• Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Aku Suka Caramu…

    Sepertinya, aku pernah merasakan rasa ini lagi. Rasa yang lima tahun lalu, pernah aku rasakan. Saat pertama kali mengenalmu, lelakiku. Yah…rasa yang selama ini, terus menerus kupupuk dan kusiram dengan doa dan air mata.. sekaranglah aku merasakan saat yang tepat untuk memanennya. Rasa yang tumbuh begitu luar biasa kepadamu, kekasihku. Aku ingin menjadi udara yang kau hisap setiap kali kau bernafas. Kau adalah petualanganku yang terhebat Ayah..ingatkah kau..saat aku marah..kamu lebih memilih untuk diam… Aku suka caramu membuatku tersenyum, saat hari ku kelabu Aku suka semua perhatianmu padaku Aku suka caramu menjaga diriku Aku suka Caramu melihatku, caramu bicara, berpikir, mengatupkan bibirmu bahkan caramu menggosok gigimu, membenahi rambut, memejamkan mata,…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    White Musk

    “Perkenalkan, nama saya Friska, Friska Arunastimey. Saya pindahan dari SMAN XY di Jakarta….,” Belum selesai aku memperkenalkan diri di depan kelas, tiba-tiba ada cowo yang menyelaku. “uda punya pacar belum?,” kata cowo itu. Aku mendelik ke arahnya. Duh…ini anak bener-bener pingin gw bejek. Sok kenal pula, gak ada sopan-sopannya banget, memotong pembicaraan orang. Aku memilih tak meladeninya. “Sudah-sudah, cukup perkenalannya,” untung saja bu tiwi segera menyudahinya. “Friska, kamu duduk di sebelah Dion ya, tuh bangku sebelahnya masih kosong,” kata bu Tiwi lagi. “Dion yang mana bu?,” tanyaku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang gak gatal. “Sini, sini. Lo duduk sebelah gw. nama gw itu Dion,” jawab cowo yang menyelaku tadi. Omigot…kenapa harus…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Bukan Laskar Pelangi

    Cerita ini didedikasikan untuk Nila Pungky Ningtias, alumnus ITS yang rela menjadi pengajar muda angkatan I di pedalaman kabupaten tulang bawang barat, Lampung Here We go….. * Suatu sore, sebelum senja. Rani, seorang muridku yang biasa saja. Teramat biasa, tidak menonjol dan sangat pendiam. Tiba-tiba dia datang berkunjung ke rumahku. Padahal hujan sangat deras. Awalnya, kukira dia hanya ingin berteduh. Setelah kuajak masuk dan mengeringkan badannya dengan handuk, dia kujamu dengan segelas teh hangat di meja makan. “Bu Nila..katanya mau pulang ke jawa ya?,” Rani membuka pembicaraan sore itu. “Hmm…Insya Allah setahun lagi kok, kenapa Ran?,” “Memangnya kalo gak setahun lagi gak boleh ya bu?,” Aku hanya melempar senyum kecil.…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Sang Bikkhuni

    “Tidak ada gunanya perbedaan agama dipermasalahkan, karena agama merupakan keyakinan tiap-tiap pribadi. Agama adalah jalinan hubungan personal antara manusia dengan Tuhannya”. Aku betul-betul masih ingat kalimat itu. Kalimat yang kau ucapkan saat terakhir kali kita bertemu. kalimatmu itu, sama halnya dengan “lakum dinukum waliyadin, bagimu agamamu dan bagiku agamakuu”. Kita benar-benar indah saat itu. * Cuti tiga hari ini, aku gunakan waktuku untuk mengunjungimu di rumah barumu. Rumah yang menurutmu teramat sangat nyaman dan penuh dengan kedamaian. Pagi-pagi sekali, aku mengepak beberapa helai baju ke dalam ransel. Aku ingin menemuimu, rindu sekali rasanya. Sudah empat tahun kita berpisah. Aku sunggu ingin bertemu denganmu, melihat hidup barumu di sana. Jarum jam…