Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

MFF Prompt #20: Lelaki Bayaran

Ini tulisan perdana saya di komunitas MFF yang ala kadarnya. Jumlah kata 454. Semoga berkenan. Ditunggu keripiknya manteman 😉

credit
doc. ghiboo.com

“Aku tak peduli dengan omongan orang, yang penting kita saling mencintai dengan cara kita sendiri,” kata lelaki itu padaku.

Entah sejak kapan rasa ini hadir di diriku. Yang pasti aku begitu tersiksa ketika hendak membunuhnya. Aku tidak bisa tidak untuk memikirkannya. Setiap detik, selalu saja dia, lelaki itu yang menari-nari dalam pikiranku. Pun rasa rinduku kian menggebu. Arrgghh..ini konyol! Lelaki itu, benar-benar mengalihkan duniaku.

Hari ini, tepat setahun aku menjalin hubungan dengannya. Dia yang selalu membuatku melayang-layang tak karuan. Perlakuannya padaku begitu sempurna. Tidak ada yang bisa mengalahkan. Termasuk suamiku yang berpenyakitan.

Besok pagi, aku ada janji dengannya.

“Sayang, aku tunggu di rumahku jam 10 pagi. On time ya.”

“Oke, aku antar Nunik dulu ke rumah temannya. Dandan yang cantik. Luv u.”

Argghh..selalu saja. Aku dikalahkan olehnya. Wanita itu, yang setiap hari ada di sampingmu. Ya sudahlah, yang penting aku masih bisa mereguk kenikmatan denganmu. Meski tidak tiap waktu. Toh aku masih bisa merasakan desah napasmu.

*

“Mas, nanti jemput aku di rumah Dera jam dua siang ya. Trus kita ke rumah papa.”

“Oke, hati-hati ya, jangan lupa makan. Aku ngantor dulu,” lelaki itu kemudian mendaratkan ciuman di kening isterinya.

Lelaki itu kemudian membelokkan mobilnya ke kawasan Pondok Indah. Ke rumah Dona, wanita yang selalu memanjakannya dengan harta melimpah.

*

Pagi ini, Dona terlihat cukup menawan. Guratan-guratan halus di wajahnya sama sekali tidak kelihatan. Siapa sangka jika usianya sudah menjelang senja. Perawatan di salon kecantikan termahal selalu dia lakukan, untuk menjaga penampilan.

“Akhirnya kau datang juga sayang, aku menantikanmu sejak semalam,” kata Dona dengan manja.

Dona terlihat gembira sekaligus bergairah. Tak sabar untuk berpeluk mesra. Mereka terbakar asmara.

*

 “Papa, Nunik datang.”

Lelaki tua yang sudah lumpuh itu terlihat cukup kaget. Butiran bening meleleh di pipinya.

“Papa kenapa? Mama mana? Kok sepi?”

Tak mendapat jawaban, Nunik langsung melangkahkan kakinya ke kamar sebelah. Dibukanya kamar itu..

“Mama! Mas Andi, kalian…”

Pemandangan itu membuatnya terkejut. Pun dengan kedua makhluk yang ada di dalam kamar itu. Nunik lari dengan tangis yang tak bisa dibendung lagi.

Hening. Tidak ada kata dari mereka. Hanya isak tangis Nunik yang terdengar. Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan. Dihembuskan napasnya kuat-kuat.

“Nunik, maafkan aku. Tapi semua ini aku lakukan demi kita.”

“Tak perlu kau minta maaf sayang. Biar perempuan bodoh ini tahu. Kau pikir, darimana duit dan mobil yang dipake Andi hah? Kau pikir dari pekerjaannya? Ya ini. Ini pekerjaan suamimu sehari-hari. Melayani aku, karena papamu yang cacat itu gak bisa memuaskanku” kata Dona sambil menghembuskan asap rokoknya tepat ke wajah Nunik.

“Tega! Mas Andi suamiku, ma dan aku anakmu.”

“Anak tiri, ingat? Aku tidak pernah menganggapmu sebagai anakku. Perceraian kalian sudah aku siapkan. Surat warisan papamu juga. Sekarang kau pergi dari sini bawa papamu sekalian. Pergi!”

***

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

0 Comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: