,” katanya mantap.

ah..lagi-lagi aku bertemu kata jujur, sabar dan ikhlas. mudah diucapkan, tapi sangat sulit dilakukan.

apa itu jujur, sabar dan ikhlas???
semuanya diterapkan ibu itu sejak dari kecil.

“Prinsip saya mendidik anak-anak ada tiga hal, yaitu ikhlas, jujur, dan sabar,”

Kejujuran ditanamkan sejak mereka kecil, ini turunan dari orang tuanya.

“sampai sekarang, anak2 sudah terbiasa mengelola keuangan sendiri. tiap saya datang, anak2 langsung laporan uangnya dipake apa aja,”

aku hanya manggut manggut dengar cerita ibu itu. takjub!!

kalau ada anaknya yang buat kesalahan, biasanya akan ditegur secara khusus. tidak di depan anak2nya yang lain.

“saya cari waktu khusus mba. biasanya saya diam dulu, beberapa waktu kemudian, baru saya ajak ngomong,”

lagi-lagi kuncinya adalah diam sejenak!!

lalu bagaimana dengan sabar dan ikhlas?

Ikhlas itu lebih berat dari sabar. Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Dalam Islam, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa mengharapkan apapun dari yang lain.

Metriknya ikhlas: orang ikhlas itu dipuji atau dicaci hatinya sama saja. Dipuji-puji tidak merasa besar, dicaci macam apapun tidak merasa rendah. fiiuuhh… susahnya!!

terimakasih ibu…satu jam itu, benar-benar membuat mata saya terbuka…

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

0 Comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: