Aku, Sahabat Anakku

56

Rasanya gak berlebihan saya menulis judul itu. Secara, saya yang paling sering berinteraksi dengannya. Kemana-mana, kami selalu berdua. Ke kamar mandi sekalipun. Maklum, si anak masih belum genap 4 tahun.. hehe..

Menurut temantakita, menjadi teman bagi anak adalah kunci dari keterbukaan komunikasi anak. Ketika orang tua menjadi teman bagi anak, anak pun merasa diterima oleh lawan bicaranya. Anak bicara secara terbuka karena tidak dihakimi oleh orang tua. Anak menjadi nyaman bicara apa adanya pada orang tua, bahkan mungkin bicara mengenai pengalaman yang tidak mengenakkan, pengalaman keliru dan pengalaman memalukan.

Bukankah keluarga lingkungan terkecil bagi anak untuk belajar? Pun demikian dengan kita. Dalam sebuah keluarga, kita wajib belajar bersama-sama. Karena semua yang ada dalam keluarga itu, statusnya ‘baru’. Saya baru belajar menjadi seorang istri setelah menikah, baru belajar menjadi ibu setelah ara lahir, dan belajar menjadi sahabat ara setelah dia besar.

Seperti apa persabahatan saya dengan Ara? Seperti persahabatan pada umumnya. Sebisa mungkin, saya selalu ada buat dia. Apalagi, Ara sudah TK. Jadi makin banyak bahan obrolan kami. Tentang teman-teman barunya, ibu gurunya di TK, pengasuhnya, saudaranya atau teman-temannya di rumah.

Biasanya, kami ‘curhat’ setelah saya pulang kerja. Begitu melihat saya, tanpa diminta, Ara langsung menceritakan apa aja yang terjadi selama saya tidak bersamanya. Saya pun mendengarkan dengan antusias. Kalau saya nggak ngerti, saya akan tanya balik ke dia. Biasanya, kalau ara sudah capek cerita, dia bakal tanya balik ke saya. Atau sekadar bilang, “Bund, aca kangen,” lalu memeluk dan mencium saya. Dengar kalimat itu dari bibir mungilnya, rasanya langsung adem, badan yang capek sepulang kerja, langsung fresh.

Di saat lain, waktu libur sekolah, biasanya kami akan membuat prakarya bersama. Entah itu membuat rumah-rumahan dari kardus, origami, membaca buku cerita, belajar menulis atau mewarnai. Bermain masak-masakan di luar rumah juga sering kami lakukan.

Buat saya, berkomunikasi dengan anak sedini mungkin itu sangat penting. Karena ini berkaitan dengan perkembangan anak saat dewasa nanti. Sebagai orang tua baru (ya gak baru-baru amat sik :p), saya belajar menyelami dunia mereka. Meski saya dulu pernah kecil. Tapi pola asuh saya dulu, dengan sekarang berbeda. Karena zaman sudah berubah. Kalau dulu, abah saya mendidik saya dengan sangat keras, pola itu tidak bisa saya terapkan ke ara.  Apalagi saya tau, ara itu tipe-tipe anak yang tidak bisa sama sekali dikerasin. Meski saya tidak juga memanjakan dia.

Sebagai orang tua, saya pun tak luput dari yang namanya pemaksaan kehendak atau menjadi orang tua yang otoriter. Pernah, suatu kali saya melarang ara ini-itu. Jadinya si ara marah dan kesal sama saya. Selama beberapa jam, diam saja, tidak mendengarkan omongan saya dan sebagainya. Butuh waktu lumayan lama untuk membujuknya. Sejak itu, saya nggak mau lagi memaksakan kehendak. Saya selalu menawarinya ini-itu, atau kalau dia ingin sesuatu tapi saya nggak berkenan, saya selalu memberikan alasan yang masuk akal dan mudah dicerna olehnya.

Sekarang, saya dan suami belajar menjadi orang tua sekaligus teman buat ara. Belajar untuk menekan ego, mengelola emosi dan amarah. Susah? Banget! Tapi demi ara, apa sih yang enggak.. hehe.. Tapi yang jelas, saya dan suami, jadi lebih memahami pribadi ara dan bagaimana cara menghadapinya. Kami, keluarga kecil ini, sedang giat-giatnya belajar bagaimana menjalani peran kami masing-masing dalam keluarga. Karena kami percaya, komunikasi dengan anak yang dijalin sejak dini dapat memudahkan dalam mendidik dan mengarahkan anak usia dini.

mbah google pun memperingati hari anak nasional :D

mbah google pun memperingati hari anak nasional 😀

Tulisan ini saya posting dalam rangka memeringati Hari Anak Nasional 2013. Bersinarlah anak-anak Indonesia..

Categories: Parenthink

No comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: