Rak Buku - Film - Lagu

Ibuk Vs Ayah

wonder woman
wonder woman

Beberapa hari lalu, waktu ke toko buku Gramedia (tadinya sih cuma mau beliin organizer buat PR III, ternyata mbandang berbuku-buku karena g nahan liatnya -_-“), saya tergelitik untuk membeli buku “ayah”. Begitu saya baca judulnya, dipikiran saya langsung terbersit “waaah, ini buku pasti gak mau kalah dengan buku karangan iwan setiyawan yang judulnya ibuk.”

Sekilasa saya baca bagian sampul belakangnya, cukup menarik. Karena itu saya tertarik.

Sinopsis:

Ayah.. Pemilik Cinta Yang Terlupakan

“Seorang ayah tak akan begitu nampak cintanya. Ia selalu menyembunyikan cintanya di balik kelembutan ibu. Rindunya senantiasa terpendam di balik ketegasannya.

Kasihnya akan terlihat setelah ia tiada. Pesannya akan tersimpan saat kita mengenang kalimat-kalimat pedasnya untuk kita, anak yang selalu ingin dijaga dan diayominya.

Sayangnya begitu sejati di balik kekerasannya, mendidik menjadikan anak-anaknya manusia yang bisa berarti, berguna.

Cintanya sangat utuh bisa kita rasakan ketika ia telah meninggalkan kita selamanya.

Begitu sampai rumah, langsung saya buka plastiknya, saya baca kisah pertama.. Daan.. Tadaaa.. Tidak menarik -_- kecewa juga sih belinya. Buku ini ternyata berisi kumpulan cerita-cerita inspiratif yang dicuplik dari berbagai situs baik di indonesia maupun luar negeri. Tau gitu, saya gak bakal beli! *gondok*

Memang isinya cukup inspiratif sih, tapi gak menyentuh sama sekali. Tata bahasanya seperti buku pelajaran SD. Kaku, gak ada luwes-luwesnya sama sekali. Mungkin kalau buku yang disusun Edelweis Almira ini berupa fiksi yang menceritakan bagaimana sosok ayah yang membanting tulang demi kehidupan dan masa depan keluarganya, disertai dengan drama yang berderai air mata, mungkin lebih menarik lagi.

Buku ini, kalau saya bilang, tidak ada apa-apanya dibanding “ibuk”. Kalau boleh saya nilai, saya beri nilai 3 dari skala 1-10.

Sementara, “ibuk” karya Iwan Setiyawan, mampu menyihir saya untuk membacanya dalam waktu 5 jam nonstop. Kalimat demi kalimat dalam “ibuk” mampu membuat saya berpikir kemudian merasa teramat bersalah kepada kedua orang tua saya.

Dalam kisah “ibuk”, memang si “ibuk” menjadi tokoh sentral. Tapi dalam buku itu tidak melupakan tokoh bapak yang berjuang mati-matian demi mewujudkan cita-cita kelima anaknya.

Sinopsisnya begini:

Ibuk

masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di pasar batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selali klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi ibuk dan bapak.

Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

Iwan setiyawan memang pintar membuat pembaca untuk tidak menutup buku ini sebelum habis membacanya. Kalimat demi kalimat, bab demi bab isinya membuat kita merasa bersalah pada orang tua (setidaknya buat saya) dan berucap beribu syukur kepada sang Maha Pencipta.

Saya benar-benar sampai menitikkan air mata ketika membaca buku ini. Bagaimana seorang ibuk yang masih sangat muda, (ketika menikah, Tinah belum genap berumur 20) harus mengasuh kelima anaknya yang jarak usianya tak sampai 2 tahun. Bagaimana seorang ibuk yang hanya lulusan SD dan bapak yang hanya tamatan SMP mampu mengantarkan anak-anaknya sampai ke gerbang pernikahan. Kecuali bayek, anak laki-laki satu-satunya yang belum menikah hingga saat ini. Di akhir cerita baru diketahui, si bayek adalah sang penulis buku, Iwan Setiyawan.

Buku ini memang sangat menginspirasi saya. Bapak yang hanya sopir angkot mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus kuliah, S2 dan S3, bahkan sampai bekerja di luar negeri (bayek). Kegigihan ibuk, dalam mengelola keuangan yang sangat minim dan mengasuh anak-anaknya, serta menyuntikkan semangat kepada suaminya, patut ditiru. kekuatan doa dan ikhtiar orang tua, jadi jawabannya.

Meskipun hidupnya pas-pasan, tidak menyurutkan bayek dan empat saudara perempuannya untuk giat belajar. Kelima bersaudara itu memang selalu bisa diterima di sekolah dan perguruan tinggi negeri. Hanya anak pertama yang lulus SMA langsung kerja. Itu dilakukan untuk membantu orang tuanya menyekolahkan adik-adiknya. Tapi setelah bayek lulus dari IPB dan diterima kerja di salah satu badan survey (kalau gak salah ingat :D) di jakarta, gantian bayek yang membantu menyekolahkan adik-adiknya. Fyi, bayek itu sarjana statistika.

Kehidupan keluarga sederhana ini menemukan titik baliknya, ketika bayek diterima bekerja di Amerika Serikat. Bayek mulai rajin mengirimkan uang dalam jumlah yang besar ke kampung halamanya di Batu, jawa timur. Rumah yang tadinya kecil, dibangun apik. Adik-adiknya juga disekolahkan tinggi, bahkan biaya pernikahan adik dan mba-mbanya, bayek yang menanggungnya.

Selanjutnya, ya seperti yang ada di tipi-tipi, bayek (iwan setiyawan) membuat buku ini dan 9 summers 10 autumns, dari kota apel ke the big apples. Buku itu bercerita tentang perjalanan iwan setiyawan selama menaklukkan kota New York. Buku itu sudah difilmkan taun kemarin.

Kalau diteladani, memang sosok ibuk itu tiada duanya. Menjadi ibu itu kerjanya 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu nonstop. Tidak pernah minta cuti, meski dalam keadaan sakit. Subhanallah. Memang pantas kalau buku itu, didedikasikan untuk ibuk, tanpa bermaksud mengesampingkan peran ayah.

Kedudukan ibu itu memang sangat mulia. Bahkan Allah, menjamin surga ditelapak kakinya, buat anak-anak yang patuh padanya. Dalam hadistpun, disebutkan, siapa yang harus kita muliakan pertama kali, Rasulullah SAW menjawab ibumu, ibumu, ibumu baru bapakmu.

Perjuangan seorang ibu benar-benar berat. Ia harus menanggung beban selama 9 bulan. Setelah kita lahir, kondisi ibu kita belum 100%  tetapi ia masih rela memberikan asinya. Tahukah kita kalau asi itu mengandung darah ibu kita. yang artinya ia rela memberi sebagian darahnya untuk kita. Subhanallah..

Saya beruntung menjadi seorang perempuan, istri sekaligus ibu. Alhamdulillah..

Bukankah ada yang bilang, di balik pria-pria sukses, ada 2 wanita yang hebat dan tangguh. ibunya dan istrinya. Hidup emak-emak!

Salam 😉

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: