Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

Bukan Laskar Pelangi

Cerita ini didedikasikan untuk Nila Pungky Ningtias, alumnus ITS yang rela menjadi pengajar muda angkatan I di pedalaman kabupaten tulang bawang barat, Lampung

Here We go…..

*
Suatu sore, sebelum senja. Rani, seorang muridku yang biasa saja. Teramat biasa, tidak menonjol dan sangat pendiam. Tiba-tiba dia datang berkunjung ke rumahku. Padahal hujan sangat deras. Awalnya, kukira dia hanya ingin berteduh. Setelah kuajak masuk dan mengeringkan badannya dengan handuk, dia kujamu dengan segelas teh hangat di meja makan.

“Bu Nila..katanya mau pulang ke jawa ya?,” Rani membuka pembicaraan sore itu.

“Hmm…Insya Allah setahun lagi kok, kenapa Ran?,”

“Memangnya kalo gak setahun lagi gak boleh ya bu?,”

Aku hanya melempar senyum kecil. Mengusap rambutnya yang lembab. Rani memandangku lekat-lekat.

“Bu, jangan pulang cepat-cepat ya,” dia mengucapkan kata-kata itu tanpa mengalihkan pandangannya dariku.

“Setahun masih lama kok Ran,”

“Soalnya, nanti gak ada lagi yang ngajak Rani main. Gak ada lagi yang minjemin Rani buku majalah. Gak ada lagi yang bsai Rani ajak ngobrol,”

“Kan ada teman-teman Rani, guru lain kan juga masih ada,”

“Temen-temen Rani gak ada yang mau main sama Rani, soalnya Rani orangnya lemesan. Guru lain jahat bu, sukanya bentak,”

Lagi, aku hanya bisa melempar senyum tipis.

“Bu Nila tahu gak kenapa Rani ke sini?,” tanya Rani kemudian.

“Ng…berteduh? di luar kan hujan,” jawabku ragu.

“Rani ke sini mau belajar bahasa inggris bu. Rani gak punya buku,”

Aku diam, tersentak. Bukannya di kelas dia rajin mencatat ya? Tanyaku dalam hati. Rani muridku yang pemalu itu ternyata cukup lambat menerima pelajaran. Dia memang mencatat tapi dia tidak mengerti apa yang dicatatnya. Dan dia terlalu pemalu untuk bertanya di kelas. Apalagi dia tidak punya buku paket. Orang tuanya hanyalah buruh karet yang setiap hari selalu mengantar jemput dia dengan sepeda onta. Tapi sore itu, rani memberanikan diri datang ke rumahku dengan basah kuyup karena dia ingin belajar bahasa inggris. Dia juga ingin membaca majalah anak-anak yang sering kusediakan untuk bacaan murid-muridku. Rani tidak berani membawa pulang majalah itu karena takut majalahnya rusak.

“Majalahnya mahal bu, ini harganya sebelas ribu, eman kalo rusak,” ujarnya saat kuminta dia membawa pulang saja majalah itu.

Rani kecil yang lugu dan pemalu, tapi punya tekad besar. Awalnya, aku akui memang agak sulit mendekatinya. Sebab, dia selalu berada di belakang punggung teman-temannya seolah ingin menyembunyikan dirinya agar tak terlihat siapa pun. Di kelaspun, dia selalu menunduk dan terbata saat menjawab pertanyaan.

Namun pembicaraan sore itu dengannya, membuat aku percaya, di diri setiap anak selalu ada keinginan untuk jadi lebih baik. Saat lingkungan tempat tinggalnya tidak mendukung proses tumbuh kembangnya, sekolah adalah tempat yang tepat untuk menambal sulam proses tersebut.

menjadi guru tidak hanya mengajarkan anak-anak berbagai pengetahuan. tapi utamanya adalah mendidik karakter mereka. Bagiku, kini tak masalah jika Rani pemalu dan kurang menonjol di kelas. Asalkan dia masih terus memperrjuangkan tekadnya untuk jadi lebih baik, belajar dan terus belajar. perlahan, dia akan memahami bahwa dia juag bisa bersing dengan teman-temannya yang lain, dia mempunyai kemampuan itu dan dia bisa membangun lapisan tekad sekuat baja untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Belakangan, Rani mulai sering mengajakku melakukan eksperimen science seperti yang ada di majalah. Dan aku sedang berusaha membuatnya mengajak teman-temannya yang lain juga. Agar dia bisa meningkatkan kepercayaan dirinya untuk bergaul dengan teman-temannya.
*

Menjadi guru adalah sebuah pengabdian yang nyata. melihat mata-mata kecil berbinar ceria karena kehadiran kita adalah sepenggal kebahagiaan yang tak terlupakan. Meski mereka hanya datang ke sekolah bercelana monyet, bertelanjang kaki, berpakaian lusuh yang basah karena peluh, tidak membawa buku apalagi menenteng tas mungil yang lucu. Tapi semangat mereka yang telah menempuh jarak berkilo-kilo menuju sekolah adalah satu pernghargaan nyata bagi guru. Sebuah penghargaan bagi saya saat Rani memberanikan diri datang ke rumahku untuk belajar dan meminjam buku.
*

Kisah ini, mungkin mirip dengan film laskar pelangi yang pada waktu itu membuming di Indonesia. Karena menceritakan sebuah sekolah Muhammadiyah di desa Gantung, Belitung Timur, terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu.

Dan aku bukanlah Bu Muslimah, Muslimah Hafsari Hamid binti KA Abdul Hamid yang merupakan Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi. Wanita lembut pengajar pertama Laskar Pelangi dan merupakan guru yang paling berharga bagi mereka.

Tapi setidaknya, aku bisa merasakan kerja keras bu muslimah yang dengan telatennya mengajar 10 muridnya, Ikal, Lintang, Sahara, Mahar A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani dan Harun.

E N D



moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: