Money Talk

Money Talks: Mengatur Keuangan Keluarga

gb pinjam mbah gugel
gb pinjam mbah gugel

Dalam rumah tangga, urusan keuangan menjadi hal yang utama. Apalagi buat kaum adam. Kalau dulu, waktu pacaran, cinta-cintaan aja cukup. Kalau sudah nikah, masak iya anak orang dikasih makan cinta. Gak kenyang, bray. Jadi wajib hukumnya bagi seorang lelaki untuk bekerja dan memberi nafkah untuk keluarganya.

Kalau dalam keluarga kecil saya, pemegang keuangan ada pada saya. Tapi tetap dalam pengawasan suami. Jadi begini, ATM tabungan suami, saya yang pegang. ATM tabungan saya? ya saya jugalah yang pegang. Tapi buku tabungan suami, tetap dia yang pegang. Jadi kalau sewaktu-waktu ada penarikan dana dalam jumlah besar, suami bakal tahu 😀

Kenapa saya yang pegang ATM suami? Karena gaji suami ditransfer.. hehe :p. Ya karena memang saya yang menjabat menteri keuangan di rumah. Banyak juga yang bertanya sama saya, “Suamimu pegang duit dari mana kalau kamu yang pegang ATMnya? Kamu jatah juga?” Jawabnya: Enggak 😀 Itu sudah kesepakatan kami berdua. Semua uang suami, digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tanpa lupa menabung tentunya. Trus suami saya dapat duit dari mana? Suami saya ada penghasilan lainnya, yang halal pastinya. Jadi, uang itu yang digunakan. Pelit amat? Enggak juga. Penghasilan suami saya di luar uang gaji, bahkan jauh lebih besar. Jadi kadang, saya masih suka dikasih duit lagi.

Trus uang gaji saya dipakai apa? Alhamdulillah, gaji saya digunakan untuk keperluan pribadi saya..hehehe.. (yang ini juga kesepakatan bersama, jadi dilarang protes).

Begini Mengatur keuangan ala saya :

1. Bikin wishlist

Biasanya setiap bulan, saya selalu membuat list apa-apa saja yang perlu dibayar dan dibeli. Karena dengan begitu, kalau saya belanja, barang-barang yang saya butuhkan pasti terbeli. Selain itu, untuk menghindari lapar mata..hehehe.. Namanya juga emak-emak, kadang-kadang juga masih tergoda oleh yang namanya diskon. kalau gak bikin list, sudah pasti over budget.

Saya prioritaskan dulu mana yang harus dibayar dan dibeli duluan. Seperti bayar listrik, air, asuransi, beli susu buat ara, keperluan dapur, kamar mandi, itu yang saya dulukan. Belanjanya di awal atau akhir bulan. Untuk keperluan lainnya, beli-belinya bisa di tengah-tengah bulan. Kalau ada waktu senggang sama suami dan ara. Sekalian jalan-jalan gitu. Yang pasti, selama saya belanja, saya gak pernah melebihi budget. Tapi itu semua setelah dipotong zakat 2,5 persen dari total penghasilan yah 😉

Lalu bagaimana dengan beli-beli baju, mainan ara dan semacamnya? Kalau itu, saya gak bisa prediksi. Bisa saja, pas sedang jalan-jalan, ada baju yang lucu dan sreg, langsung saya beli. Entah itu buat saya, ara atau suami. Jadi gak bisa diitung belinya sebulan sekali atau enggak. Kadang juga bisa sebulan berkali-kali.. hehehe.. Kalau ada baju bagus, tapi budget beli baju dari suami saya sudah gak ada, baru saya pakai uang saya sendiri.

Untuk mainan ara, saya itu tergolong ibu yang jaraaaang banget beliin mainan untuk anak. Bukannya pelit, tapi saya lebih memilih membelikan ara buku-buku mewarnai, buku cerita, crayon, atau teman-temannya. Alhamdulillah, ara juga suka. Lagipula, ara juga bukan tipe-tipe anak yang doyan ngumpulin mainan. Apalagi, mainannya ara waktu kecil juga masih banyak dan bagus.

2. Biasakan mencatat

Saya selalu membiasakan diri untuk mencatat segala jenis pemasukan dan pengeluaran. Meskipun 100 perak. Dengan begitu, kita bisa tahu rata-rata cashflow kita tiap bulan.

3. Anggaran lain-lain

Yang ini, saya selalu menganggarkan. Buat jaga-jaga kalau ada keperluan mendadak. Ya, jumlahnya gak banyak sih, tapi wajib ada. Kalau misalnya uang itu gak kepake, ya disimpen aja. Dijumlahkan dengan anggaran lain-lain bulan depannya.

Alhamdulillah, selama ini, suami gak pernah protes soal keuangan. Yang penting, saya bisa membelanjakan uang suami saya dengan bijaksana. Bismillah.. semoga berkah…

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: