..and the blabla..

Dalam Suatu Pernikahan…

Cinta tidak abadi. Cinta kasih tanpa syarat dari orang-orang di sekitar kita itu perlu dirawat, agar selalu subur.. – Alissa Wahid

Dalam suatu pernikahan, terutama setelah terjalin sekian tahun lamanya, apakah rasa cinta masih harus diutamakan? Saya rasa tidak. Cinta memang perlu, tapi saya rasa, komitmen dan tanggung jawab lah yang utama. Saya menulis ini, karena sedih baca tulisan di komunitas emak blogger mengenai cinta dan perceraian. Miris..

Buat saya, yang sudah menikah selama tujuh tahun (alhamdulillah), cinta bukan segalanya. Etapiii… bukan berarti saya tidak cinta lagi atau kadar cinta saya ke suami berkurang lho ya. Lebih dari itu, pernikahan yang sudah berjalan cukup lama, tidak melulu cinta yang menguatkan.

Ada pepatah bilang, banyak jalan menuju Roma. Nah buat saya, cinta itu cuma salah satu jalan (upaya) untuk mewujudkan suatu lembaga pernikahan. Jalan (upaya) yang lain masih sangat banyak. Salah satunya adalah rasa ‘saling’. Di dalam rasa ‘saling’ itu juga mencakup banyak hal, mulai saling mengerti, saling percaya, saling berbagi, saling komunikasi, saling menjaga, saling menghormati dan teman-temannya. Justru itu yang menguatkan dan mengokohkan perjalanan cinta. Dan itu yang selama ini saya lakukan dengan pasangan.

Saya jadi ingat kultwitnya Alissa Wahid soal cinta dan pernikahan pada 16 Maret lalu.

  1. !!! “@AlissaWahid: Perceraian banyak terjadi krn tidak mampu menjaga aspek ‘hidup bersama’ & terlalu mengagungkan cinta. Ter-la-lu.”

  2.  

    Ingat nih: 340rb angka perceraian th.2012, 30% terjadi di bawah usia nikah 5th. Karena apa? Cintanya hilang? Bukan.

     Retweeted by Eda


  3.  

    Tanpa tujuan bersama, komitmen bersama, hirarki nilai bersama; sulit mempertahankan pernikahan yg baik & fulfilling.

     Retweeted by Eda


  4.  

    Kayaknya klise: komitmen hidup bersama, utk masa depan (tujuan bersama) yg lbh baik. Lha tp yg tampak sepele ini rumit lho.

     Retweeted by Eda


  5.  

    Kita ini kadang terlalu hitam-putih soal cinta & hubungan. Cinta memang penting, tapi bukan segalanya dalam hubungan.

     Retweeted by Eda

Saya sepakat, sangat sepakat dengan semua itu. Pernikahan tidak hanya soal cinta. Kalau dulu, waktu masa-masa pacaran, boleh lah ya kita modal cinta doang (selain uang untuk ngedate :p), tapi beranjak ke jenjang selanjutnya harus dipikirkan betul apa yang perlu dilakukan.

Terlebih bila sudah dititipi Allah, anak-anak yang tidak berdosa. Semua akan menjadi berubah. Pengalaman saya, setelah Ara lahir, masing-masing kami bisa lebih menekan ego, meski terkadang masih muncul. Buat kami, Ara yang utama. Setiap apa yang akan kami lakukan, selalu kami komunikasikan, termasuk dengan Ara, yang sekarang ini, Alhamdulillah, sudah mulai bisa diajak ‘bicara’. Keputusan saya atau suami, adalah keputusan yang kami ambil dari ‘bicara’ itu tadi. Jadi seandainya salah, maka kami berdua yang salah. Tidak ada aku atau kamu, tapi kami.

Bukan berarti saya dan suami tidak pernah berantem, lho.. Riak-riak kecil dalam rumah tangga itu wajar. Malah kalau kita bisa menyikapinya secara positif, pertengkaran-pertengkaran kecil itu bisa lebih menguatkan pernikahan.

Kalau saya sih begitu, berusaha mengambil hikmah yang terjadi dalam setiap masalah yang kami hadapi…. Apapun itu, saya berharap, keluarga kecil kami, dijauhkan dari hal-hal buruk. Naudzubillah..Summa naudzubillah.. Semoga keluarga kita semua selalu dalam lindungan dan berkah Allah. Aamiin…

Last but not least, saya tidak bermaksud menjastifikasi pasangan-pasangan yang tidak bisa mempertahankan pernikahannya. Siapa sih yang ingin bercerai? Gak ada kan? Tulisan ini saya buat spontan setelah baca tulisan di blog KEB. Semoga menjadi pencerahan bagi kita semua… Salam ^_^

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: