Parenthink

Moms, Jangan Pernah Membandingkan Anaknya, Yak!

Assalamualaikum…
Apa kabar fans *digaplok*

Lamo tak jumpo. Sayanya malas banar mau apdet blog. Padahal banyaaaaaaaak banget yang mau dishare. 😀

Liat terakhir posting kok ya bulan April tahun lalu 😆 Baru ngeh, bentar lagi waktunya bayar hosting yang harganya makin mencekik *tjurhat*

Oiyes, mengawali postingan blog di tahun yang mau berganti ini, saya mau share pengalaman saya waktu mengikuti Parenting Club, di The Consultant, Sabtu, 5 Oktober 2019 kemarin.

Jadi begini, gengs, saya yakin setiap orangtua pasti ingin punya anak dengan kemampuan yang hebat. Ingin punya anak yang pintar di segala bidang, nurut sama orang tua, rajin beribadah, pokoknya yang baik-baik, deh. Jujur, deh! Iya kan?



Trus kalau lihat ada anak orang yang pinter banget, rajin, nurut sama orang tua, kita jadi suka mikir, “eh, anakku kok gak seperti itu ya. Susah nurut,” atau perasaan-perasaan lain sejenisnya.

Benar apa betul, buebo? Saya sih iya.

Jadi, kemarin waktu datang ke Parenting Club itu, beneran berasa kayak digampar sama si dokter. Semacam dilucuti satu per satu gitu bajunya #eh.

Sebagai orang tua yang baik dan benar, kita seharusnya gak boleh membanding-bandingkan tingkat kecerdasan dan kehebatan anak-anak kita. Karena tingkat pertumbuhan dan kehebatan anak itu berbeda-beda. Tidak bisa disamaratakan.

Misal nih ya, anak saya hebat dalam hal olah raga, tapi belum tentu temannya hebat dalam hal yang sama. Begitu juga sebaliknya. Nah, karena itu moms, jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak lain yang sebaya.

Bagaimana kehebatan anak bisa terbentuk?

Menurut Dr. dr. Ahmad Suryawan, Sp.A(K), kehebatan anak merupakan cerminan dari kompleksitas struktur dan sirkuit otak si anak sendiri. Semakin kompleks sirkuit otak anak, semakin besar kapasitas anak untuk mengembangkan kehebatan kemampuannya. Sehingga, anak hebat dapat diartikan sebagai anak dengan kualitas kemampuan yang melebihi rata-rata anak sebayanya.
 
Nah, kompleksitas struktur dan sirkuit otak anak mulai terbentuk sejak awal kehidupannya, yaitu ketika masih di dalam kandungan, sampai anak menginjak usia dewasa, yakni usia 18 tahun.

Kecepatan tertinggi pembentukan struktur dan sirkuit otak anak terjadi ketika anak masih berada pada usia di bawah 6 tahun, terutama pada kurun waktu usia sebelum 2 tahun (1000 hari pertama kehidupan).


Nah, ada dua faktor yang berperan dalam proses pembentukan otak anak tersebut adalah faktor Nature, atau juga dikenal dengan faktor genetik, dan faktor Nurture, atau juga dikenal dengan faktor pengasuhan. Termasuk di dalamnya asupan nutrisi, stimulasi dan pendidikan yang diberikan oleh orang tua. Kedua faktor tersebut akan berinteraksi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Jadi, kalau kita sering dengar pertanyaan, “Duh, pinternyaa.. Anak siapa sih ini?,” Ya jelas anak emak-bapaknya, lah! 😆

Etapi itu benar, faktor genetik menjadi salah satu faktor yang bisa menurun ke si anak. Tapi tentu saja, hal itu harus diimbangi dengan stimulasi lainnya ya. Ga bisa dong, misal emaknya yang emang pinter banget, tapi si anak ga dididik dan diberi gizi yang baik, ujug-ujug  jadi pinter aja.

Nah, kehebatan anak adalah hasil kerja sirkuit otak. Semakin kompleks jaringan sirkuit otak yang dimiliki oleh seorang anak, maka semakin besar kapasitas anak tersebut untuk belajar mengembangkan berbagai kemampuan hebat lainnya.

Otak anak berkerja atas dasar mekanisme yang sangat rumit dan rapi untuk memproses informasi melalui mekanisme komunikasi antar sel otak (neuron). Komunikasi antar sel otak tersebut akan berjalan melalui transmisi sinyal kelistrikan dan kimiawi (zat neuro-transmiter).


Ini yang penting, menurut saya. Karena sejak di dalam kandungan pertumbuhan otak anak sudah mulai bekerja, jangan sekali-kali mendekatkan HP pada anak, saat anak baru lahir hingga berusia 18 blan. JANGAN! Karena pada usia itu, otak anak bekerja atas dasar kelistrikan. Jadi sinyal telepon, sedikit banyak akan menggangu sistem kerja otaknya.

Coba deh, moms deketin telpon waktu berdering ke TV atau Radio, pasti keluar bunyi semacam dret..dret..dret.. gitu kan? Itu mengganggu banget kan? TV jadi seperti keluar garis-garisnya. Sama dengan otak anak kalau terlalu lama terpapat sinyal HP.

Penilain kehebatan anak

Lalu bagaimana kita menilai kehebatan dan kecerdasan si anak?
Dari awal sudah saya tekankan, jangan sekali-kali menilai anak dengan membandingkan dengan anak sebaya. Karena itu sama sekali tidak fair. Karena penilaian kehebatan anak harus dilakukan secara dini, rutin dan reguler.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menilai tingkat kehebatan dan kecerdasan anak.

DO:
1. Nilai berdasar kemampuan masing-masing anak.
2. Nilai berdasar penilaian reguler dan rutin. Misal, dinilai dibandingkan dengan pertumbuhan bulan lalu.
3. Menggunakan parameter individual

DON’T:
1. Membandingkan anak dengan anak lain yang sebaya
2. Berdasar penilaian swaktu/sesaat
3. Memakai parameter keinginan orang tua semata. Maksudnya, jangan pernah memaksakan kehendak kita pada anak. *iyes, yang ini saya sering banget*

Saya jadi mikir, kenapa anak-anak nowadays -paling tidak, anak saya, deh- banyak yang gak nurut sama orang tua. ABEGE terutama.

Saya ambil contoh anak saya, ya. Jiwa-jiwa berontaknya udah mulai keluar sedikit-sedikit. Sampai kadang saya kesal sendiri, dan berujung ngomel-ngomel dengan intonasi suara naik dan keluar tanduknya.

Kalau sudah begitu, keluar macam-macam ancaman dari mulut emaknya ini. Astaghfirullah… Salah didikan ini mah sayaa 🙁

Jadi kenapa anak gak nurut? Ya karena kita terlalu memaksakan kehendak kita pada si anak! Kita terlalu menuntut macem-macem agak si anak bisa ini-itu semau kita. Maafin bubun ya naaaaaak 🙁

Nah, dr. Wawan memberikan sedikit gambaran, bagaimana agar kita bisa mengimbangi dam mehamami cara berpikir anak berdasar tingkatan usia:

Usia 0 – 1 tahun : I’m what I given
Usia 1 – 3 tahun : I’m what I will
Usia  3 – 6 tahun : I’m what I can imagine
Usia 6 – 12 tahun : I’m what I can learn
Usia 12 – 18 tahun : I’m what I am


Jelas ya boebo, sebagai orang tua kita tidak boleh memaksakan kehendak pada anak. Apapun alasannya. Kita harus mendukung apa yang menjadi kemauan di kecil. Tapi tentu saja dengan arahan yang sesuai.

Last but not least dari dr. Wawan, kehebatan anak harus dilengkapi dengan spiritual biar seimbang. Jadi, pintar saja tidak cukup kalau tidak beriman.

Kalau boleh nambahin nih ya, manner juga harus ditanamkan sejak kecil. Biar apa? Ya biar nilai plus anak kita semakin banyak. Udah salih/salihah, pinter, baik, sopan pula. Orang tuanya pasti bangga.
Ye kan?


Tabik!

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

5 Comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: