• Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Siapa Menyakiti Siapa?

    Kadang dalam hidup, menjadi egois itu perlu. Bukan karena kita tak peduli pada orang lain. Justru sebaliknya, kita teramat sangat peduli pada orang lain itu. Dengan begitu orang lain itu akan belajar dengan kemandiriannya. Mungkin aku perlu menjadi batu. Tiada goyah, tiada lemah. Tapi konstan, dan itu cukup membosankan. Mungkin sekarang, seperti itu adanya. Hanya diam tanpa bisa melawan. I fall too hard, crash too hard, forgive too easy and care too much. Its my fault. Tapi semua itu tak semudah yang aku tulis. Menyakitkan hingga ke sumsum tulang belakang yang paling nyeri. Ketika rasa akan sesak itu hilang, yang tersisa hanya kehampaan. Sakit yang sama hanya dalam bentuk yang berbeda.…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Rahasia Cermin

    Malam semakin memeluk erat. Kabut bertambah pekat. Tangis perempuan itu kian menyayat. Perih, membuat tenggorokan serasa tercekat. Kulihat dia terus menerus mematut diri di depan cermin. Sambil sesekali menyeka air matanya. Setiap malam hanya itu yang dilakukannya. Sesekali dia berbicara pada cermin. Berbagi rahasia, mungkin. Suaranya tak jelas. Hanya lengkingan yang menyayat hati yang terdengar sangat keras. Lamat-lamat, suaranya mulai terdengar. Ada cerita pilu di sana. “Dia.. orang yang paling jahat yang pernah aku kenal.” Terlihat ada murka di wajah perempuan itu. Tapi tetap tak dapat menutupi kesedihan di wajahnya. Di mata sayunya. Senyum yang setiap hari menghias wajahnya, juga tak bisa menyembunyikan kepiluan di hatinya. “Apa yang akan kau lakukan jika…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Takut Kehilangan

    Takut kehilangan? Entahlah.. rasanya sudah sangat lama pertanyaan itu kupendam dalam-dalam. Kalaupun kalimat itu harus dipertanyakan sekarang, apa yang harus kuucapkan? Toh kita tak lagi bergandengan tangan. Tak lagi seperti yang dulu, kita janjikan.. Janji? Apa kita -aku dan kamu- dulu pernah berjanji untuk berteman sampai mati? Rasanya tidak. Tapi dalam persahabatan, ada semacam aturan tak tertulis mengenai itu. Akan bersama selamanya.. no matter what.. Damn! I missed that moment, so much! Masa-masa dimana kita tertawa bersama. Bukan menertawakan kekonyolan kita, tapi kekonyolan orang lain. Masa-masa dimana kita saling bercerita apa saja, tanpa menutupi apapun. Masa-masa dimana kita saling ejek, nyinyir satu sama lain sampai akhirnya kita saling diam untuk…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Matahari dan Hujan

    matahari terlihat sangat murka panasnya begitu menyengat kepala aku sampai kelimpungan dibuatnya matahari terlihat sangat murka mungkin saat ini dia enggan berteman dengan siapa2 hanya ingin menumpahkan segala amarah matahari terlihat sangat murka entah pada siapa dia marah apakah kepada saya?? cuma kangen hujan wangi tanah yang ditinggalkan teduh menenangkan cuma kangen hujan yang selalu saja menuntun kita pada kenangan yang tak pernah lekang *) diambil dari blog saya dengan nama serupa di tumblr.. yg ini bukan galau yah, cuma reblog aje :p

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Kicauan Kacau

    Bercerita tentang rasa yang membuatku gila. Tentang hati yang sepertinya beranjak mati. Tentang raga yang semakin lemah. Semuanya melebur menjadi satu. Rasanya seperti diiris sembilu. Perih ini tak jua luruh. Suara hati kian mengadu. Gaduh. Berteriak lantang. Seakan menantang. Ingin keluar. Mendung juga enggan beranjak dari atas kepala. Menggelayut manja, tak terkira. Entahlah.. sepertinya semua bersepakat untuk memusuhiku. Termasuk kamu. Teman baikku. Sahabatku… Kalau saja, lidah ini tak kelu. Pasti sudah kutumpahkan semua kekesalan dan amarahku padamu. Tapi nyatanya tak bisa. Kau selalu membuatku terpaku. Sayang, kau menyakitiku teramat dalam. Ini sudah kesekian kalinya terjadi. Tapi tetap saja aku selalu berbaik hati. Aku terlalu menyayangimu. Menyayangi persahabatan kita. Yang sudah bertahun-tahun…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Persahabatan Lawan Jenis?

    IMHO, persahabatan lain jenis itu jika dianalogikan spt ini: Seberapa harga sebuah pelukan tanpa sebuah ikatan? Seharga ciuman tanpa perasaan, mungkin.. Sesimple itu..silahkan diartikan sendiri.. Buat saya, sahabat adalah tempat di mana saya bisa nangis sesenggukan, tanpa malu, kemudian tertawa terbahak-bahak bersama. Sahabat adalah ketika dia tahu kebodohan dan ketololan bahkan kebusukan kita, tapi dia tetap berjalan di samping kita. A true friend is who knows all about us, n still loves us.. Mungkin, saya termasuk salah seorang yang lebih suka dan nyaman bersahabat dengan lelaki, dibanding dengan kaum saya sendiri. Kenapa? Coz there is no drama. Saya tak perlu memasang topeng di depan mereka. Satu lagi, kaum lelaki itu tak pernah ember!…