Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

Berkalang Senja

perempuan senja
menjemput senja

Aku mulai merasa sesak. Iya, sesak ini, kamu penyebabnya. Kamu yang membuatku merasa sangat bersalah, merasa sangat hina terlebih. Aku heran, apa yang membuatmu seberubah ini, sayang. Dulu, tutur katamu terdengar sangat manis. Sekarang, kau bersumpah serapah seperti orang murka. Aku kah penyebabnya?

Mungkin aku harus segera meninggalkannya.

Cuma senja yang mau mendengarnya dengan setia kali ini. Meski senja tak selalu memberinya saran. Tapi senja selalu memberinya suntikan energi untuk melangkahkan kaki.

Mungkin, dia sudah tidak mencintaiku lagi. Mungkin dia sudah tidak butuh aku lagi. Mungkin..aakh… masih banyak kemungkinan lain.

Katakan padaku sayang, apa yang membuatmu demikian. Perubahanmu sangat besar. Jawab aku.. jawab sayang. Aku sudah tak tahan.

Gadis itu kemudian memunggungi senja. Mungkin saja dia tak mau senja melihatnya semakin menderita. Air matanya kian deras mengalir dari sudut matanya.

Senja, aku kurang apa? Aku sudah memberikan semua yang aku punya padanya. Semuanya.. dan aku tak menyesalinya sedikitpun. Karena aku benar-benar mencintainya. Oh.. senja, apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya kembali seperti dulu? yang menyayangiku, mencintaiku, memujaku. Aku benar-benar kehilangan akal, senja.

Gadis itu, begitu sedih melihatnya. Sepanjang hari menitikkan air mata untuk lelaki tercinta. Cinta sejatinya.

Tiba-tiba gadis itu terduduk, lunglai. Mungkin karena capai dengan keadaan yang menderanya. Andai saja, aku tahu, lelaki mana yang tega menyiksanya.

Sayang, kamu begitu berarti untukku. Tapi kenapa kau tega terhadapku? Bercinta dengan wanita itu, tepat di kamarku. Aku tak tahan melihatnya sayang. Alih-alih kau menyuruhku merekam semua adeganmu. Apa maumu sayang?

Apa kau hendak membuatku sakit dan menderita? Sudah. Itu sudah kau lakukan sejak dulu. Dan aku sudah merasakanya bertahun-tahun lalu. Sejak aku tahu, kau jalan dengan sahabatku. Sahabat terbaikku.

Bergidik aku mendengarnya. Gadis itu, kini kian lemas, seperti tak berdaya. Tertidur di atas pasir putih pantai ini. Aku perhatikan, wajah gadis itu cukup menawan. Parasnya ayu, kulitnya mulus seputih salju. rambutnya tergerai sebahu. Hidungnya mancung, bibirnya terkesan penuh. Tak tega aku melihatnya.

Mungkin ini saatnya, aku mengakhiri semua. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuatmu kembali padaku. Tapi kau kian menjauh. Giliranku telah usai, sekarang giliranmu.

Dear langit,
Cintaku padamu mungkin tidak seluas langit di angkasa. Cintaku padamu mungkin tidak sebesar cinta ibu kepada anaknya. Cintaku padamu hanya seujung kuku, yang terus menerus tumbuh, meski aku memotonginya setiap hari.

Langit, maaf jika aku belum bisa menjadi seperti apa yang kamu harapkan. Sekarang mungkin, buatmu aku menjadi batu sandungan. Aku akan pergi, biar tak lagi ada ganjalan buatmu.

Aku rela menerima, karena kamu bahagia. Meski hati ini terluka.

Love u always,

Senja

Aku melihat gadis itu berlari ke tengah laut dengan selembar kertas di tangannya. Punggungnya semakin menjauh. Mungkin dia sudah bahagia bersama air yang menghempasnya. Baru ku tahu, namanya senja..

 

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

0 Comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: