Curhat

Sekira jam 3 dini hari tadi, ada notifikasi whatsapp di hape saya. Saya kira orang iseng. Ternyata pesan dari seorang teman baik yang lama tak dengar kabarnya. Tiba-tiba dia curhat sama saya tentang keluarganya yang pada akhirnya membuat saya nangis dan bersyukur. Jangan khawatir, postingan ini tidak untuk membuka aib teman saya, bahkan saya udah dapat izin untuk postingan ini. Saya kira, saya perlu nulis ini, karena banyak pengalaman yang bisa saya petik lebih-lebih membuka mata kita dari peristiwa yang menimpa teman saya. Baiklah, sebut saja teman saya itu dengan nama Ade (kebalikan nama saya :D)..

Waktu cerita tadi, saya gak tau apakah Ade sambil nangis-nangis apa enggak, karena saya hanya membaca tulisannya. Tapi menurut saya, dia pasti nangis. Mengingat masalah ini sangat berat. Yah.. Ade mengatakan jika dia ingin berpisah dengan suaminya. Suami yang sudah menjadi imamnya selama hampir 4 tahun. Saya kaget dengernya. Di mata saya, keluarga mereka sangat sempurna. Ade yang menurut saya bisa menjadi isteri sekaligus ibu yang baik buat 2 anaknya. Apalagi anaknya cewe dan cowo. Suami yang gagah dan ganteng dengan pekerjaan (menurut saya) cukup mapan. Apalagi, mereka berdua dari keluarga berkecukupan. Rasanya tidak ada lagi kekurangan dari mereka. Sempurna! Tapi ternyata tidak. Ade mengaku tidak bahagia sama sekali dengan kehidupan pernikahan mereka.

Saat dia bercerita, saya hanya memasang kuping mata saya baik-baik untuk membaca apa yang dia tulis. Saya cuma mencoba jadi teman yang baik buat dia, paling tidak, dia merasa lega karena sudah berbagi kisahnya sama saya. Meskipun pada akhirnya saya gak bisa membantu apa-apa. Dia hanya perlu didengarkan..tidak lebih.

Menurutnya, percerain adalah jalan terbaik bagi mereka. Meski mereka mengaku masih saling cinta. Tapi ternyata cinta saja tidak cukup. Dan di sinilah awal permasalahan itu timbul. Ternyata, selama hampir 4 taun pernikahan mereka, suaminya tidak menjadi lebih baik. “Dari dulu sampai sekarang, dia sangat jarang sekali sholat.”

Saya kaget dengar alasannya. Bukankah dulu, sebelum nikah, Ade sudah tau bagaimana suaminya itu, termasuk yang jarang sholat? Bukankah ade juga mengaku ikhlas dan siap bersuamikan dia? Dan seingat saya, ade pernah mengatakan jika suaminya itu, bakal menjadi ladang amal baginya saat menikah nanti. Yah… ade siap belajar bareng suaminya tentang islam. Meskipun saya tau, Ade seorang muslimah yang taat.

Apa tidak ada jalan lain? Ade mengaku semua ini sudah dipikirkan dan diputuskan masak-masak. Keluarganya juga udah tau semuanya, meski mereka tidak juga mengiyakan permintaan ade. Bagaimana dengan suaminya? menurutnya, suaminya hanya berjanji saja. Tapi tidak ada realisasi. “Bagaimana dia bisa mencintaiku, kalau mencintai Penciptanya saja dia tidak bisa?”

Kalimat yang saya blod itu, nampar banget yah. Ngakunya muslim, tapi gak sholat. Saya ngerti bagian yang ini. Sampai sekarang, saya juga masih sering ngingetin tuan besar untuk tidak lupa sholat. Alhamdulillah, persoalan saya tidak sampai seperti teman saya itu.

Itu rupanya alasan terbesar ade untuk berpisah. Suaminya tidak juga berubah. Bahkan, menurut ade, suaminya itu menghalalkan api neraka bagi dirinya. Kok bisa? Ya ceritanya, waktu itu pernah si ade ini meminta suaminya untuk sholat. Si suami ini males-malesan, bahkan ngomong, “Kalo toh masuk neraka, aku sendiri yang nanggung kan?” Naudzubillah.. summa naudzubillah.. Ngeri dengarnya ya.. Kita aja yang sholatnya (insya Allah) lima waktu, belum tentu juga diterima. Apalagi yang bolong-bolong.

Dia nekat pisahan sama suaminya, karena sudah gak tahan lagi. Tiap kali suaminya disuru sholat, selalu berakhir dengan pertengkaran. “kasihan anak-anak kalo liat kami bertengkar terus.”

Ade mengaku sudah berusaha mengajak suaminya untuk sholat lima waktu dengan baik-baik. Segala cara sudah dia coba. Tapi toh suaminya masih belum bisa melaksanakannya. Dia merasa sangat sedih, karena gak bisa mengubah suaminya. “mungkin hidayah itu gak akan pernah turun ke suamiku.” Kalimat terakhir yang bikin saya gak bisa ngomong apa-apa.

Tapi bukannya tidak mungkin kan ya. Allah yang maha membolak-balikkan hati. Tingkat dan kadar keimanan kita juga hanya Allah yang mengatur. Meski kita juga harus berusaha untuk selalu berjalan dan tidak keluar dari relNya.

Saya jadi ingat, kemarin waktu ngaji surat An-Nisa’ ayat 110 yang artinya “Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Menganiaya diri sendiri itu, salah satunya itu tadi. Kita tahu diperintahkan sholat 5 waktu dalam sehari, tapi tidak kita laksanakan. Padahal kita tahu itu dosa. << yang ini tidak saya omongin ke teman saya. Sekadar mengingatkan (diri sendiri) saja.

Kita, para orang tua ini, terkadang menuntut anak-anak kita untuk selalu berbuat kebaikan dan berharap menjadi anak yang saleh/ah. Tapi di lain sisi, kadang secara gak sengaja, kita memberi contoh yang jauuuh dari itu. Sudah jamak di lingkungan kita, orang tua yang rela bayar mahal ngelesin anaknya ngaji, tapi orang tuanya sendiri gak bisa ngaji dan gak mau belajar. Atau nyuruh anak sholat, tapi orang tuanya gak sholat. Naudzubillah.. semoga kita bukan golongan orang-orang semacam itu.. aamiin..

Pada akhirnya, saya cuma menyarankan dia untuk berkonsultasi dengan seorang kiai atau yang lebih mengerti urusan agama. Semoga mendapat jalan yang terbaik.. Insya Allah.. Aamiin…

 

Categories: ..and the blabla..

No comments

  • Teguh Puja

    Kalau shalat, itu masalah kebiasaan, Mbak. Kalau sudah terbiasa -tidak shalat-, ketika memang diminta untuk shalat atau diharapkan bisa shalat sesuai waktunya, itu akan sulit. Tidak sedikit teman di sekitar, yang karena sudah sekian tahun terbiasa untuk tidak beribadah, jadi kesulitan.

    Ada satu ungkapan dari salah satu kakak dulu mbak: “ada hal-hal tertentu, yang meskipun ketika kamu menikah, watak dan kebiasaannya itu tidak akan berubah. Pilihan ketika itu muncul hanyalah: toleransi satu sama lainnya.”

    Kalau kebiasaannya tidur malam, atau menonton tv dengan suara keras, hal seperti itu masih bisa kita tolerir. Tapi, ada hal-hal tertentu yang, baik suami atau istri, harus bisa komunikasikan, apa bisa ditoleransi atau tidak. Aku ikut mendoakan yang terbaik untuk temannya Mbak Eda. Semoga dimudahkan segala sesuatunya.

    • eda

      iya sih.. tapi kan kalo udah jadi suami-isteri ada kewajiban untuk saling mengingatkan..
      Suami itu kan imam yang tugasnya membimbing keluarga. lah kalo suaminya begitu, trus piye? sementara nasihat isteri dihiraukan?

      aamiin… makasih teguh 😉

      • Teguh Puja

        Iya, untuk kebiasaan-kebiasaan minor, itu masih bisa ditoleransi dan kita tidak akan terganggu dengan itu. Tapi kalau sudah agak jauh seperti itu, terutama masalah praktik ibadah, ya itu memang sudah ndak bisa dibiarkan Mbak. Bagaimana pun, suami yang harus menjadi imam itu, akan jadi ayah untuk anak-anaknya, dan harus bisa jadi tauladan baik. Kalau sebaliknya, ya, memang ndak bagus.

        Doanya bertambah. Semoga teman Mbak Eda itu ditabahkan, dan dipertemukan dengan jalan yang terbaik untuk apa pun yang dihadapinya sekarang. Bismillah.

  • nengwie

    Ikut prihatin bacanya Da, semoga Allah memberikan jalan yang terbaik buat teman Eda..aamiin.

    Jd ingat kejadian yg sama yg menimpa salah satu Bibi/tante saya, tante super sabaaaar menghadapi suami yg kurang lebih sama seperti suami teman Eda, tp dengan kesabarannya tante bisa mengajak kembali paman untuk sholat kembali, dan itu belasan tahun Da…
    Dibantu juga sama anak2nya yg semakin dewasa, anak2nya rajin juga mengajak bapaknya…
    Saya salut dgn kesabaran Tante yg bertahan belasan tahun mendampingi Paman yg keras hatinya.
    Semoga pula teman Eda diberikan kesabaran atas cobaan yg dihadapi…aamiin.

    • eda

      kalo urusan habit emang susah ya teh… emang kudu sabar…bener kata tewie.. gak hanya perlu waktu setaun dua taun.. tapi cukup lama untuk mengubah bad habbit… batu aja ditetesin air bisa lubang kok.. manusia jg pasti bisa berubah, meski lama 😀

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: