Lombok Trip Day 1: Nostalgia di Desa Sade

Assalamualaikum…

Apa kabar liburan kalian kemarin? Alhamdulillah.. liburan saya super duper menyenangkan! Jadi ceritanya, 24-27 Maret kemarin, saya dan Ara (plus penumpang cabutan) menyelesaikan ‘tugas’ liburan, hadiah dari telunjuk competition ke LOMBOK! Yeay! Tentang penumpang cabutan ini, bakal saya ceritakan di postingan terpisah. ceritanya biar bikin penasaran ­čśŤ

Dari Surabaya, saya┬áberangkat pakai pesawat jam 9.30, trus nyampe Lombok jam 11.30. Kok bisa lama, kan Surabaya-Lombok cuma sejam. Ya kan, Surabaya Lombok beda┬ásatu jam, duluan Lombok. Jadi kalo di Surabaya jam 11, di Lombok sudah jam 12. See….

IMG_20160324_123057

Sampe Bandara International Lombok,┬ásaya langsung mencari-cari nama saya yang ditulis di kertas. Gak makan waktu lama sih, langsung ketemu sama guidenya yang baiknya kebangetan. Trus, foto-foto dulu. Ya kan, dulu waktu tahun 2013 ke Lombok, gak sempet foto-foto di depan bandara soalnya datangnya malam, jadi ya noraknya belakangan.. hehehe…

IMG_20160324_132448

Day 1: Sasak Tour

Abis itu, kami langsung dibawa ke Desa Sade. Itu lho, Desa adat Suku Sasak yang penduduknya adalah suku asli Lombok Barat. Tahun 2013, sebenarnya saya sudah pernah menginjakkan kaki di Desa ini. Saya juga masih hapal banget dengan sejarah ataupun cerita-cerita terkait suku sasak ini. Jadi, misi utama saya datang ke Desa Sade adalah bertemu si mbah pemintal benang.

foto yang saya ambil tahun 2013

foto yang saya ambil tahun 2013

Kali pertama, saya disambut sama guide yang merupakan penduduk lokal, terus dia cerita ini itu. Hmmm… tanpa basa basi, saya langsung potong omongan dia. “Mas,┬ásaya udah pernah ke sini tahun 2013, jadi saya masih inget semua ceritanya. Saya cuma pengen ketemu sama si mba yang biasanya mintal benang.” Beruntung, si masnya gak baper atau gimana. Dia malah bersyukur, karena dia gak perlu ngomong dan cerita sampai yang berbusa-busa tentang suku sasak, kan yes.

IMG_20160324_125920

foto yang saya ambil kemarin, smoga panjang umur dan berkah, mbah!

Tapi tetep aja┬ásih, alur tour Desa Sadenya searah dan sejalan. Jadi ya, tetep saya ikutin aja deh.┬áSuasananya masih sama dengan 3 tahun lalu, waktu saya mampir ke sana.┬áBeberapa orangnya juga masih tetap sama. Terutama si mbah yang menjual syal┬átenun. Alhamdulillah.. si mbah masih panjang umur. Masih seperti┬átahun 2013, si mbah penjual syal tetap duduk jongkok di depan rumahnya yang kecil.┬áDan saya menyesal, gak beli syal dari si mbah. Saking excitednya. Maaf ya mba.. Smoga rejekinya makin banyak dan berkah. ­čÖü

Si Mbah Pemintal Benang itu Berpulang

Trus, saya tanya si mas lagi, si mbah pemintal benang.┬áSaya diajak jalan sebentar, dan di situlah tempatnya. Tapi si mbahnya gak ada. Setelah saya tanya sama masnya, barulah dia jawab, “Sekarang dia digantikan cucunya. Neneknya sudah meninggal.” Innalillahi wa inna Ilaihi Roji’un. Rasanya.. sedih! Niat saya dari awal datang ke Lombok mau bertemu si mbah. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Waktu saya ke sana, sudah 7 harinya si mba meninggal.

si mba pemintal benang yang berpulang. foto saya ambil tahun 2013

si mba pemintal benang yang berpulang. foto saya ambil tahun 2013

 

cucu si mbah pemintal benang, yang saya temui kemarin

cucu si mbah pemintal benang, yang saya temui kemarin

Kalau dulu, saya bercerita tentang tradisi pernikahan suku sasak, kali ini saya cerita tradisi kematiannya.

Seperti tradisi orang meninggal pada umumnya, perlakuan jenazah juga sama seperti tradisi Islam. Karena mayoritas suku sasak beragama Islam. Mulai dari pemandian jenazah, hingga pemakaman, semuanya sama. Setelahnya, juga ada pengajian yang digelar selama 9 hari. Kalau umumnya disebut tahlil, maka suku sasak menyebutnya dengan dzikir.

Dzikir digelar mulai hari pertama atau disebut Jelo mate, hari ketiga (nelung), hari ketujuh (mitu), hingga hari ke-9 yang disebut nyiwak. Tujuannya sama, mendoakan jenazah. Waktu tahlil, warga yang ikut mendoakan hanya disuguhi kopi dan makanan ringan. Berbeda dengan di Jawa, yang selalu ada makanan yang dimakan di tempat, bahkan dibawa pulang. Sementara di kuburan, juga harus ada keluarga yang menjaga makam sampai hari ke-9.

Setelah itu, pada hari ke-9, baru digelar begawe. Keluarga memotong 1 ekor sapi yang kemudian dimasak dan dibagi-bagikan kepada warga yang ikut serta membantu proses pemakaman dan pengajian jenazah.

Kemarin saya tanya sama cucunya si mbah, meninggalnya sakit atau apa. Ternyata si mbah meninggal karena memang sudah sepuh. Sebelum berpamitan sama si cucu, saya sempatkan untuk membeli beberapa gelang kapas. Semoga khusnul khotimah, mbah.. Aamiin..

Belajar Nenun di Sukarara

 

Setelah ke Desa Sade, kami melanjutkan perjalanan ke pusat kerajinan tenun di Desa Sukarara. Karena perjalanan ke Sukarara juga kali kedua, jadi saya pun tak berlama-lama di sana. Hanya kembali mencoba belajar nenun di sana. Meski udah belajar dua kali, tetep aja gak bisa nenun. Belajar nenun itu susyah, jendral!. Abis itu, dilanjut melihat kain-kain hasil tenunan yang sudah didisplay di galeri, dan berfoto di lumbung padi.

Harga kain tenun yang dijual bervariasi. Tergantung dari motif, benang yang digunakan dan lamanya waktu pengerjaan. Semakin rumit motifnya dan makin lama waktu pengerjaannya, semakin mahal harganya. Rata-rata, harga yang ditawarkan di Sukarara, paling murah seharga 300 ribu, untuk satu lembar kain tenun yang biasa. Bahkan waktu saya tanya, harga per meternya ada yang mencapai 2 juta. Luar biasa!

IMG_20160324_161317

Belajar nenun memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Tapi itu merupakan suatu kewajiban buat anak perempuan di sana. Kalo belum bisa nenun, mereka tidak boleh nikah. Jadi, mereka diwajibkan belajar nenun sejak umur 9 tahun. Untuk songket, yang mengerjakan mayoritas adalah perempuan. Tapi untuk kain tenun yang dijual meteran, biasanya dikerjakan oleh laki-laki. Tapi sayangnya, waktu saya tanya ke guidenya tentang alat tenun yang gede itu, ternyata sudah tidak ada.

Narsis dulu di lumbung padi Desa Sukarara :P

Narsis dulu di lumbung padi Desa Sukarara ­čśŤ

 

Seruu kaaaan! Ikuti terus yaa.. trip to Lombok-nya si nyonya labil yang disponsori tripvisto.com dan telunjuk.com… ~ xoxo

 

Luv,

signature eda ungu

Categories: Jalan2-makan2

25 comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: