Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

Sang Bikkhuni

“Tidak ada gunanya perbedaan agama dipermasalahkan, karena agama merupakan keyakinan tiap-tiap pribadi. Agama adalah jalinan hubungan personal antara manusia dengan Tuhannya”.

Aku betul-betul masih ingat kalimat itu. Kalimat yang kau ucapkan saat terakhir kali kita bertemu. kalimatmu itu, sama halnya dengan “lakum dinukum waliyadin, bagimu agamamu dan bagiku agamakuu”. Kita benar-benar indah saat itu.
*

Cuti tiga hari ini, aku gunakan waktuku untuk mengunjungimu di rumah barumu. Rumah yang menurutmu teramat sangat nyaman dan penuh dengan kedamaian.

Pagi-pagi sekali, aku mengepak beberapa helai baju ke dalam ransel. Aku ingin menemuimu, rindu sekali rasanya. Sudah empat tahun kita berpisah. Aku sunggu ingin bertemu denganmu, melihat hidup barumu di sana.

Jarum jam menunjuk di angka 7 pagi. Aku bergegas memacu motorku menuju rumah barumu. Sekitar 125 km dari arah kotaku dan menyeberangi laut. Aku memilih melewati jembatan Suramadu yang baru diresmikan oleh Presiden SBY tahun 2009. Aku tak menghiraukan cuaca buruk yang sedang melanda kota ini. Yang aku ingin, segera bertemu denganmu dan meminta ceritamu.
*

Enam tahun lalu, aku mengenal sosok Rike. Gadis cantik berkulit putih mulus, bermata sipit, rambut hitam dan lurus. Dia memang anak keturunan. Meski asli Batu, tapi orang tuanya keturunan tionghoa. Kamu lucu dan sangat supel. Kamu juga gak membeda-bedakan strata. Aku suka berteman denganmu.

“Heh, jangan sebut gw tionghoa ya, gw WNI. kesing gw doang yang begini,” katanya, ketika kami bercanda.

Yang lucu, meski kamu ogah sekali dipanggil begitu, tapi kamu sangat paham dan mengerti tata cara dan peradaban tionghoa. Aku jadi ingat, saat aku terserang tipes, tiba-tiba kamu datang ke rumah sambil menyerahkan obat cacing yang kamu beli dari toko obat cina.

“Emak gw yang totok, kalo gw mah enggak banget,” kamu selalu menyela seperti itu.

Kamu memang mengaku beragama Budha, dan lucunya, kamu sangat jarang sekali berkunjung ke kuil-mu. Bahkan mungkin, sang Dewa sudah lupa denganmu. “Ini umatku yang mana lagi ya,” candamu padaku, setelah kamu sembahyang di kuil.
*

Dua tahun berlalu sejak perkenalan kita itu. Kamu mulai menceritakan semua yang selalu mengganjal di otak dan hatimu. Mengenai mama dan papamu yang sudah semakin di makan usia namun tak mau juga pensiun. Mengenai kakak-kakakmu yang sudah menjadi sukses, dan mengenai pacarmu. Ya, pacarmu yang beda agama.

Di sela-sela liputan, kamu selalu bercerita tentang pria itu. Pria yang sangat kamu cintai. Pria yang mengganggu tidurmu, yang selalu mendatangimu di setiap mimpi-mimpimu.

Firman, asli Jombang. Anak seorang pemuka agama di kotanya. Meski anak seorang kiai, namun tingkah laku Firman tidak menurun abinya sama sekali. Sholatnya masih suka bolong, katamu. Ah, bukan urusanku. Toh masalah ibadah, itu urusan makhluk dengan Tuhannya.
*

Kulirik jam di tanganku, sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Aku sudah sampai di perbatasan Bangkalan-Madura. Aku lalu menghentikan laju motorku. Clingak-clinguk kanan-kiri, mencari warung nasi. Sejak sore kemarin, perutku belum terisi nasi. Tak jauh dari tempatku berhenti, aku melihat sebuah rumah makan sederhana. Masih sepi, aku langsung memesan sepiring nasi soto dan teh panas.

“Bu, bisa ikut ke kamar mandi,” kataku pada si pemilik. Aku ingin mengganti jilbabku, gerah sekali rasanya.

“Silahkan mba, sebelah kanan belok kiri ya,” kata ibu itu.

Setelah menyantap habis makanan yang kupesan, aku langsung menyalakan motorku, kupasang slayer, kacamata hitam dan helmku. Sebelumnya, tak lupa aku membuka-buka peta yang kubawa, supaya gak kesasar. Aku harus cepat-cepat, aku gak mau kepanasan di jalan. Setidaknya, butuh waktu sekitar 2,5-3 jam untuk sampai ke Pamekasan, melewati Bangkalan dan Sampang.
*

“Ka, lo udah perna dikenalin sama orang tua firman?,” tanyaku.

“Sudah sih, orang tuanya sepuh banget. Jadi gw gak banyak bicara,”

Kamu juga mengaku jika Firman sudah sering bertandang ke rumahmu di Batu. Orang tuamu menyambut baik kedatangan Firman dan tidak mempermasalahkan hubunganmu dengannya.

“Ortu gw mah, biasa aja. Mereka menyerahkan semuanya sama gw. Asal gw bisa bertanggung jawab,” katamu.

Tapi, yang membuatmu sedih, orang tua Firman tidak mengetahui hubunganmu dengan Firman. Mereka tahunya kalian hanya berteman. Tidak lebih. Dan seeprtinya kamu juga tidak berusaha menjelaskannya pada orang tua Firman.
*

Tiba-tiba hujan deras menghentikan perjalananku. Aku lalu mencari tempat berteduh. Meski bawa jas ujan, tapi aku gak mau ambil risiko. Hujannya gede banget dan disertai angin kencang. Aku memilih berteduh sambil mendengarkan lagu-lagu dari MP4-ku.

“Mau kemana mba,” tiba-tiba seorang lelaki membuyarkan lamunanku.

“Eh, mau ke Vihara Avalokitesvara pak. Bapak tau jalannya? Kira-kira masih jauh gak dari sini?,” tanyaku beruntun.

“Wah mba, masih jauh. Ini masih di Sampang. Kira-kira 1,5 jam lagi dari sini. Dari Pamekasan kota, lumayan jauh,” jawabnya. Aku lalu mengucapkan terimakasih padanya.
*

“Ade, gw pengen crita,” katamu sambil menekuk wajahmu.

Kalau sudah begitu, berarti kamu sedang gusar dan butuh pelampiasan. Sebagai teman baik, aku selalu menyediakan kupingku untuk mendengarkan keluh kesahmu. Meski aku gak bisa memberimu masukan yang berarti, tapi aku selalu menyediakan punggungku. Agar kamu bisa menangis sesuka hatimu.

Kamu mengaku bingung dengan hubunganmu dengan Firman. Yang aku tangkap dari ceritamu, kalian berdua sudah sama-sama klop, saling cinta dan sayang. Tapi yang menjadi masalah adalah agama kalian berdua. Masalah klise memang, tapi harus ada jalan keluar.

“Gw gak mau masuk agama dia. Sepertinya dia juga gak mau pindah agama,” katamu terisak.

“Trus,”

“Tapi gw gak mau bubaran. Gw sayang banget sama Firman de,”

“Orang tua Firman bagaimana?,” tanyaku.

“Tau deh,” tangismu semakin meledak. AKu berusaha sekuat tenaga menenangkanmu.
*

Hujan sudah reda, aku lalu bergegas memacu motorku. paling tidak jam 11, aku sudah harus bertemu denganmu. Masih sekitar 25 Km lagi jarak yang harus kutempuh untuk mencapai Pamekasan. Jarak itu belum termasuk daerah yang bakal kutuju.
*

Rika, aku masih ingat banget, waktu kamu ngotot pengen nikah sama Firman. Tapi kan kalian belum punya kesepakatan untuk itu.

“Gw sudah punya rencana untuk itu,” katamu.

“Rencana apaan?,” aku kaget.

“Rencana hidup gw ke depan. Dengan atau tanpa Firman,”

“Boleh tau?,”

“Apa sih yang gak gw critain ke lo,”

“Gw uda bilang ke Firman, kalo kita jadi nikah nanti, gw maunya nikah di Paramadina,” katamu.

Yah, aku ngerti. Cuma di universitas Paramadina yang bisa menikahkan pasangan beda agama.

“Firman setuju?,” tanyaku. Kamu menggeleng lemah.

“Gw gak tau apa yang dipikirkan Firman, setiap gw tanya masalah ini, dia selalu cuek aja. Dia selalu bilang ini masalah gampang. Umur gw gak muda lagi de, mau masuk 30, tahun depan,”

Lagi-lagi aku hanya terdiam. Aku ngerti banget perasaan kamu Rika. Meski usia aku di bawahmu 3 tahun, tapi aku ngerti.

“Lo sih enak, udah nikah. Oke, aku memang gak terlalu masalahin pernikahan ini. Tapi paling tidak, Firman kasih keputusan. Gw gak mau diambangin kayak gini,” katamu lagi.

“trus rencanamu kalo tanpa firman gimana?,” tanyaku.

Kamu diam saja. Hanya suara tangismu yang terdengar.
*
Tepat jam 9.30 pagi, aku memasuki kabupaten Pamekasan. Aku menghentikan motorku di sebuah warung dan memesan es teh. Tenggorokanku terasa kering. AKu lalu mengeluarkan petaku dan mencari lokasi yang kutuju.

“Bu numpang tanya, Desa Polagan itu mana ya, masih jauh dari sini?,” tanyaku pada pemilik warung.

Ibu itu lalu bertanya pada bapak-bapak di sebelahnya.

“Maaf mba, mau tanya apa. Ibu itu gak ngerti bahasa Indonesia, cuma bisa bahasa Madura,” kata bapak itu.

“Oh..pantesan pak,” jawabku.

“Kalo mau ke Desa Polagan, lewat mana yang dekat ya pak,” tanyaku.

“Wah, masih jauh mba, sekitar 17 kilo lagi dari sini,” jawaban bapak itu membuatku melongo. Jauh juga ternyata, pikirku.

Setelah membayar es teh, aku lalu pamit pada bapak dan ibu tadi. Aku melanjutkan perjalananku. Jam 11 tepat, sampai juga aku di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, Madura. Aku lalu bertanya-tanya kepada warga sekitar dimana letak Vihara Avalokitesvara. Aku lalu melajukan motorku 100 meter ke arah selatan. Dan benar saja, vihara yang dibangun pada abad XVII atau sekitar tahun 1700 Masehi itu sudah ada di depan mata.

Vihara yang dibangun di atas areal seluas tiga hektare itu dibangun sebelum Kerajaan Jambringin yang terletak di wilayah Kecamatan Proppo, Pamekasan, berdiri. Awalnya hanya tiga bangunan, namun lama kelamaan menjadi 15 bangunan. Selain tempat ibadah, di Vihara Avalokitesvara juga terdapat tempat peristirahatan dan ruang pentas kesenian.

Sepintas tempat ibadah umat Budha di Dusun Candi terkesan biasa-biasa
saja, tidak ada yang istimewa, sama seperti tempat-tempat ibadah umat beragama lainnya yang ada di Pamekasan. Namun, dari lokasi yang biasa-biasa saja itulah, simbol dan benih-benih kerukunan umat beragama tertanam. Di vihara itu juga terdapat tempat ibadah umat beragama lain, seperti tempat umat beribadah untuk umat Hindu berupa Pura dan tempat ibadah untuk umat Islam, berupa mushalla.

Aku langsung melangkahkan kakiku ke mushalla, sekedar melepas lelah sebentar sambil menunggu adzan zuhur. Setelah sholat, aku bergegas mencari tahu keberadaanmu. Sedikit bingung memang, aku bahkan gak tahu bagaimana tata cara bertamu di tempat peribadatan agama Budha ini.

Entah apa ini yang namanya jodoh, mataku menangkapmu sedang berjalan ke arah kuil di sebelahku berdiri.
*

Aku kaget dengan keputusanmu saat itu Rika. Benar-benar kaget. Lagipula, apa yang bisa membuatmu berpikir untuk menjadi seperti itu?

“Sudah gw putuskan, gw akan mengambil langkah itu,” katamu yang tentu saja membuatku kaget setengah mati.

“Rika? lo gak salah? Lo gak sedang bermimpi kan?,” tanyaku.

Kamu mengangguk dengan pasti.
*

Meski penampilanmu gak seperti dulu, yang suka pake jeans belel dan rambut acak-acakan, tapi aku masih sangat mengenalmu.

“Rika,” aku berteriak sekuat tenaga. Dan itu membuat beberapa orang yang berada di sekitarku menoleh ke arahku.

Kamu lalu menghampiriku. Tersenyum, sambil terus menunduk.

“Ade, apa kabar,” tanyamu, lembut sekali.

Kamu benar-benar beda Rika. Rambutmu sudah gak bersisa lagi, plontos. Bajumu juga gak seperti dulu. Suaramu, tutur bahasamu dan tingkah lakumu, sangat beda sekali. Kamuj lebih lembut sekarang, lebih kalem dan satu lagi, tidak gampang emosi. Bicara tentang emosi, aku sangat-sangat takjub. Dulu, emosimu sangat mudah tersulut, apalagi dengan narasumber yang sok sibuk dan sok penting. Tapi sekarang kamu beda sekali.

“Ade, kamu apa kabar?,” tanyamu lagi yang membuatku ber-eh eh ria.

“Eh..eh..ya begini ini Rika. Lo….beda banget,” kataku akhirnya.

Tanpa babibu lagi, aku langsung memelukmu erat. Kamu memang berubah, tapi pelukanmu masih sehangat dulu Rika. Aku bener-bener kangen kamu.
Aku lalu memintamu bercerita, kenapa kamu lebih memilih menjadi seorang bikkhuni seperti sekarang ini.

“Aku ke kuil sebentar ya, nanti aku cerita sama kamu,” katamu lalu berlalu dariku.

Lagi-lagi aku terkesima, kamu sudah tidak bilang lo-gw lagi. Semua berubah. Hanya pelukanmu yang masih tetap sama.
*

“Aku sudah putuskan, gw mau jadi bikkhuni aja. Sebodo sama Firman. Gw gak peduli lagi,” katamu penuh emosi saat itu.

“Firman sudah tau keputusan lo?,” selidikku.

“Gw sudah bilang sama dia. Dia cuek-cuek aja. Dan akhirnya gw pilih jalan ini. Jalan yang menurutku penuh dengan kedamaian,” jawabmu.

Kali itu, kamu sudah gak lagi menangis. Mungkin tangismu sudah kau habiskan semalam. Aku masih bisa melihat matamu yang bengap, mungkin kebanyakan nangis.
*

Aku baru tahu Rik, sebelum kamu memutuskan untuk menjadi biksu, ternyata kamu sudah banyak bertemu dengan biksu lain. Kamu mengamati dan mencari tahu bagaimana mereka hidup, seorang biksu wajib berlatih untuk mentransformasi penderitaan, kemudian menghadirkan kedamaian dan suka cita untuk banyak orang di sekelilingnya.

Mereka juga perlu berlatih agar hidupnya lebih indah dan menarik, sehingga mereka tidak mengorbankan dirinya untuk menjadi biksu. Mereka menjadi biksu karena ingin menjadikan hidupnya lebih bermakna dan menghadirkan lebih banyak suka cita lagi bagi orang di sekelilingnya.

“Seorang biksu mengerti bahwa ketika ia mengejar ketenaran, kekayaan, jabatan, dan nafsu keinginan rendah, semua ini akan membawa semakin banyak penderitaan. Karena itu biksu selalu berlatih untuk tidak mengejar ketenaran, kekayaan, jabatan dan nafsu keinginan rendah. Oleh karena itu seorang biksu beraspirasi untuk memperoleh ketenangan dan kedamaian, lebih banyak suka cita, dan lebih welas asih, elemen-elemen inilah yang menjadi faktor fundamental untuk menghadirkan kebahagiaan sejati,” katamu penuh arti.

“Jadi ketika seseorang memutuskan untuk menjadi biksu bukan berarti dia sedang mengorbankan dirinya, justru dia malahan bisa menikmati hidupnya lebih bermakna dan asyik sebagai seorang biksu,” katamu lagi.

Ah Rika, kalimat demi kalimat yang kamu ucapkan, sangat membuatku mengerti. Tadinya, aku berpikir, kamu memilih jalan ini karena kamu frustasi dengan Firman. Tapi ternyata tidak. Kamu sudah melakukan riset ini sejak lama. Sebelum, masalahmu dengan Firman muncul.
***

Sebuah catatan dari situs lain

Baca-Saya

Refleksi adalah sebuah cermin
Cermin yang memantulkan apa pun
Apa pun aktivitasmu
Aktivitasmu nyata maupun maya

Refleksi bersifat memantulkan
Memantulkan semua objek nyata
Objek nyata tertampak jelas
tertampak jelas oleh panca indra

Refleksi bersifat memantulkan
Memantulkan semua objek maya
Objek maya hanya khayalan
Khayalan tak tertampak oleh panca indra

Refleksi mengandung jawaban
Jawaban untuk kegiatanmu
Kegiatanmu yang positif maupun negatif
Positif mapun negatif yang harus dipilih

Refleksi adalah sebuah renungan
Renungan untuk memberitahu
Memberitahu agar tetap sadar
Sadar sepenuhnya terhadap semua aktivitasmu

E N D

Sang Bikkhuni

“Tidak ada gunanya perbedaan agama dipermasalahkan, karena agama merupakan keyakinan tiap-tiap pribadi. Agama adalah jalinan hubungan personal antara manusia dengan Tuhannya”.

Aku betul-betul masih ingat kalimat itu. Kalimat yang kau ucapkan saat terakhir kali kita bertemu. kalimatmu itu, sama halnya dengan “lakum dinukum waliyadin, bagimu agamamu dan bagiku agamakuu”. Kita benar-benar indah saat itu.
*

Cuti tiga hari ini, aku gunakan waktuku untuk mengunjungimu di rumah barumu. Rumah yang menurutmu teramat sangat nyaman dan penuh dengan kedamaian.

Pagi-pagi sekali, aku mengepak beberapa helai baju ke dalam ransel. Aku ingin menemuimu, rindu sekali rasanya. Sudah empat tahun kita berpisah. Aku sunggu ingin bertemu denganmu, melihat hidup barumu di sana.

Jarum jam menunjuk di angka 7 pagi. Aku bergegas memacu motorku menuju rumah barumu. Sekitar 125 km dari arah kotaku dan menyeberangi laut. Aku memilih melewati jembatan Suramadu yang baru diresmikan oleh Presiden SBY tahun 2009. Aku tak menghiraukan cuaca buruk yang sedang melanda kota ini. Yang aku ingin, segera bertemu denganmu dan meminta ceritamu.
*

Enam tahun lalu, aku mengenal sosok Rike. Gadis cantik berkulit putih mulus, bermata sipit, rambut hitam dan lurus. Dia memang anak keturunan. Meski asli Batu, tapi orang tuanya keturunan tionghoa. Kamu lucu dan sangat supel. Kamu juga gak membeda-bedakan strata. Aku suka berteman denganmu.

“Heh, jangan sebut gw tionghoa ya, gw WNI. kesing gw doang yang begini,” katanya, ketika kami bercanda.

Yang lucu, meski kamu ogah sekali dipanggil begitu, tapi kamu sangat paham dan mengerti tata cara dan peradaban tionghoa. Aku jadi ingat, saat aku terserang tipes, tiba-tiba kamu datang ke rumah sambil menyerahkan obat cacing yang kamu beli dari toko obat cina.

“Emak gw yang totok, kalo gw mah enggak banget,” kamu selalu menyela seperti itu.

Kamu memang mengaku beragama Budha, dan lucunya, kamu sangat jarang sekali berkunjung ke kuil-mu. Bahkan mungkin, sang Dewa sudah lupa denganmu. “Ini umatku yang mana lagi ya,” candamu padaku, setelah kamu sembahyang di kuil.
*

Dua tahun berlalu sejak perkenalan kita itu. Kamu mulai menceritakan semua yang selalu mengganjal di otak dan hatimu. Mengenai mama dan papamu yang sudah semakin di makan usia namun tak mau juga pensiun. Mengenai kakak-kakakmu yang sudah menjadi sukses, dan mengenai pacarmu. Ya, pacarmu yang beda agama.

Di sela-sela liputan, kamu selalu bercerita tentang pria itu. Pria yang sangat kamu cintai. Pria yang mengganggu tidurmu, yang selalu mendatangimu di setiap mimpi-mimpimu.

Firman, asli Jombang. Anak seorang pemuka agama di kotanya. Meski anak seorang kiai, namun tingkah laku Firman tidak menurun abinya sama sekali. Sholatnya masih suka bolong, katamu. Ah, bukan urusanku. Toh masalah ibadah, itu urusan makhluk dengan Tuhannya.
*

Kulirik jam di tanganku, sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Aku sudah sampai di perbatasan Bangkalan-Madura. Aku lalu menghentikan laju motorku. Clingak-clinguk kanan-kiri, mencari warung nasi. Sejak sore kemarin, perutku belum terisi nasi. Tak jauh dari tempatku berhenti, aku melihat sebuah rumah makan sederhana. Masih sepi, aku langsung memesan sepiring nasi soto dan teh panas.

“Bu, bisa ikut ke kamar mandi,” kataku pada si pemilik. Aku ingin mengganti jilbabku, gerah sekali rasanya.

“Silahkan mba, sebelah kanan belok kiri ya,” kata ibu itu.

Setelah menyantap habis makanan yang kupesan, aku langsung menyalakan motorku, kupasang slayer, kacamata hitam dan helmku. Sebelumnya, tak lupa aku membuka-buka peta yang kubawa, supaya gak kesasar. Aku harus cepat-cepat, aku gak mau kepanasan di jalan. Setidaknya, butuh waktu sekitar 2,5-3 jam untuk sampai ke Pamekasan, melewati Bangkalan dan Sampang.
*

“Ka, lo udah perna dikenalin sama orang tua firman?,” tanyaku.

“Sudah sih, orang tuanya sepuh banget. Jadi gw gak banyak bicara,”

Kamu juga mengaku jika Firman sudah sering bertandang ke rumahmu di Batu. Orang tuamu menyambut baik kedatangan Firman dan tidak mempermasalahkan hubunganmu dengannya.

“Ortu gw mah, biasa aja. Mereka menyerahkan semuanya sama gw. Asal gw bisa bertanggung jawab,” katamu.

Tapi, yang membuatmu sedih, orang tua Firman tidak mengetahui hubunganmu dengan Firman. Mereka tahunya kalian hanya berteman. Tidak lebih. Dan seeprtinya kamu juga tidak berusaha menjelaskannya pada orang tua Firman.
*

Tiba-tiba hujan deras menghentikan perjalananku. Aku lalu mencari tempat berteduh. Meski bawa jas ujan, tapi aku gak mau ambil risiko. Hujannya gede banget dan disertai angin kencang. Aku memilih berteduh sambil mendengarkan lagu-lagu dari MP4-ku.

“Mau kemana mba,” tiba-tiba seorang lelaki membuyarkan lamunanku.

“Eh, mau ke Vihara Avalokitesvara pak. Bapak tau jalannya? Kira-kira masih jauh gak dari sini?,” tanyaku beruntun.

“Wah mba, masih jauh. Ini masih di Sampang. Kira-kira 1,5 jam lagi dari sini. Dari Pamekasan kota, lumayan jauh,” jawabnya. Aku lalu mengucapkan terimakasih padanya.
*

“Ade, gw pengen crita,” katamu sambil menekuk wajahmu.

Kalau sudah begitu, berarti kamu sedang gusar dan butuh pelampiasan. Sebagai teman baik, aku selalu menyediakan kupingku untuk mendengarkan keluh kesahmu. Meski aku gak bisa memberimu masukan yang berarti, tapi aku selalu menyediakan punggungku. Agar kamu bisa menangis sesuka hatimu.

Kamu mengaku bingung dengan hubunganmu dengan Firman. Yang aku tangkap dari ceritamu, kalian berdua sudah sama-sama klop, saling cinta dan sayang. Tapi yang menjadi masalah adalah agama kalian berdua. Masalah klise memang, tapi harus ada jalan keluar.

“Gw gak mau masuk agama dia. Sepertinya dia juga gak mau pindah agama,” katamu terisak.

“Trus,”

“Tapi gw gak mau bubaran. Gw sayang banget sama Firman de,”

“Orang tua Firman bagaimana?,” tanyaku.

“Tau deh,” tangismu semakin meledak. AKu berusaha sekuat tenaga menenangkanmu.
*

Hujan sudah reda, aku lalu bergegas memacu motorku. paling tidak jam 11, aku sudah harus bertemu denganmu. Masih sekitar 25 Km lagi jarak yang harus kutempuh untuk mencapai Pamekasan. Jarak itu belum termasuk daerah yang bakal kutuju.
*

Rika, aku masih ingat banget, waktu kamu ngotot pengen nikah sama Firman. Tapi kan kalian belum punya kesepakatan untuk itu.

“Gw sudah punya rencana untuk itu,” katamu.

“Rencana apaan?,” aku kaget.

“Rencana hidup gw ke depan. Dengan atau tanpa Firman,”

“Boleh tau?,”

“Apa sih yang gak gw critain ke lo,”

“Gw uda bilang ke Firman, kalo kita jadi nikah nanti, gw maunya nikah di Paramadina,” katamu.

Yah, aku ngerti. Cuma di universitas Paramadina yang bisa menikahkan pasangan beda agama.

“Firman setuju?,” tanyaku. Kamu menggeleng lemah.

“Gw gak tau apa yang dipikirkan Firman, setiap gw tanya masalah ini, dia selalu cuek aja. Dia selalu bilang ini masalah gampang. Umur gw gak muda lagi de, mau masuk 30, tahun depan,”

Lagi-lagi aku hanya terdiam. Aku ngerti banget perasaan kamu Rika. Meski usia aku di bawahmu 3 tahun, tapi aku ngerti.

“Lo sih enak, udah nikah. Oke, aku memang gak terlalu masalahin pernikahan ini. Tapi paling tidak, Firman kasih keputusan. Gw gak mau diambangin kayak gini,” katamu lagi.

“trus rencanamu kalo tanpa firman gimana?,” tanyaku.

Kamu diam saja. Hanya suara tangismu yang terdengar.
*
Tepat jam 9.30 pagi, aku memasuki kabupaten Pamekasan. Aku menghentikan motorku di sebuah warung dan memesan es teh. Tenggorokanku terasa kering. AKu lalu mengeluarkan petaku dan mencari lokasi yang kutuju.

“Bu numpang tanya, Desa Polagan itu mana ya, masih jauh dari sini?,” tanyaku pada pemilik warung.

Ibu itu lalu bertanya pada bapak-bapak di sebelahnya.

“Maaf mba, mau tanya apa. Ibu itu gak ngerti bahasa Indonesia, cuma bisa bahasa Madura,” kata bapak itu.

“Oh..pantesan pak,” jawabku.

“Kalo mau ke Desa Polagan, lewat mana yang dekat ya pak,” tanyaku.

“Wah, masih jauh mba, sekitar 17 kilo lagi dari sini,” jawaban bapak itu membuatku melongo. Jauh juga ternyata, pikirku.

Setelah membayar es teh, aku lalu pamit pada bapak dan ibu tadi. Aku melanjutkan perjalananku. Jam 11 tepat, sampai juga aku di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, Madura. Aku lalu bertanya-tanya kepada warga sekitar dimana letak Vihara Avalokitesvara. Aku lalu melajukan motorku 100 meter ke arah selatan. Dan benar saja, vihara yang dibangun pada abad XVII atau sekitar tahun 1700 Masehi itu sudah ada di depan mata.

Vihara yang dibangun di atas areal seluas tiga hektare itu dibangun sebelum Kerajaan Jambringin yang terletak di wilayah Kecamatan Proppo, Pamekasan, berdiri. Awalnya hanya tiga bangunan, namun lama kelamaan menjadi 15 bangunan. Selain tempat ibadah, di Vihara Avalokitesvara juga terdapat tempat peristirahatan dan ruang pentas kesenian.

Sepintas tempat ibadah umat Budha di Dusun Candi terkesan biasa-biasa
saja, tidak ada yang istimewa, sama seperti tempat-tempat ibadah umat beragama lainnya yang ada di Pamekasan. Namun, dari lokasi yang biasa-biasa saja itulah, simbol dan benih-benih kerukunan umat beragama tertanam. Di vihara itu juga terdapat tempat ibadah umat beragama lain, seperti tempat umat beribadah untuk umat Hindu berupa Pura dan tempat ibadah untuk umat Islam, berupa mushalla.

Aku langsung melangkahkan kakiku ke mushalla, sekedar melepas lelah sebentar sambil menunggu adzan zuhur. Setelah sholat, aku bergegas mencari tahu keberadaanmu. Sedikit bingung memang, aku bahkan gak tahu bagaimana tata cara bertamu di tempat peribadatan agama Budha ini.

Entah apa ini yang namanya jodoh, mataku menangkapmu sedang berjalan ke arah kuil di sebelahku berdiri.
*

Aku kaget dengan keputusanmu saat itu Rika. Benar-benar kaget. Lagipula, apa yang bisa membuatmu berpikir untuk menjadi seperti itu?

“Sudah gw putuskan, gw akan mengambil langkah itu,” katamu yang tentu saja membuatku kaget setengah mati.

“Rika? lo gak salah? Lo gak sedang bermimpi kan?,” tanyaku.

Kamu mengangguk dengan pasti.
*

Meski penampilanmu gak seperti dulu, yang suka pake jeans belel dan rambut acak-acakan, tapi aku masih sangat mengenalmu.

“Rika,” aku berteriak sekuat tenaga. Dan itu membuat beberapa orang yang berada di sekitarku menoleh ke arahku.

Kamu lalu menghampiriku. Tersenyum, sambil terus menunduk.

“Ade, apa kabar,” tanyamu, lembut sekali.

Kamu benar-benar beda Rika. Rambutmu sudah gak bersisa lagi, plontos. Bajumu juga gak seperti dulu. Suaramu, tutur bahasamu dan tingkah lakumu, sangat beda sekali. Kamuj lebih lembut sekarang, lebih kalem dan satu lagi, tidak gampang emosi. Bicara tentang emosi, aku sangat-sangat takjub. Dulu, emosimu sangat mudah tersulut, apalagi dengan narasumber yang sok sibuk dan sok penting. Tapi sekarang kamu beda sekali.

“Ade, kamu apa kabar?,” tanyamu lagi yang membuatku ber-eh eh ria.

“Eh..eh..ya begini ini Rika. Lo….beda banget,” kataku akhirnya.

Tanpa babibu lagi, aku langsung memelukmu erat. Kamu memang berubah, tapi pelukanmu masih sehangat dulu Rika. Aku bener-bener kangen kamu.
Aku lalu memintamu bercerita, kenapa kamu lebih memilih menjadi seorang bikkhuni seperti sekarang ini.

“Aku ke kuil sebentar ya, nanti aku cerita sama kamu,” katamu lalu berlalu dariku.

Lagi-lagi aku terkesima, kamu sudah tidak bilang lo-gw lagi. Semua berubah. Hanya pelukanmu yang masih tetap sama.
*

“Aku sudah putuskan, gw mau jadi bikkhuni aja. Sebodo sama Firman. Gw gak peduli lagi,” katamu penuh emosi saat itu.

“Firman sudah tau keputusan lo?,” selidikku.

“Gw sudah bilang sama dia. Dia cuek-cuek aja. Dan akhirnya gw pilih jalan ini. Jalan yang menurutku penuh dengan kedamaian,” jawabmu.

Kali itu, kamu sudah gak lagi menangis. Mungkin tangismu sudah kau habiskan semalam. Aku masih bisa melihat matamu yang bengap, mungkin kebanyakan nangis.
*

Aku baru tahu Rik, sebelum kamu memutuskan untuk menjadi biksu, ternyata kamu sudah banyak bertemu dengan biksu lain. Kamu mengamati dan mencari tahu bagaimana mereka hidup, seorang biksu wajib berlatih untuk mentransformasi penderitaan, kemudian menghadirkan kedamaian dan suka cita untuk banyak orang di sekelilingnya.

Mereka juga perlu berlatih agar hidupnya lebih indah dan menarik, sehingga mereka tidak mengorbankan dirinya untuk menjadi biksu. Mereka menjadi biksu karena ingin menjadikan hidupnya lebih bermakna dan menghadirkan lebih banyak suka cita lagi bagi orang di sekelilingnya.

“Seorang biksu mengerti bahwa ketika ia mengejar ketenaran, kekayaan, jabatan, dan nafsu keinginan rendah, semua ini akan membawa semakin banyak penderitaan. Karena itu biksu selalu berlatih untuk tidak mengejar ketenaran, kekayaan, jabatan dan nafsu keinginan rendah. Oleh karena itu seorang biksu beraspirasi untuk memperoleh ketenangan dan kedamaian, lebih banyak suka cita, dan lebih welas asih, elemen-elemen inilah yang menjadi faktor fundamental untuk menghadirkan kebahagiaan sejati,” katamu penuh arti.

“Jadi ketika seseorang memutuskan untuk menjadi biksu bukan berarti dia sedang mengorbankan dirinya, justru dia malahan bisa menikmati hidupnya lebih bermakna dan asyik sebagai seorang biksu,” katamu lagi.

Ah Rika, kalimat demi kalimat yang kamu ucapkan, sangat membuatku mengerti. Tadinya, aku berpikir, kamu memilih jalan ini karena kamu frustasi dengan Firman. Tapi ternyata tidak. Kamu sudah melakukan riset ini sejak lama. Sebelum, masalahmu dengan Firman muncul.
***

Sebuah catatan dari situs lain

Baca-Saya

Refleksi adalah sebuah cermin
Cermin yang memantulkan apa pun
Apa pun aktivitasmu
Aktivitasmu nyata maupun maya

Refleksi bersifat memantulkan
Memantulkan semua objek nyata
Objek nyata tertampak jelas
tertampak jelas oleh panca indra

Refleksi bersifat memantulkan
Memantulkan semua objek maya
Objek maya hanya khayalan
Khayalan tak tertampak oleh panca indra

Refleksi mengandung jawaban
Jawaban untuk kegiatanmu
Kegiatanmu yang positif maupun negatif
Positif mapun negatif yang harus dipilih

Refleksi adalah sebuah renungan
Renungan untuk memberitahu
Memberitahu agar tetap sadar
Sadar sepenuhnya terhadap semua aktivitasmu

E N D

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

0 Comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: