Love of My Life

Pulang (Kampung)

gb dipinjam dari suaramerdeka.com

Lebaran, sepertinya tak pernah lepas dari yang namanya tradisi mudik (pulang kampung). Meski tidak semua pemudik pulang ke kampung (baca: desa, red). Sebab, ada beberapa pemudik yang balik ke kota (besar) asalnya.

Jujur saja, sejak dulu, saya tidak pernah merasakan yang namanya pulang kampung. Dari lahir saya sudah tinggal dan dibesarkan di Surabaya, kota tercinta. Jadi, saya tidak pernah merasakan yang namanya kena macet di jalan, antre dan berdesak-desakan di terminal, stasiun atau bahkan di dalam kendaraan umum.

Menurut beberapa teman yang sempat saya tanya-tanya, rata-rata mereka mengaku menikmati saat mudik. Meski harus rela dengan ‘penderitaan’ itu. Justru di situ asyiknya. Antre saat beli tiket, kena macet sampai harus berdesak-desakan.

Hmm.. jadi pengen ngerasain yang namanya mudik lebaran. Memang sih, si mbah (nenek suami saya) masih ada dan tinggal di Trenggalek. Tapi untuk mudik lebaran, enggak dulu kali ya. Selain jalur rawan macet, juga pertimbangan untuk anak saya yang masih berumur 3 tahun. Maybe next Idul Fitri. Maaf ya mbah, bukannya gak mau ke sana. Tapi nanti aja setelah lebaran. Kan gak macet 😀

Mungkin juga, mudik lebaran itu sungguh menyenangkan. Bisa berangkat bareng-bareng keluarga ke tempat di mana kita lahir dan dibesarkan. Setelah bertahun-tahun merantau di tempat lain. Di tempat tujuan, biasanya disambut oleh sanak saudara yang sudah lama tidak kita jumpa.

Yang saya sukai saat melihat pemudik itu, apalagi pengguna motor, adalah barang bawaan yang bejibun! Mereka seeprti tak habis akal untuk menyiasati barang bawaannya di atas motor. Padahal ‘ruang’ motor itu sangat-sangat terbatas. Dengan lihainya, mereka mengikat dua batang kayu di belakang jok. Kemudian, tas berukuran besar diletakkan dan diikat di atasnya. Belum lagi dengan anak-anak kecil yang biasanya mereka bawa. Saya pernah lihat, sebuah motor bisa mengangkut dua orang dewasa dan dua orang anak-anak plus barang bawaan. Hebat! cuma itu yang ada di benak saya. Hehe..

Tradisi mudik, seeprtinya juga tak bisa lepas dengan ‘masalah’. Setiap ada kata ‘mudik’, selalu dibarengi kata ‘kecelakaan’. Yupz. Coba perhatikan di media. Setiap hari selalu ada saja kecelakaan yang terjadi. Entah itu memang karena kondisi jalannya yang rusak, sampai disebabkan oleh pengguna jalannya yang mengantuk atau kelelahan.

Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah…jeng..jeng..jeng.. biaya yang harus dikeluarkan. Coba saja diitung. Berapa kocek yang harus dirogoh selama mudik. Dimulai dari biaya transportasi, akomodasi sampai sekadar meninggalkan uang saku bagi sanak famili. Untuk urusan duit, no problemo-lah kalau kata saya. Wong cuma setahun sekali ini. Kan ada bonus THR dari kantor. Sudah selayaknya kita berbagi dengan saudara :p

Nah bagian ini yang paling saya suka kalau mudik lebaran. Adalah sepinya kota saya tercinta. Bener banget! Selama lebaran, sudah bisa dipastikan, jalanan di Kota Surabaya akan lengang se lengang-lengangnya. Mungkin, saat itu, saya bisa gulung-gulung di jalanan karena saking sepinya. hehehe…

Tapi apapun itu, tradisi mudik lebaran memang sudah mendarah daging di republik ini dan tak bisa dilepaskan. Jadi… apakah kalian sudah packing dan siap untuk ‘bertempur’ di jalanan?

Selamat mudik, smoga selamat sampai tujuan..

Salam 🙂

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: