#KidsTodayProject: Bermainlah Sepuasmu, Nak

Assalamualaikum…

Ada yang bilang, usia balita adalah usia bermain bagi anak-anak. Sebagai ibu dari bocah yang belum genap berusia 5 tahun, saya sangat setuju dengan hal itu. Dan saya juga gak akan memaksakan kehendak saya pada Ara (4,5 yo), meski saya telah memasukkannya ke TK sejak dia berusia 4 tahun kurang. Alhamdulillah, keputusan untuk bersekolah itu adalah murni keinginan Ara, setelah dia merasa puas bersekolah di PAUD, yang ada di komplek rumah kami, selama 1,5 tahun.

bermainlah sepuasmu, nak

bermainlah sepuasmu, nak 😀

Sebetulnya, keputusan untuk menyekolahkannya di usia yang ‘belum cukup umur’ itu juga membuat saya dan tuan besar, was-was. Tapi melihat keinginan kuat nona kecil, akhirnya saya mengindahkan permintaannya. Tapi dengan catatan, jika di tengah-tengah perjalanan sekolahnya, nona kecil terlihat berkurang minatnya atau ada keterlambatan dalam mengikuti pelajaran yang diberikan, kami akan menyetop sekolahnya saat itu juga. Alhamdulillah (lagi), sampai saat ini, tanda-tanda itu tidak ada. Bahkan, nona kecil terlihat sangat bersemangat dan menikmati sekali masa-masa sekolahnya.

ara dengan seragam TPQnya :D

ara dengan seragam TPQnya 😀

Sebagai ibu yang paham betul mengenai perkembangan dan keinginannya, saya tidak lagi menjejalinya dengan belajar ini itu di rumah. Kecuali mengaji di TPQ di masjid dekat rumah, setiap sore, selama 1 jam. Selebihnya, saya membebaskannya bermain, sesuka hatinya.

Tapi nona kecil ini agak-agak ajaib. Setiap saya ada di rumah (entah itu pulang kerja atau waktu libur), dia selalu mengajak saya untuk belajar. Entah itu menggambar, mewarnai, menulis atau bahkan membaca. Dia terlihat sangat rajin sekali. Padahal kadang, emaknya ini yang males ngantuk. Maklum dong, pulang kerja ini alibi :p.

Naik kambing waktu outbond di PAUD

Naik kambing waktu outbond PAUD

Melihat perkembangan nona kecil yang begitu pesat, tentu saja saya sangat bersyukur. Tapi kembali lagi, saya gak melulu menuruti keinginannya untuk belajar dan belajar. Kadang, kalo dia terus-menerus mengajak saya belajar, saya mengajaknya untuk bermain-main. Entah itu masak-masakan, main tebak-tebakan nama hewan dan buah-buahan, atau permainan lainnya. Pokoknya, bermain sambil mengasah kecerdasan otaknya,

Saya juga lebih suka, nona kecil ini bermain di luar rumah bersama teman-teman sebayanya. Dari pada di rumah terus dan nonton tivi atau mainan gadget. Biar dia bisa lebih bersosialisasi dengan lingkungan dan tetangga kanan-kiri rumah.

IMG00077-20120707-1104

Saya gak mau, dia jadi anak yang anti-sosial dan kuper dong ah. Apalagi, kan biasanya anak yang kuper itu, ketemu orang baru aja langsung nangis atau takut-takut gitu. Saya juga gak mau anak saya kerjaannya melulu lihat tivi atau memilih ‘sibuk’ dengan gadgetnya. Akibatnya, ketika ada teman sebayanya, atau orang baru di lingkungannya, si anak ‘ogah’ dan susah membaur.

berani kotor itu baik :D

berani kotor itu baik 😀

Tapi itu bukan berarti saya tidak membolehkan nona kecil untuk nonton tivi dan bermain gadget, lho ya. Setelah tuan besar membelikan nona kecil gadget, saya memberinya waktu untuk bermain dengan gadgetnya itu selama 30 menit dalam sehari. Nonton tivi pun, paling lama 1 jam sehari. Alhamdulillah, peraturan itu tetap kami sepakati sampai saat ini.

bermain bersama sepupunya

bermain bersama sepupunya

Percaya gak? Nona kecil ini lebih dikenal tetangga dari pucuk komplek sampai ke pucuk lainnya, dari pada emaknya ini. Hahaha.. Dia ini memang sangat gampang untuk bersosialisasi dengan lingkungan dan orang baru. Gak heran, kalo si kecil ini lebih banyak fansnya di komplek. Emaknya ini kalah pamor! 😀

berenang di Gili Trawangan, Lombok

berenang di Gili Trawangan, Lombok

Postingan ini diikutkan dalam blog competition yang digelar oleh Rinso Indonesia, untuk mendukung kampanye #KidsTodayProject

Categories: Blog Competition, Parenthink

No comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: