Blog Competition,  Parenthink

I'm (Not) A Perfect Mom

Bismillah.. ini tulisan pertama saya dalam rangka Give Away.. Selama ngeblog 5 tahun, belum pernah ikutan yang namanya give away. Males aja :D. Tapi begitu liat banyak blogger yang dapat bermacam hadiah dari kontes nulis di blog, saya jadi pengen ikutan. Okey.. here we go..

Begitu saya lihat ada GA  yang dipersembahkan oleh mba Evi Indrawanto ini, saya langsung tertarik. Apalagi melihat hadiahnya daftar tulisan yang pernah dipublish. Begitu bongkar-bongkar, akhirnya saya memutuskan menelanjangi diri sendiri dengan tulisan ini.

Abis baca tulisan itu, saya berasa ditampar. Apa selama ini, saya sudah menjadi ibu yang baik buat ara? Kalau mau egois, saya bisa jawab pertanyaan itu dengan kata “SUDAH” yang ditulis gede-gede lalu ditempel di depan pintu. Tapi ternyata, saya salah. Yet, i’m not a perfect mom. Sampai sekarang, usia Ara 3,5 tahun, saya merasa masih jauh dari kata Menjadi Ibu yang Baik. 

Bagi saya, yang masih menyandang status ibu selama 3,5 tahun, menjadi seorang ibu itu susah-susah gampang. Apalagi, seorang ibu yang bekerja macam saya. Bukannya saya membela diri, dengan status saya sebagai ibu pekerja, tapi memang betul adanya. Menjadi seorang ibu yang bekerja itu sangat amat berat.  Masalah utama adalah soal waktu. Rasanya, waktu 24 jam sehari untuk ngurus rumah tangga, anak, suami dan bekerja itu sangat amat kurang.

1

Dari saya hamil, saya sudah ketar-ketir dulu. Apa kelak saya bisa jadi ibu yang baik buat anak saya? Bagaimana caranya saya bisa menjadi ibu yang baik? Kalimat-kalimat itu terus menerus berputar-putar dalam otak saya. Apalagi melihat beberapa berita di tv, ada ibu yang mencampakkan anaknya atau bahkan membuang anaknya yang baru lahir di got atau tempat sampah. Ya Allah..naudzubillah..

Sebagai ibu baru, saya sadar saya masih benar-benar bodoh. Tidak punya ilmu apapun. Tapi zaman sudah semakin canggih. Dan saya gak mau kebodohan itu terus-menerus menyetir saya. Mulailah saya browsing sana-sini mencari ilmu parenting. Tanya ke sana ke mari pada orang yang menurut saya ‘berhasil’ mendidik anak-anaknya. Untungnya, waktu saya hamil, banyak teman-teman yang baru saja melahirkan. Jadi saya bisa mencuri ilmu dari mereka. Setelah berguru ke mana-mana, akhirnya saya menarik kesimpulan, bahwa menjadi ibu yang baik itu gampang kalau kita benar-benar menikmatinya.

Salah satu ilmu yang saya dapat itu dari ibu saya. Working mom dengan lima anak :D. Saya masih ingat, waktu ibu saya masih punya anak tiga (termasuk saya), tidak pernah menggunakan jasa asisten rumah tangga. Semua pekerjaan rumah diberesin sendiri. Baru ketika, ibu hamil anak keempat dan kelima, beliau mempekerjakan asisten rumah tangga. Selama mengasuh kami berlima, saya tidak pernah melihat ibu saya mengeluh, apalagi menangis seperti saya. Ketika saya tanya, apa kuncinya, ibu hanya menjawab “ikhlas dan sabar”. 

Ikhlas melakukan apa saja, termasuk ikhlas dan sabar menerima ketika anak-anaknya sakit keras. Saya masih ingat, ketika saya seumuran ara sekarang ini, nyawa saya hampir tak tertolong karena terkena diare. Dokter mengharuskan saya dirawat di rumah sakit karena kondisi saya yang sudah sangat parah. Tapi, ibu merawat saya dengan penuh kesabaran. Maaf bu, sampai sebesar ini, saya masih saja merepotkanmu.. Hiks..

Sampai sekarang, saya merasa masih jauh dari kata ikhlas dan sabar. Belajar ilmu ikhlas dan sabar itu susahnya luar biasa. Tapi saya, harus bisa. Demi anak dan keluarga kecil saya! Sebisa mungkin, saya sediakan waktu khusus untuk ara. Saya berusaha selalu ada untuk ara. Apalagi, seusia ara, merupakan golden age. Banyak pertanyaan kritis yang diajukan, mengajak main dan sebagainya. Saya berusaha untuk selalu menemani apapun yang ara lakukan.

Tapi yang namanya manusia, meski diati-ati, tetep aja ada yang terlewat. Kadang saya suka keceplosan dan kebablasan. Begitu lihat saya pulang, Ara yang lagi kumat manjanya, langsung ngajak main dan minta ini-itu. Huhuhu.. di luar kendali, kadang saya bisa high tempere gitu. Nolaknya dengan nada tinggi. Meskipun gak lama kemudian saya sadar, lalu buru-buru minta maaf sama ara. Maafin bunda yah sayang *kecup*.

Tapi saya sekarang sudah bisa mengendalikan diri untuk gak marah-marah tanpa sebab lagi di depan Ara, Alhamdulillah.

Nah, persoalan terberat saya dulu, adalah, pada siapa anak dititipkan ketika kita bekerja? Itu bukan soal sepele. Apalagi orang tua dan mertua saya, juga bekerja. Tidak gampang mencari asisten rumah tangga yang baik dan bisa mengerti kemauan kita. Kalau orang bilang, “sekarang ini, nyari istri jauh lebih gampang dibanding nyari asisten rumah tangga.” Mau dititipin di tempat penitipan anak, juga gak tega. Kesannya gimanaaaa gitu. Di’parkir’ pagi, sorenya diambil. Akhirnya dengan berat hati, titip ke tetangga yang emang kebetulan kerjaannya mengasuh anak. Alhamdulillah, si tetangga ini, bisa jaga kepercayaan yang saya dan suami berikan. Anak saya diurus dengan baik dan sentosa.

Saya sadar sesadar-sadaarnya, sampai sekarang, saya masih jauh untuk menjadi ibu yang terbaik buat Ara. Tapi dengan segala keterbatasan dan kekurangan itu, saya berusaha untuk terus berada di samping ara untuk mendidiknya menjadi anak yang salihah. Rabbi habli minasshoolihin.. Saya memang bukan yang terbaik, tapi saya akan berusaha jadi ibu terhebat buat ara. Insha Allah..

mencoba peruntungan di First Give Away: Jurnal Evi Indrawanto 😀

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

0 Comments

  • Evi

    Menurutku tak ada standar jadi ibu yang baik. Semua serba mengandalkan intuisi dan pengetahuan tentang lingkungan anak-anak kita. Dan menurut saya lagi kalau pun kita toh mengaku ibu yang baik, pada akhirnya dampat kebaikan seorang ibu akan terlihat pada anak2nya. Apakah dia anak yang berbahagia atau tidak. Dan saya yakin, begitu seorang ibu mempertanyakan apakah dirinya seorang ibu yang baik, minimal dia sedang berusaha kearah itu.

    Makasih Mbak Eda. Salam sore dari tempat saya 😉

    • eda

      hi mba..

      sepakat dg apa yg diungkapkan mba.. minimal, sy berusaha sangat keras untuk menjadi ibu buat anak saya dan istri yang baik buat suami saya,,

      salam 😉

  • lozz akbar

    selamat belajar ikhlas dan sabar ya mbak.. saya pun juga belajar dengan dua hal tersebut. Insya Allah deh bisa menjadi ibu yang baik buat putera puteri anda

    terima ksaih sudah turut menyemarakkan GA mbak Evi.. sudah tercatat sebagai peserta ya

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: