Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

Ranu Kumbolo in Love


Januari 2006
Aku terus memandangi bunga abadi itu. Pemberianmu ketika kita jadian dulu. Sudah dua tahun berlalu, tapi aku masih menyimpannya di vas bunga warna ungu kesukaanku. Kalimat pemberianmu dulu juga masih teringat jelas di benakku. Ah, kenapa aku tak juga bisa melupakanmu?
*

1 Desember 2003
Aku mengecek semua keperluanku untuk bisa bertahan hidup selama 4 hari di sana. Kaos, jaket, leg warmer, kaos kaki, celana panjang, topi, scraff, mukena, air, mie instan, roti, dan beberapa keperluan lain. Aku mulai mengepak semua keperluanku untuk pendakian. Ini kali kedua aku menginjakkan kakiku di Gunung Semeru, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl).

“Mami, aku pamit ya,” kataku setengah berteriak mencari mamiku di dapur.

“Semua keperluan gak ada yang tertinggal kan Ta,” tanya mami.

“Semua sudah mi, aku berangkat dulu ya,” kupeluk mami lalu kucium tangannya.

“Etta hati-hati ya di sana. Jangan sampai kepisah dengan teman-teman,” nasihatnya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum lebar. Lalu berangkat meninggalkannya.

Bahagia sekali mempunyai mami seperti mamiku. Aku tahu, mami sangat khawatir dengan hobiku yang satu ini. Tapi mami tak pernah melarangku. Sejak kecil, aku memang suka dengan permainan-permainan yang berbau laki-laki. Banyak temanku bilang aku tomboy, meski penampilanku sangat feminin. Yah, meski aku tomboy, tapi aku masih suka merawat tubuhku. Rambutku kubiarkan panjang tergerai, aku juga masih sering pergi ke salon untuk sekedar facial atau merawat rambutku.

“Sepanjang kamu bahagia dan bisa menjaga diri, mami gak akan pernah ngelarang kamu,” begitu alasannya padaku.

Jam 8 pagi, aku sudah ada di kampus. Kudapati semua teman-temanku berkumpul di sana. Hanya ada 3 cewe yang ikut dalam ekspedisi kali ini, termasuk aku. Sementara cowonya ada 7, Edo, Bani, Doni, Egar, Indra, Bisma dan Toni .

“Etta, Lili, Gina, ke sini bentar,” Edo berteriak memanggil kami bertiga.

Edo ketua Mapala di kampusku. Dia satu tingkat di atasku. Jurusan  teknik kimia, angkatan 2001, sementara aku angkatan 2002. Tidak ada yang istimewa dengan Edo, selain mata elangnya yang sangat tajam dan aku suka itu.

“Ada apa Do,” tanya kami hampir bersamaan.

“Karena cewenya cuma kalian bertiga, jadi nanti kalian jalannya di depan ya. Tepat di belakangku, biar gak ketinggalan jauh. Kalo capek, bilang, jangan langsung istirahat sendiri-sendiri,” cerocosnya.

“Siap bos,” jawabku sambil meletakkan tanganku di jidat seperti hormat pada bendera. “Lagian, kayak aku belum pernah ke sono aja Do,” sergahku. Edo hanya tersenyum.

“Oke, semuanya siap-siap ya. Berdoa dulu sebelum berangkat,” perintah Edo.

Jam 9 tepat, kami bersepuluh berangkat menuju terminal Purabaya. Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota Malang atau Lumajang. Kami memilih naik lewat Malang. Dari terminal Bungurasih Surabaya aku naik bus ekonomi menuju terminal Arjosari Malang di sambung lagi naik angkot warna putih hingga pasar Tumpang.

Di sini, kami bertemu beberapa pendaki lain, karena memang ini waktu liburan. Setelah semua siap, kami langsung bertolak menuju Ranu Pane, tapi sebelumnya kami mampir di Gubugklakah guna mengurus administrasi masuk kawasan BTNBTS Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Di Ranu Pane desa terakhir kaki Gunung Semeru terdapat pos pemeriksaan juga warung dan pondok untuk para pendaki. Di pos ini ada dua buah danau yaitu Ranu Pane dan Ranu Regulo yang terletak pada ketinggian 2200 mdpl. Kami pun bermalam di Ranu Pani.

Meski sangat lelah karena perjalanan panjang tadi, tapi mataku tetap tak bisa terpejam. Berulang-ulang aku hanya membolak-balikkan badanku. Aku lihat Lili dan Gina sudah terlelap dengan sempurna. Aku pun keluar dari pondokan dan bergabung dengan teman-teman cowo yang menghangatkan diri di perapian yang mereka buat tadi. Aku baru ingtat, ternyata dalam rombongan kami ada Bani. Anak Teknik Arsitektur angkatan 2001. Bani cukup terkenal di jurusannya. Siapa yang gak kenal Bani. Selain pinter, Bani juga supel dalam bergaul, cakep dan gak neko-neko. Tongkrongannya juga oke punya, Honda Jazz.

Aku asyik mengagumi sosok Bani di depanku. Lumayan lah, masa pemandangan bagus dibiarkan berlalu, mubadzir, pikirku. Hingga kedua mataku dan matanya bertemu. Tiba-tiba jantungku berdetak tak karuan, sangat malu dengan kejadian ini. Aku lalu melempar pandanganku ke arah lain sambil menyembunyikan wajahku yang merah bak kepiting rebus.

“Kenapa Ta, ada yang salah,” tanya Bani yang semakin membuatku salah tingkah.

“Eh..anu anu, gak papa kok,” aku salah tingkah.

“Trus ngapain tadi lihat-lihat aku, naksir ya?,” godanya yang semakin membuat jantungku berdebar dan wajahku semakin merona.

Aku hanya menggeleng sambil sesekali menggosokkan kedua tanganku kemudian menangkupkannya ke sekitar hidung dan mulutku. Selain untuk menghangatkan tangan, juga untuk mengelabuinya agar tak menyadari kegugupanku.

“trus kenapa mukanya merah gitu? naksir juga ga papa kok,” katanya lagi.

“Ye…yang ada juga kamu kali yang naksir aku. Tuh tadi ngapain coba liat-liat aku?,” kataku berusaha membalik keadaan.

Tapi Bani masih terus bisa membela diri. Dia terus menerus menggodaku hingga membuat Doni, Egar dan Toni menertawakanku.

“Udah, jadian aja deh,” goda Doni yang diamini Egar dan Toni. Aku hanya senyum-senyum sesekali menenggelamkan wajahku ke dalam kedua tanganku. Karena sudah merasa ngantuk, aku lalu pamit ke teman-temanku.
*

Pagi-pagi sekali, setelah breakfast, dimulai langkah pendakian menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang dan Edelweis. Tiba-tiba Bani memetik edelweis itu lalu memberikannya padaku. Aku kaget, bukannya apa-apa, sebab para pendaki tidak diperkenankan memetik apapun di sini.

“Ini, simpan aja. Buat kamu ya, gak usah banyak komentar,” kata bani. Aku pun menurutinya.

Setelah berjalan 5 km sampai juga di Watu Rejeng, suatu daerah yang terdapat batu terjal yang sangat menakjubkan dan pemandangan sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Selanjutnya menuju Ranu Kumbolo dengan menempuh jarak sekitar 4,5 Km.

Di danau yang berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha dengan air yang bersih, jernih, dingin, segar dan banyak terdapat ikan dan burung belibis liar ini lah kami mendirikan tenda lagi. Lunch dengan snack di perjalanan, dan dinner yang hangat di camp. Untuk mengisi energi tubuh kembali sambil menikmati indahnya alam Ranu Kumbolo.

Aku pun melangkahkan kakiku ke bibir danau. Sangat indah saat senja itu, apalagi ada dua ekor angsa yang sedang memadu kasih di tengah danau. Lehernya seakan membentuk lambang cinta di sana. Aku tersenyum sendiri melihat pemandangan saat itu, apalagi matahari akan terbenam, siluetnya menambah keindahan danau. Ah, bahagianya kedua angsa itu, andai aku bisa seperti mereka.

“Etta… kok sendirian di sini,” tiba-tiba suara Bani membuyarkan lamunanku.

“Lagi asyik aja lihat pemandangan di sini. Tuh, angsa itu mesra banget deh,” aku menunjuk dua angsa itu.

“Etta, aku pengen deh bisa kayak angsa itu sama kamu,” kata Bani nyaris tak terdengar.

“hah, apaan?? aku gak denger deh. Bisa diulangi,” aku beralasan, padahal aku sangat mendengar suara itu dengan jelas dan cukup bisa membuat jantungku berdegup tak karuan.

“Aku sayang kamu Etta, sejak kita pertama ketemu di sekret Mapala, setahun yang lalu,” kata Bani.

Aku terpekik, kaget. Sejak kapan? Setahun yang lalu? Tapi menurutku, tingkah Bani selama ini baik-baik aja padaku. Gak ada yang menunjukkan kalo dia suka aku, pikirku. Aku masih meragukan perkataannya.

“kamu psati bingung ya, karena selama ini aku biasa-biasa aja ke kamu kan?,” tanyanya seakan tau isi otakku.

Tanpa diminta, Bani mengatakan jika sikap diamnya selama ini untuk meyakinkan dirinya akan perasaannya padaku. Hmm…wajar sih. Tidak ada yang bisa dicela dari dirinya. Dia sangat perfect di mataku dan gadis-gadis lainnya. Tapi kenapa dia memilih menyayangiku? Padahal gak sedikit cewe di kampus kami yang mengejar-ngejarnya bahkan rela mengantre untuk menjadi pacarnya. Tapi memang, aku tahu Bani gak pernah mempedulikan mereka semua. Padahal cewe-cewe yang mengejar Bani bisa dibilang di atas rata-rata, cantik, bodi aduhai bak gitar spanyol, dan kebanyakan mereka anak orang kaya. Sedangkan aku, mamiku hanya seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta di surabaya dan papiku dosen di salah satu PTN. Atau mungkin mata Bani siwer kali ya, pikirku sekedar menghibur diri.

“Kamu mau gak jadi pacar aku?,” tanyanya membuyarkan lamunanku.

Aku bingung, aku hanya mematung. Aku gak tau apa yang kurasa pada Bani. Aku memang kagum sama dia, tapi kagum belum tentu suka kan? Tiba-tiba dia berdiri tepat di depanku lalu merengkuh bahuku dengan kedua tangannya. Pelukannya sungguh hangat. Tapi kemudian aku melepaskan diri dari pelukannya.

“Maaf Ban, bisa kan kasih aku waktu untuk berpikir,” tanyaku. Dan dia hanya tersenyum dan mengangguk.

Di dalam tenda, aku terus menerus memikirkan ucapan Bani. Apa ini saat yang tepat bagiku untuk membuka diri setelah 2 tahun aku menjomblo? Tapi aku masih belum yakin dengan perasaanku. Malam itu aku bener-bener bingung. Aku gak berani untuk sekedar bercerita sama Lili dan Gina. Mereka berdua ember bocor, bisa mati berdiri aku dikerjain mereka.

Keesokannya, kami meninggalkan Ranu Kumbolo kemudian mendaki bukit yang terjal. Orang menyebutnya tanjakan cinta. Konon bila melintasi bukit ini tanpa menoleh ke belakang akan terkabul kisah cintanya. katanya siihh…

Iseng ingin membuktikannya, aku berdoa supaya aku mendapatkan pangeran hatiku sepulang dari ekspedisi ini. Semoga Bani pangeran itu, harapku.

Selama di jalan, Bani baik sekali padaku. Dia selalu memperhatikanku, berlebihan malah. Hingga cukup membuat Lili dan Gina gondok karena merasa dicuekin dan teman-teman cowo menggoda kami.

Sepanjang perjalanan, kami juga disuguhi pemandangan padang rumput membentang luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa dan dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah. Daerah ini dinamakan Oro-Oro Ombo. Selanjutnya memasuki hutan Cemara, yang kadang dijumpai burung dan kijang. Hutan itu dinamakan Cemoro Kandang.

Setelah melewati cemoro kandang, akhirnya tiba di Pos Kalimati, berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara yang berada pada ketinggian 2.700 m-dpl. Di pos ketiga ini, kami mendirikan camp ketiga untuk beristirahat. Lunch dengan snack di perjalanan, dan dinner yang hangat di camp ditemani kopi susu sambil menikmati kesunyian alam Kalimati.

Tiba-tiba Bani mendatangiku dan menanyakan jawabanku. Karena aku belum siap, aku jawab sekenanya. “Nanti deh, waktu balik lagi ke Ranu Kumbolo. Moga-moga angsa itu kembali memadu kasih. Aku akan menjawab permintaanmu,” janjiku. Dia mengangguk setuju.

Dari Kalimati pukul 23.40 malam kami berlanjut menuju Arcopodo berbelok ke arah timur berjalan sekitar 500 m, kemudian berbelok ke kanan sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo sekitar 3-4 jam dari kalimati, melewati hutan cemara yang sangat curam dan terjal, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Arcopodo dapat digunakan untuk berkemah, tapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di gunung Semeru, selebihnya melewati bukit pasir.

Tiba-tiba Bani menggandeng tanganku. Tangannya begitu hangat. Aku bingung, apa yang harus kulakukan dengan perlakuannya. Ah, biarin saja. Toh hanya sekedar menggandeng tanganku. Lili dan Gina juga bergandengan dengan teman-teman yang lain. jadi aku cuek saja, anggap saja sebagai pengaman. Tapi kenapa jantungku terus menerus berdetak, keringat dingin kurasa mengalir di tubuhku. Apa aku sudah mulai suka padanya, cinlok gitu. Yasudahlah, toh masih ada waktu buat meyakinkan rasa ini.

Dari Arcopodo menujuk puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati cemoro tunggal bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Sebagai panduan perjalanan, di jalur ini juga terdapat bendera segitiga kecil merah. Semua barang bawaan kami tinggal di Arcopodo atau Kalimati, pendakian menuju puncak Semeru di lakukan dini hari.

Yes..jam 05.20, akhirnya kami menginjakkan kaki di Puncak Mahameru. Ini kali kedua aku menginjakkan kakiku di puncak tertinggi di pulau Jawa, Mahameru. Subhanallah Alhamdulillah Allahu Akbar, pemandangan yang menakjubkan seluas pulau Jawa dan Bali, dikelilingi pemandangan puncak-puncak gunung berapi yang berada di Jawa dan Bali. Sedikit lebih jauh, di depan mata kita, kawah Jonggring Saloko ‘meletus’ dengan mengeluarkan asap tebal wedhus gembel. Sebuah perjalanan dengan pemandangan dan pengalaman yang membawa kesan teramat dalam.

Terjadi letusan wedhus gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Suhu di puncak Mahameru berkisar 4-10 derajat celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajat celcius, dan di jumpai kristal-kristal es. Material yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat.

Perasaan aneh melanda di puncak semeru. Hawa yang dingin, hembusan angin yang kencang, serta keindahan alam yang menakjubkan, membuatku serasa berada di dunia lain. Di atas puncak ini juga kami menemukan sebuah batu peringatan untuk mengenang Soe Hoek Gie, tokoh pergerakan mahasiswa yang meninggal di semeru.

Setelah puas menikmati keindahan gunung Semeru di puncak, sekitar jam 8 pagi kami bergegas turun menuju kalimati karena tak tahan dengan cuaca dingin serta angin begitu kencang membuat badanku menggigil bercampur lelah. Selain itu, jika kesiangan, kami bisa mati lemas di sana, karena gas beracun sudah mulai keluar dari kawah.

Sebelum menuju Ranu Kumbolo kami packing meninggalkan pos kalimati tak lupa berdoa dan selanjutnya langsung cabut ke Ranu Kumbolo hingga waktu maghrib. makan malam di Ranu Kumbolo benar-benar asyik, seakan aku ketagihan melakukannya lagi. Meski hanya makan di dekat api unggun bersama teman-teman.

“Etta, masih ingat janji kamu,” Bani membuyarkan lamunanku.

Aku hanya mengangguk lemah. Aku sudah tahu jawaban apa yang akan kuberikan pada Bani. Tapi aku memilih menundanya lagi. Sebab, malam ini angsa itu tak lagi memadu kasih.

“Malam ini gak ada angsa Ban, besok pagi aja ya. Kuharap angsa itu memadu kasih lagi seperti kemarin,” jawabku.

Aku lalu pamit pada Bani dan teman-teman lainnya untuk berangkat tidur lebih dulu. Masih jam 8 malam memang. Tapi aku ingin secepat mungkin meringkuk di bawah selimut woolku. Hanya untuk menenangkan hati dan pikiranku.

Pagi yang cerah kabut dingin menyelimuti Ranu Kumbolo membuat danau mengepul seperti air hangat yang baru direbus. Diiringi hangatnya mentari pagi, kabut tipis, cuaca yang cerah dan merdunya
kicauan burung bernyanyi di Ranu Kumbolo, kita breakfast ditemani secangkir teh dan susu hangat, terasa begitu manis seperti alam Semeru. Setelahnya, aku bergegas ke bibir danau, mencari dua angsa itu. Benar saja, dua angsa itu sedang memadu kasih, berenang beriringan mengelilingi danau, kadang mereka berhadap-hadapan membentuk lambang cinta lagi. Yes, sesuai harapanku.

“Baniiiiiii…,” aku berteriak sekencang-kencangnya ke arah camp kami.

Tentu saja semua yang ada di sana menoleh ke arahku. Pasti mereka mengira aku gila, biar sajalah. Yang kupanggil pun menuju ke arahku. Teman-temanku yang lain semakin menggodaku dan Bani.

“Angsanya sedang memadu kasih tuh,” kataku.

“Lalu?,” tanyanya.

“Aku pengen seperti mereka, dua angsa itu,” jawabku, malu-malu. Mungkin wajahku saat itu sangat merah, aku tak bisa menyembunyikannya.

“Apa artinya kamu mau jadi pacar aku,” tanyanya mencari kepastian. Aku hanya mengangguk.

“Tolong aku ya Ban, supaya bisa menyayangimu dengan tulus,”

“Apapun itu. Just try may best,” jawabnya meyakinkanku.

Kami terus menikmati keindahan Ranu Kumbolo untuk terakhir kalinya. Kami terus memandangi dua angsa itu hingga keduanya menghilang dari pandangan kami. Terima kasih Allah, engkau mengabulkan doaku. ternyata, mitos tanjakan cinta itu benar adanya. Setidaknya bagiku.

“kalian berdua, ayo cepet beres-beres. keburu siang nih,” teriakan Edo membuyarkan lamunan kami berdua.

Tak banyak bicara, kami langsung menuju camp kami. Ah senangnya, tangan Bani tak lepas dari genggamanku sedetikpun. Kami melanjutkan perjalanan menuju Ranu Pane. Suara-suara burung bersahutan mengantar perjalanan pulang kita. Aku dan Bani kembali menengok ke belakang, melihat Ranu Kumbolo, kenangan cinta kami.  Dengan latar belakang Gunung Semeru yang sedang batuk, terasa berat sekali kaki ini melangkah pulang meninggalkan semua keajaiban Sang Pencipta.
*

Januari 2004
Dua minggu lalu, kamu pamit mau ke Mahameru lagi. Katamu, mau mengambilkan edelweis untukku. Sebagai kado sebulan kita jadian. Aku sempat melarangmu, karena aku berfirasat buruk. Tapi kamu keukeuh ingin pergi ke sana, bukti sayangmu padaku, katamu waktu itu. Jumat pagi, kamu berangkat bersama 5 temanmu.

Waktu itu, kamu berjanji, Selasa pagi hari ini sudah berada di depan rumahku dan memintaku menunggu di depan rumah. Memenuhi permintaanmu, aku menunggumu di depan rumah. Bukannya dirimu yang datang, melainkan Edo.

“Etta, Bani belum ke sini ya?,” tanya Edo dengan wajah cemas.

“janjinya sih hari ini Do. Memang kenapa,” selidikku.

Edo hanya diam. Aku terus mencecarnya dengan puluhan pertanyaan. Edo tetap bergeming. Aku tau pasti ada sesuatu yang terjadi pada Bani dan teman-temannya.

“Do, tolong jawab aku. Sebenarnya ada apa sih,” kataku memelas.

“Gini Ta, ehmm…kamu gapapa kan. Sabar ya,” Edo semakin membuatku gelisah dan khawatir.

“Aku dapat kabar, Bani tersesat, tapi gak tau dimana. Tim sar sudah turun mencari mereka. Seharusnya, Senin pagi, Bani dan teman-temannya seharusnya sudah ada di Ranu Pane. Tapi mereka gak muncul-muncul juga,” cerita Edo.

Air mataku tak bisa kubendung lagi. Aku menangis, sedih, bingung. Apa yang bisa kulakukan.

“Do, tolong temenin aku ke sana ya. Aku mau bantu nyari Bani. Plis Do,” pintaku. Edo hanya menggeleng.

“gak bisa Etta, kamu dalam kondisi kalut saat ini. Yang ada malah menambah masalah dengan kedatanganku di sana,” jelasnya.

Benar juga kata Edo, tapi apa aku harus diam saja di sini. Aku gak bisa. Aku harus mencari Bani. Aku gak mau hanya berdiam di sini, sementara Bani belum juga ditemukan.

Bani, kamu di mana sih. Apa yang terjadi sama kamu. Seharusnya, hari ini kamu sudah berdiri di hadapanku Ban, memberikan bunga edelweis itu untukku, sebagai kado jadian kita.

Seminggu berlalu setelah aku mendapat kabar dari Edo. Tapi Bani tak juga ditemukan.
*

Pagi itu, aku benar-benar merasa kehilangan pijakanku. Duniaku bagaikan berputar. Aku limbung, jatuh. Saat sadar, aku sudah berada di kamarku. Di sampingku ada mami yang sedang menangis.

“Etta, untung kamu sadar sayang. Kamu kenapa,” tanya mami.

Aku bingung harus menjawab apa. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Oh ya, koran itu.

“Di mana koran itu mi,” tanyaku. Mami lalu menyerahkan koran itu padaku. Lagi-lagi air mataku menetes deras ketika membaca berita itu.

Mahasiswa PTN A Ditemukan Tewas di Blank 75

Lumajang – Kondisi Albani, mahasiswa PTN A yang hilang sejak seminggu lalu, akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Albani dan tiga rekannya ditemukan tergeletak di dasar jurang Blank 75. Sementara dua rekan lainnya, ditemukan dalam keadaan lemas 10 Km dari Pos Tawon Songo, Desa Pasrujambi, Lumajang.

Tim SAR sempat mengalami kesulitan ketika akan mengevakuasi jenazah empat mahasiswa asal Surabaya itu….

Albaniku……Aku menghentikan membacanya….

E N D

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: