Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

Overflow..

 

 

Aku kira, kita tidak akan pernah mampu bertukar bahasa verbal untuk sekedar menyapa. Mungkin karena kita sudah terbiasa dengan bahasa versi kita sendiri. Bahasa dimana tawamu lebih keras jika disuarakan. Aku akui aku yang sering kehilangan ekspresi jika tatapan itu tiba-tiba harus terpasung di depan hidungku.

Aku akan cerita saat-saat terbodohku. Saat tak ada satu bahasa pun yang bisa tersampaikan. Saat kemarin kau berkata “hei…,” dan memastikan pupil mataku ada pada tempatnya. Melihatmu yang berkata hei itu.

“Eh, Hei juga..,” jawabku. Ah itu bukan jawaban sepertinya, cuma kata yang sama yang kudapatkan beberapa detik lalu, itupun darimu.

Aku terlalu bodoh saat itu. Saat dimana aku harus kehilangan ekspresi dan hanya terdiam melihat punggungmu menjauh. Aku hanya sempat memaknai jejak langkah yang sengaja kau tapakkan pelan-pelan, yang menggambarkan betapa dan betapanya aku.

Berlebihan mungkin aku menulis satu segmen ini dengan sedikit meluap-luap. Padahal sebenarnya cuma segmen singkat dimana kau meneriakiku tak lebih dari satu kata dengan sangat pelan-pelan, menggantung tatapan dan menelanjangi mataku. Tidak ada yang istimewa sedetik setelahnya.

Kau cuma melangkah pergi dan menitipkan segaris senyum yang masih kugenggam sampai saat tulisan ini terbahasa. Tidak ada yang istimewa selain punggungmu yang berjalan menjauh, yang untukku manis sekali. ah…sudahlah.. ini hanya sementara saja kan? anggap saja demikian.

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: