Berkaca Dari "Let Me In"

Ada yang pernah nonton Let Me In di M Channel? Itu lho, realiti show yang ‘berusaha’ menolong orang dengan ‘menyulap’ pesertanya. Tentu saja dengan operasi plastik. Etapi jangan salah, setiap peserta yang akhirnya dipermak, melewati serangkaian tes yang sangat ketat. Saya suka sekali nonton tayangan ini, karena banyak pelajaran yang dipetik dari sana. Terutama tentang bagaimana kita bisa MENERIMA apa yang sudah diberi Allah ke kita.

Episode yang benar-benar bikin saya terharu adalah episode ‘hilangnya anggota tubuh’. Kalo mau liat, silahkan klik video di atas itu ya. ^_^

Saya lupa namanya siapa aja, yang jelas, ada 2 peserta yang bakal disulap jadi cantik. Hm.. kita panggil aja #1 dan #2 yak :D. Awalnya, kedua peserta ini, setelah dianalisa sama tim dokter let me in, gak ada yang diterima. Karena kasusnya tergolong berat. Si #1, sebagian wajahnya rusak parah (meski udah dioperasi waktu kecil) akibat terseret mobil waktu masih umur 5 tahun. Si #2, satu matanya ilang, dan bagian wajahnya rusak karena tumor mata yang diderita sejak bayi. Sebenarnya tim dokter ingin sekali nolong kedua peserta tersebut, tapi karena dianggap berat, jadi gak ada yang terpilih. Tapi rupanya pertolongan Allah, selalu ada. Setelah shooting acara, tim dokter masih berdebat di studio. Akhirnya, disepakati, kedua peserta dibantu.

Cerita keduanya bener-bener membuat saya terharu. Tapi yang lebih mengharukan adalah cerita si #2. Dia kehilangan matanya sedari bayi, karena terindikasi tumor mata bagian kanan. Untung saja, ibunya tahu awal dan segera membawa #2 ke dokter. Meski begitu, tetap saja, mata kanan #2 tidak terselamatkan. Sampai dia ikutan let me in, #2 masih diharuskan ikut radiografi, untuk membunuh sel2 tumor yang masih tumbuh di wajahnya. Terapi itu yang kemudian membuat bagian kanan wajahnya asimetris. Tulang rahangnya memanjang sebelah dan giginya tak tumbuh.

Kondisi itu membuat #2 memanjangkan sebagian poninya sampai menutupi matanya yang ‘hilang’. Yang bikin saya nangis (beneran nangis kemarin), dengan kondisi seperti itu, dia masih saja hidup dengan penuh semangat. Dia terlihat ceria dan mensyukuri semua yang dimilikinya. Oiya, #2 ini, jago banget gambar. Waktu audisi, dia sempat kasih gambar ke salah satu presenternya. Waktu abis operasi, dia juga kasih gambar pada 3 dokter yang mengoperasinya.

Cerita let me in lain yang bikin saya nangis adalah perjuangan seorang istri yang ditinggal suaminya. Gara2nya si istri tiba2 badannya gemuk dan terkesan tidak merawat diri. Padahal awalnya, si istri canteeek bener kaya bintang pilem korea.Β Dan, tentu saja, si suami ini eneg liat istrinya yang gendut.Β Akhirnya, si suami KECANTOL sama perempuan lain. Naudzubillah…

Dari badan gede, konflik dimulai. Mulai dari ribut-ribut kecil yang menjadi besar. Si suami yang mulai berani memaki istrinya dengan suara sangat keras, sampai suaminya berani main tangan. Ujung-ujungnya, suami keluar dari rumah dan hanya ke rumah seminggu sekali untuk naro cucian kotor dan jenguk anaknya yang masih balita. Saya trenyuh liatnya. Apa hanya karena penampilan si istri, lantas diperbolehkan suami membentak2 istrinya? Memperlakukannya dengan sangat tidak menyenangkan? Si suami juga ngaku, dia eneg banget liat istrinya. Makanya dia cari perempuan lain. Itu perbuatan yang sangat menyakitkan. Apalagi, perselingkuhan itu dilakukan terang-terangan di depan istrinya. Saya aja yang dengar dan lihat, sakit hati sekali. Apalagi yang menjalaninya? Seburuk apapun pasangan kita, tidak seharusnya kita menyakiti hatinya dan membeberkan keburukannya. Naudzubillah…

gusmus

Soal penampilan, bagi sebagian orang adalah masalah sepele, tapi tidak buat saya. Belajar dari episode yang itu, ternyata, penampilan itu penting banget yah. Meskipun sudah beranak pinak, kita harus tetap pintar merawat diri. Bukankah, berhias untuk suami itu sebuah kewajiban dan berpahala? So, why not? πŸ™‚

Seperti twit Gus Mus. Seorang istri harus bisa berperan apa saja di depan suaminya. Tapi bukan berarti juga, suami diperbolehkan mendzolimi istrinya, ketika istrinya berubah ‘bentuk’. Harus ada komunikasi dari keduanya.

gusmus1

Sampai di situ, saya merasa SANGAT TERTAMPAR! Saya merasa masih sangat kurang bersyukur. Padahal keadaan saya, Alhamdulillah cukup dan tidak kekurangan suatu apapun. Saya, yang jauuuuh sekali dengan #2, masih saja merasa kurang dengan apa yang saya miliki. Sementara dia, menerima semua kekurangannya dengan ikhlas bahkan tidak pernah menuntut apapun pada Allah. MALU? Pake Banget!

Padahal Allah sudah berjanji, semakin kita bersyukur dengan hal-hal kecil, semakin banyak nikmat yang bakal diberikanNya. Tapi tetap saja, manusia (saya ding :D) masih saja serba kekurangan. Punya suami yang setia dan cinta banget (bukan GR tapi kenyataan :p), anak yang lucu dan pintar (Insya Allah salihah), keluarga yang selalu sayang sama saya, teman yang selalu ada buat saya. Kurang apa lagi? Bersyukur Eda! Alhamdulillah Ya Rabb…

Ini yang saya suka dari nonton let me in. Selalu ada pelajaran yang bisa dipetik di setiap episodenya. Yang jelas, pelajaran yang selalu ada di setiap episodenya adalah BERSYUKUR.

Categories: ..and the blabla..

12 comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: