Rak Buku - Film - Lagu

ngRectoverso..

Sejak buku ini terbit, saya sudah sukaaaaaaaaaaaaaaa banget bacanya. Tapi gak ngira kalau buku ini bakal difilmkan. Begitu tau hal itu terjadi, saya sudah meminta suami untuk nemani saya nonton. Dan tibalah saat-saat yang ditunggu-tunggu. Semalam, saya nonton film ini, oke cukup preambulenya. saya mau bikin review buat pilem ini..

*

Rectoverso, sebuah film berjenis omnibus. Isinya lima kisah, dengan tagline yang menyayat kalbu*lebay*

Tentang Cinta yang tak Terucap.

Malaikat Juga Tahu.

Diperankan oleh Lukman Sardi sebagai Abang, anak ibu kos yang menderita autis. Meski autis, abang bisa membantu bunda mengurusi cucian warga kos. Abang juga digambarkan piawai bermain biola. Kisah ini bertambah hidup, ketika abang jatuh hati pada salah seorang anak kos bernama Leia yang diperangkan Prisia Nasution. Dari sekian anak kos bunda, Cuma Leia yang bisa mengerti Abang. Hampir setiap malam, Leia menyempatkan diri ngobrol dengan abang di taman. Lambat laun, Abang jatuh cinta pada Leia. Sebagai ibu, bunda sangat cemas mengetahui perasaan abang pada Leia. Karena bunda tahu, hubungan itu tidak akan pernah terwujud. Kecemasan bunda bertambah ketika Hans, adik abang datang. Hans dan Leia sama-sama menaruh hati, dan bunda tau pasti hal itu akan menyakiti abang. Hal itu mendorong bunda untuk menyuruh Leia pindah dari rumah kos mereka. Klimaks terjadi. Begitu mendapati kamar Leia kosong, abang tampak bingung, marah dan puncaknya menangis di pelukan bunda. Adegan ini sangat menyentuh sekali. Lukman Sardi dengan apik mampu memerankan tokoh abang. Bagian yang saya ingat betul, ketika si abang menulis surat untuk Leia “Seratus sempurna. Kamu satu, tapi lebih dari sempurna” Wow banget kata-kata itu. Kalau saya bilang, plot yang ini gak beda jauh dari novelnya 😀

Firasat

Senja yang diperankan Asmirandah mempunyai kelebihan yaitu memiliki firasat jika ada sesuatu yang akan menimpa diri dan orang-orang terdekatnya. Dia lalu bergabung dalam Klub Firasat, di mana setiap minggu para anggotanya berkumpul untuk berbagi cerita dan berbagai pertanda. Ini terjadi sebelum bapak dan adiknya meninggal dunia dalam kecelakaan. Alasan lain yang lebih kuat adalah pemimpin Klub Firasat yang bernama Panca (Dwi Sasono). Seorang lelaki kharismatik yang ketajaman intuisi dan pengalamannya soal mendalami firasat begitu mengagumkan. Senja jatuh cinta pada Panca. Hingga suatu saat ia mendapat firasat buruk bahwa seseorang akan meninggal dan Senja menganggapnya itu bakal menimpa Panca. Ternyata firasat itu untuk dirinya sendiri.

Cicak di Dinding

Taja (Yama Carlos), seorang pelukis muda yang masih lugu, bertemu dengan Saras (Sophia Latjuba), seorang perempuan free-spirit yang jauh lebih tahu dan lebih berpengalaman. Saras memberikan malam yang sangat berkesan saat itu. Tanpa direncanakan, mereka bertemu lagi. Kali ini mereka berusaha membangun pertemanan, meskipun akhirnya Taja tak kuasa untuk jatuh cinta pada Saras. Saras memutuskan untuk pergi, menghilang dari hidup Taja, dan meminta Taja untuk tidak mencarinya. Enam tahun kemudian, Taja telah menjadi pelukis terkenal bertemu Saras di pamerannya, namun Saras membawa kejutan yang menentukan hidup mereka berdua. Saras Adegan paling romantis di bagian ini, pada saat Taja melukis Saras yang sedang tertidur pulas. So sweeeeeeet..

Curhat buat Sahabat

Dua orang sahabat, yang berbeda sifat sama sekali. Amanda yang supel dan ceria mampu menjalin persahabatan dengan Reggie yang sabar, kalem, dan siap mendengarkan curhat Amanda kapanpun itu. Kapanpun Amanda butuhkan, Reggie selalu hadir. Suatu saat, Amanda jatuh sakit. Ia sadar bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa ia mintai tolong bahkan pacarnya. Hanya Reggie yang bisa menolongnya. Pertolongan Reggie membuat Amanda menyadari bahwa yang ia butuhkan selama ini hanyalah orang yang menyayangi dia apa adanya dan orang tersebut adalah Reggie. Namun di lain pihak, diam-diam Reggie mulai menyadari bahwa cinta ini sudah terlalu tua untuk dirinya.

Sebenarnya kurang suka dengan bagian ini. Tapi bagian ini mengingatkan saya pada sahabat baiiik saya yang entah ada di mana sekarang. Bagian ini, akan saya ceritakan nanti :p

Hanya Isyarat

Dunia maya terbukti mampu menyatukan anak manusia, meski hanya sebatas pertemanan belaka. Lima orang backpackers yang bertemu lewat forum milis. Tano, Dali, Bayu, Raga dan Al. Meskipun baru beberapa hari bertemu, Tano, Dali, Bayu dan raga sudah sangat akrab bagaikan sahabat lama, amat kontras dengan Al yang selalu menyendiri dan menjaga jarak. Diam-diam, Al telah jatuh cinta pada Raga, sosok yang selama beberapa hari ini hanya mampu dikagumi dari kejauhan siluet punggungnya saja.

Di suatu malam, kelima orang ini mengadakan permainan kecil, yaitu berlomba menceritakan kisah paling sedih yang mereka punya. Saat Raga menceritakan kisahnya, Al semakin terpukul. Meskipun Al keluar sebagai pemenang, namun Al semakin terseret pada daya tarik Raga, lelaki yang mungkin tak akan pernah ia miliki selamanya karena sebuah rahasia besar dalam diri Raga. Kata-kata yang keluar dari mulut Al, supeeeeeeeer banget. Kurang lebih begini:

Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta…Namun orang itu hanya mampu aku gapai sebatas punggungnya saja…Seseorang yang hadir bagai bintang jatuh, sekelebat kemudian menghilang, sebelum tangan ini sanggup mengejar…Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat, sehalus udara, langit awan, atau hujan…

Yang pernah ngalamin apa yang dialamin Al, pasti langsung nangis begitu dengar kalimat itu :p

*

 Dari kelima kisah itu, yang paling saya suka adalah malaikat Juga Tahu dan Hanya Isyarat. Yang agak gak sreg itu Cicak di Dinding. Soalnya di novelnya ditulis, perempuannya polos banget, gak pas kalau diperankan oleh Sophia Latjuba. Yang sayang banget, ada kalimat di buku yang menurut saya oke banget, tapi tidak ada di filmnya ”saya jatuh cinta sama lukisan kamu pada pandangan pertama, kedua, dan  seterusnya sampai mati”. Ceritanya sama di novel, lumayan beda sih untuk kisah ini. Yang tidak saya suka adalah Curhat buat sahabat. Aktingnya terkesan lebay, meski memang sosok Amanda karakternya seperti itu.

Meski saya gak suka cerita curhat buat sahabat, tapi saya merasa sediiih banget. Kenapa? Karena ceritanya mirip-mirip sama saya. Mengingatkan saya pada sahabat lelaki saya, yang sekrang entah ada dimana. Hey kamuu.. kamu dimanaaaaa?? Kangen tauuuuuuuuuu.. gak pengen apa ketemu saya? 🙁

Btw, secara keseluruhan, film ini bagus banget. 4 jempol buat semua yang terlibat di dalamnya (termasuk jempol kaki yah :p) kalau banyak yang bilang film ini bikin air mata mengalir, tidak demikian dengan saya. Karena sedikitpun saya tidak menangis. Ya iyalah, wong saya lebih merhatiin ara yang main-main di sebelah saya. Hehe.. saya liat ini sepaket sama suami dan putri kecil saya. So sweet kan :p

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: