Kartini Itu Bernama Emak School

Assalamualaikum…

Sekolah mencerdaskan pikiran namun kehidupan di rumah tangga membentuk watak anak itu. Ibu lah yang menjadi pusat rumah tangga.
(RA Kartini, dalam surat kepada Tuan dan Nyonya Anton, 04 Oktober 1902)

Catatan itu saya ambil dari blog seorang mamak beranak lima. Membaca blognya, membuat saya berpikir keras, kok bisa yaa..mengasuh lima orang anak tanpa campur tangan asisten rumah tangga. Saya mana bisa? Ngurus nona kecil plus tuan besar aja, sudah bikin saya kelimpungan setengah hidup. Nah, si mamak ini?

Jadi teringat ibuk saya. Mengasuh kami berlima disambi bekerja, tanpa bantuan ART. Ah.. jadi ingat dosa-dosa saya yang seabreg ke ibuk. Maafkan anakmu ini ibuk. Bahkan sampe segede ini, saya masih saja membebani dan merepotkan ibuk dengan ini itu.

Kalau saja boleh, saya lebih memilih Ibuk untuk dijadikan sumber inspirasi tulisan saya yang ini. Sayangnya, peraturannya harus blogger perempuan. Ibuk saya bukan blogger 😀

Kenapa saya ambil si mamak ini jadi inspirasi saya menulis? Karena eh karena si mamak ketjeh ini beneran menginspirasi saya. *mamaaak..harus bayar saya yes, ini saya promosiin* 😆

Saya jatuh cinta sama mamak ini karena ‘sentuhan tangannya’ ketika mengasuh kelima buah hatinya. Apalagi, kelima anaknya tidak lagi bersekolah. Etapi bukan berarti putus sekolah yah karena mereka adalah pegiat homeschooling. Mereka dengan bangga berkata: “Kami adalah Homeschooler.”  Sudah bisa nebak, kira-kira siapa si mamak ketjeh ini? Apaa? gak denger.. Yang kenceng dikit dong. Apa? Iyak betuul.. Dia adalah mamak Siti Hairul. Sila, jalan-jalan ke blognya dan saya jamin anda akan terpana http://catatansiemak.blogspot.com/ #ihik

courtesy mak irul

courtesy mak irul

Baca judul postingannya yang ini >> Ketika Anak-anakku tidak bersekolah saya jadi mikir *perasaan dari tadi mikir mulu* :p, kira-kira, ngapain itu anak gak disekolahin? Apa disuruh jual koran di perempatan lampu merah sama si mamak? *kemudian dilempar botol plastik sama si mamak*. Pasti banyak yang berpikir, ish..orang tua macam apa yang tega gak nyekolahin anaknya. Atau cibiran semacam ini >> Mau anaknya bodo? Dan tentu saja cibiran-cibiran yang lain.

Saya tahu, homeschooling, bukanlah perkara mudah, apalagi tidak ada kurikulum yang spesifik. Wong, mendidik anak yang disekolahkan umum saja, sulit. Eh, bukan berarti saya gak ngajarin anak tentang pelajaran sekolahnya di rumah lho ya *pembelaan*. 

Dari si mamak ini, saya bisa belajar banyak hal. Tentang bersabar saat menghadapi anak. Tentang bagaimana menghadapi kejenuhan anak saat belajar. Tentang bagaimana belajar langsung pada kehidupan. 

dokumen paribadi mak irul

dokumen paribadi mak irul

Saya merasa ditampar dengan kalimat si mamak yang ini:

Saya berharap banyak agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang terbaik dan bagus. yang ramah anak dan ramah otak. tapi semakin saya menunjukkan kriteria yang saya inginkan semakin kecewa saya dengan kenyataan. semakin saya berharap semakin tinggi dilangit harapan itu menggantung. Seperti kata Ayah Edy penggagas Indonesia Strong From Home     
“Banyak orang berpikir agar Negeri ini bisa berubah mestinya presidennya harus begini, menterinya harus begitu….
Mengapa kita terus berharap pada orang lain, mengapa kita terus berfokus pada apa yg tidak bisa kita lakukan.” (Ayah Edy, Indonesia strong From Home)
Jujur, kalo ditantang untuk berhomeschooling, saya mungkin tidak senekat dan seberani si mamak. Saya masih jauh dari itu. Saya masih enjoy dengan menyekolahkan nona kecil di sekolah pada umumnya. Karena pendidikan sangat penting dan merupakan investasi seumur hidup. Dan saya ingin membekali anak-anak saya dengan sebaik-baiknya bekal ilmu. 
Tentu saja saya tidak seberani si mamak, yang dengan bangga menjelaskan ke seluruh penjuru dunia, bahwa mereka adalah ‘penganut’ homeschooling. Masih ada rasa was-was dan takut dengan cibiran orang. Padahal, homeschooling sudah jamak terdengar. Bukan lagi suatu yang ‘aneh’. Tapi itulah saya, tidak senekat dan seberani si mamak. Dan mungkin, saya masih dibilang egois, karena tidak mau meninggalkan pekerjaan ini, demi anak.
mak irul bersama anak2nya

mak irul bersama anak2nya

Saya mengacungkan 4 jempol saya (2 jempol tangan + 2 jempol kaki) untuknya. Ibu muda dengan lima orang anak yang masih kecil-kecil (eh, dirimu masih muda kan, mak? :P). Salut dengan semangatnya dalam mengenalkan anak-anaknya kepada sang Khalik. Dimana, ketika mendengar adzan, si anak tanpa disuruh langsung lari ambil sarung dan lari ke masjid untuk menunaikan sholat. Subhanallah.. 
Tidak berhenti di situ, si mamak juga berusaha menghantarkan anak-anaknya sebagai hafidz-hafidzah, sebagai penghapal alQuran. Inshaa Allah ya mak.. Saat ini, anaknya yang nomer dua, sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Penghafal Qur’an milik ustadz Yusuf Mansyur di Yogyakarta, demi menjadi penjaga kitabullah. Insha Allah.. Aamiin.. 
Sebenarnya, alasan si mamak ini untuk berhomeschooling sangat simpel. Dia hanya ingin agar anak-anak menikmati proses belajar. Sebenarnya ada beberapa sekolah di yogyakarta yang konsepnya bagus tapi harganya terlalu tinggi dan tempatnya jauh dari rumah. Jika dipaksa, dikhawatirkan ujung-ujungnya, anaknya tidak nyaman. Dan mereka (si mamak dan suaminya) juga bukan termasuk golongan orang tua yang ketat untuk urusan nilai atau ijazah. Dia selalu menekankan kepada anak-anaknya, bahwa rejeki itu dari Allah bukan karena ijazah atau yang sejenisnya. Jadi jika kita selalu bersemangat untuk mempelajari suatu hal dan bersemangat untuk melakukan banyak hal maka pintu2 rejeki akan terbuka.  Selain itu, dia juga menekankan, agar anak-anak mencintai Alqur’an dan berakhlaq mulia.
bersama mantan patjar :D

bersama mantan patjar 😀

Bukan sekolah itu saja yang mendidik hati sanubari itu, melainkan pergaulan di rumah terutama harus mendidik pula!
Dan saya percaya, untuk menciptakan generasi yang unggul di bidang apapun, semuanya dimulai dari rumah, melalui tangan orang tua. Terutama  doa dan kasih sayang ibunda. 
Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Ada Kartini Di Dadamu. 

ps. foto2 saya pinjam dari blognya si mamak tanpa izin 😀

Categories: Blog Competition

No comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: