Parenthink

Perkara Usia

Assalamualaikum..

Minggu kemarin, waktu dalam perjalanan pulang abis jemput nona kecil liburan di rumah nini’nya, dia berceloteh sebel gitu. Kebetulan waktu itu, saya dan tuan besar jemputnya sama ngajak dua keponakan, anaknya adik saya. Entah dari mana awalnya, tiba-tiba si kecil ini ngomel-ngomel gak jelas.

“Sodaramu itu, siapa itu yang kecil itu, benci aku,” kata si kecil ke dua sepupunya.

Saya yang dengar langsung nyeletuk, “kaget kenapa?” Dan jawabannya klise. Karena nona kecil ini dipanggil ‘adik’ sepupunya dua ponakan saya itu. Yang masih menurut pengakuan nona kecil, umurnya masih jauh di bawahnya. “Masa aku dipanggil adik, bun. Kan besar aku dari dia. Anak itu lho masih paud.”

Saya dan tuan besar yang lagi nyetir, langsung terkekeh. Kemudian saya timpali, “Kan enak, diapnggil adik. Jadinya ara berasa muda terus, kan?”

Tapi kayanya nona kecilnya gak terima. Dia mintanya dianggap lebih senior dari si anak kecil itu. “Mestinya kan dia manggil kakak atau mba!” Sambil bibirnya menyun-menyun gitu. hahaha..

Owalah naak.. gitu aja toh. Bubun dan teman-teman aja berebutan dipanggil kakak daripada dipanggil ibu atau bunda. hahaha.. Meski emang usia itu gak bisa boong yes..

Iya, saya paling sebel kalo jalan di mol, terus mampir ke salah satu toko, terus dipanggil ibu atau bunda. Terutama kalo pas belanja di lorong susu dan keperluan baby. Wuidih! begitu dipanggil dengan sebutan bunda, langsung pasang tampang sinis. “Sejak kapan saya kawin sama ayahandamu? Hah?!” deramah Wong, mahasiswa di sini aja kalo panggil saya ibu, langsung saya benerin begini >> “manggilnya mba aja ya, Saya masih muda.”

Emang repot ya. Di waktu kanak-kanak, kita buru-buru ingin besar dan tentu saja di sini senioritas berperan. Saya masih ingat, waktu masih kecil dulu juga seperti ara. Selalu merasa sudah besar dan harus di’tua’kan. Tapi sekarang, usia udah seperempat abad lebih, masih pengen di’muda’kan. Ya.. dasaarnya EMANG MASIH MUDA sik. ๐Ÿ˜€

Ngomong-ngomong soal usia, kita ga ada yang tau kan ya, seberapa lama kita hidup di dunia ini. Berapa bonus usia yang bakal diberikan Allah sama kita. Mengingat nabi Muhammad meninggal di usia 62. Kita sebagai umatnya, palingan gak jauh-jauh beda sama usianya.

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati – QS. Ali Imron 185

Kenapa saya hubungkanย kekesalan anak saya perkara usia dengan perkara kematian, ya karena memang ada hubungannya.ย Ya kalo ga adaย hubungannya, ya dihubung-hubungkan aja :p

Apalagi, dua hari berturut-turut ini, saya menerima kabar duka. Kemarin, salah seorangย Dosen di kampus yang menghadap Allah. Barusan saya nulis ini, juga ada kabar suaminya kepala Biro meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

suasana persemayaman jenazah di Plasa dr. Angka ITS in sha Allah khusnul Khotimah..
suasana persemayaman jenazah dosen di Plasa dr. Angka ITS
in sha Allah khusnul Khotimah..

Lalu, apakahย saya sudah siap jika ajal menjemput? Amalan apa yang bakal saya bawa menghadap sang Pencipta?

moslem โ€ข a daughter โ€ข a sister โ€ข a wife โ€ข a moms โ€ข a friend โ€ข jalan-jalan enthusiasm โ€ข emak-emak beud โ€ข am blessed

0 Comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: