Blog Competition

Diajarin 'Korupsi'

Ini tulisan kesekian saya yang niatnya mau ikutan GA. Kali ini, mau nyoba peruntungan di GA-nya mba Hana tentang SIM. Wish me luck yes 😆

Sekira setahun lalu, secara gak sengaja kena tilang sama pak polisi. Hmm.. mungkin memang salah saya, yang main potong lajur. Waktu itu saya lagi diburu waktu. Karena pagi itu, ada kunjungan menteri di kampus untuk meresmikan gedung baru. Parahnya lagi, saya gak tahu kalau saat itu, sudah tidak boleh belok langsung ke arah jalan yang saya lewati saat itu. Saat mau belok itu, hati saya sebenarnya udah gak enak. Kayak ada yang nyuruh jalan terus, ada yang nyuruh belok. Tapi akhirnya setan menang, karena saya akhirnya belok ke arah jalan itu. Akhirnya, kena cegatlah saya sama pak polisinya.

kena tilang sebuah #curcol
kena tilang sebuah #curcol

Begitu saya turun, pak polisinya langsung cengar-cengir. Mungkin di pikirannya, “Alhamdulillah, ada mangsa, lumayan buat weekend ini.” Saya diem aja, sampai pak polisinya membuka omongan dengan ucapan salam. “Pagi bu, ibu tahu melakukan kesalahan?” Jujur, saya yang gak ngeh lalu geleng-geleng kepala. Lalu si polisi tanya, saya orang mana. Saya jawab orang Surabaya asli. Pak polisinya bingung. “Orang Surabaya asli? Kok gak tahu kalau gak boleh belok sini langsung? Gak pernah lewat sini?” Saya jawab, “Kemarin lusa saya lewat sini masih boleh dan belum ada tanda larangan itu.” Jawab saya sambil nunjuk rambu-rambu lalu lintas.

Mungkin karena pak polisinya udah geregetan sama saya karena ngeyel terus, akhirnya dia minta SIM dan STNK saya. Selanjutnya, dia bilang kalau saya melakukan pelanggaran blablabla… karena memotong garis lurus blablabla… Pokoknya, polisi itu ngomongnya panjang kali lebar kali tinggi sampai membuat saya agak kesal (banget sih). Lalu saya bilang ke polisi itu, minta ditilang saja kalau saya salah. Akhirnya si polisi ngambil surat tilang warna merah, sambil kasih penjelasan ke saya, nanti ambilnya di pengadilan hari ini tanggal ini jam ini. Saya masih setia mendengarkan celoteh pak polisi itu. Sampai kemudian mata saya menangkap surat tilang warna biru di tangannya.

Kemudian saya bilang, kalau saya mau ditilang pakai surat warna biru saja. Mahal sedikit gak papa, yang penting SIM saya bisa langsung saya bawa. Tapi sepertinya, polisi itu enggan untuk memberikan surat tilang warna biru. Itu terlihat dari penjelasannya kepada saya, yang mengatakan kalau surat tilang warna biru kenanya lebih mahal dan alasan-alasan lain yang intinya, menghalangi saya untuk tidak meminta surat tilang warna biru.

Karena perdebatan kami lumayan lama, teman polisi itu, memanggil polisi yang bersama saya. Entah apa yang mereka rundingkan. Tapi sepertinya, polisi itu menyarankan kepada rekannya untuk mengajak saya ‘damai’.

Dan ternyata benar sodaraah.. Polisi yang tadi bersama saya, tiba-tiba menawarkan damai. Saya tanya, kalau damai minta berapa. Si polisi menjawab seikhlas saya. Tapi dengan pertimbangan lain, saya minta surat tilang warna biru. “Mba, kalau surat tilang warna biru, dendanya mahal lho. Bisa di atas 75 ribu,” kata polisi itu sambil menunjukkan surat tilang warna biru milik mobil sebelumnya. Saya tetap tersenyum, dan dengan senang hati menjawab, “Saya tetap minta yang warna biru. Toh saya pakai motor. Jadi gak semahal itu kan?,” << ngomongnya sambil nyengir.

Akhirnya, dengan berat hati polisinya kasih saya surat tilang warna biru yang bayarnya saya titipkan ke polisi itu. Dan SIM saya pun aman. Maaf ya pak, hari itu gagal dapat ‘korban’. Dan saya pun ngeloyor penuh kemenangan. Senang sih, bisa ngerjain polisi itu tadi 😀

Tulisan ini diikutkan dalam GA SIM mba Hana Sugiharti

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

0 Comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: