Jalan2-makan2,  Love of My Life

Pengalaman Terbang Pakai Pesawat ATR

Last but not least, ini oleh-oleh saya dari liburan ke Lombok. Setelah kurang puas liburan ke Lombok selama 3 hari 2 malam, sore itu, 19 Mei 2013 sekira jam 4 sore, saya harus kembali ke Surabaya. Berbeda dengan berangkatnya yang menggunakan pesawat boeing, penerbangan kali ini menggunakan pesawat ATR 72. Tau kan pesawat ATR? Kata wikipedia ATR 72 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop yang dibangun perusahaan pesawat Perancis-ItaliaATR. Pesawat ini memiliki kapasitas hingga 78 penumpang dalam konfigurasi kelas tunggal dan dioperasikan oleh dua kru penerbang.

ATR 72
ATR 72

Nah, karena ini kali pertama saya naik pesawat kecil, jadi pas naik agak-agak merinding disco. Begitu juga dengan suami dan anak saya, ara. Jujur, saya takut pas tau naik pesawat ini. Apalagi cuaca waktu itu tidak bersahabat. Mendungnya gelap sekali. Sudah gitu, petir sudah mulai menyambar-nyambar.

Awal tau naik pesawat ini, Ara langsung nanya, “Bund, pesawatnya kok kecil?” Ya, saya jawab aja, karena penumpangnya gak sampai seratus, makanya pakai pesawat kecil. Dan ternyata betul sodara. Yang naik gak sampai 70 orang. Masih banyak bangku kosong. Karena kami bertiga, sementara duduknya 2-2, akhirnya salah satu dari kami (saya atau suami) harus mengalah duduk sendirian. Gak mungkin kan kalau ara yang disuruh duduk sama orang lain :p. Akhirnya diputuskan suami yang duduk sama ara, sementara saya duduk dengan orang lain. Saya dapat bangku agak depan, sementara suami dan ara duduk dua baris di belakang saya.

Penerbangan kali ini, lebih lama 10 menit dari penerbangan waktu berangkat. Ya, karena pakai pesawat kecil yang terbangnya gak lebih dari ketinggian 16 ribu kaki di atas permukaan air laut. Makanya waktu tempuhnya lebih lama.

Waktu take off, gak kerasa apapun, sama seperti naik boeing. Tapi begitu pesawat sudah stabil di ketinggian 16 ribu kaki, barulah terasa. Karena (lagi-lagi) pesawat kecil, goncangan2 saat menabrak awan jadi lebih kerasa. Selama di mengudara, kepala saya benar-benar pusing, perut mual. Mungkin goncangan dari pesawat. Sementara ara, si kecil ini malah jalan-jalan dari tempat duduknya, ke tempat duduk saya. Dua kali! Pertama, untuk bilang ke saya kalau dia kangen dan takut naik pesawat kecil ini, kedua bawain saya makanan kecil dan nyuapin ke mulut saya.. hahaha.. pinter banget nih anak. luv u girl :*

narsis dulu :p
narsis dulu :p

Setelah terombang-ambing selama 1 jam 10 menit di udara, akhirnya pesawat mendarat juga dengan baik. Softlanding lah 😀 Setelah berkumpul lagi dengan suami dan anak serta barang bawaan #halah, barulah suami cerita kalau Ara tadi beneran mabok waktu di pesawat. hahaha.. mabok tapi masih sempet-sempetnya jalan ke bangku saya dan nyuapin saya makanan…

Masuk bandara juga gitu, si ara langsung minta ke kamar mandi. Katanya pengen muntah. Tapi ternyata enggak. Cuma mual-mual aja.. Keluar bandara, seperti biasa, kami antre panjang dan lama dulu beli rotiboy kesukaan ara..

Sakit 🙁

Sampai rumah, langsung bobok karena capek.. Bangun pas subuh, pegang badan ara panas.. mungkin karena kecapekan.. hiks… Karena temp masih di bawah 38, saya cuma kasih obat penurun panas. Besoknya, panasnya tak kunjung turun, malah naik. Malamnya, buru-buru saya bawa ke dokter dan langsung dikasi obat penurun panas rektal karena panasnya 39 lebih. Sampai rumah, panas ara turun. Tapi besok paginya naik lagi. Saya takut kalau-kalau ara kena typus atau DB karena lagi musimnya. Tapi saya terus berdoa, supaya hal itu tidak terjadi. Saya masih bertahan, memberi ara obat dari dokter sampai habis. Dua hari kemudian, panas ara turun. Ara sembuh, sudah lari-larian seperti biasanya. Alhamdulillah..

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

0 Comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: