(Saya Juga) Buruh

Misi..misi.. saya mau curhat soal buruh yaa.. benernya gak pengen nulis yang beginian. Tapi karena hari minggu kemarin waktu saya balik dari Sidoarjo, trus persis di depan saya ada mobil pick up berisi buruh yang (sepertinya) mau berangkat demo, akhirnya saya nulis tentang ini. Awalnya, biasa aja liat demo-demo yang terjadi hampir tiap hari di depan gedung negara grahadi. Tapi lama-lama, sebel juga. Macet di mana-mana. Apalagi, demonya gak tanggung-tanggung, dari pagi sampe sore, bahkan ada yang bela-belain nginep.

courtesy ss

courtesy ss.net

Kita liat arti dari buruh dulu ya..

Menurut KBBI, arti buruh adalah orang yg bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah.

Menurut wikipedia, Buruh, Pekerja, Tenaga Kerja atau Karyawan pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainya kepada Pemberi Kerja atau Pengusaha atau majikan.

Pada dasarnya, buruh, Pekerja, Tenaga Kerja maupun karyawan adalah sama. namun dalam kultur Indonesia, “Buruh” berkonotasi sebagai pekerja rendahan, hina, kasaran dan sebagainya. sedangkan pekerja, Tenaga kerja dan Karyawan adalah sebutan untuk buruh yang lebih tinggi, dan diberikan cenderung kepada buruh yang tidak memakai otot tapi otak dalam melakukan kerja. akan tetapi pada intinya sebenarnya keempat kata ini sama mempunyai arti satu yaitu Pekerja. hal ini terutama merujuk pada Undang-undang Ketenagakerjaan, yang berlaku umum untuk seluruh pekerja maupun pengusaha di Indonesia.

Jadi, semua orang yang menerima gaji dari orang lain, bisa dikategorikan buruh. Termasuk saya. Bedanya, saya dibayar oleh negara, sementara buruh (swasta) dibayar oleh pengusaha. 

Yang bikin saya ‘panas’, tuntutan mereka yang menurut saya, gak masuk akal. Kemarin, di mobil yang berada persis di depan saya itu, ada spanduk bertuliskan tuntutan UMK sebesar Rp 3 juta, UMSK 3,2 juta, hapus outsourching dan pemberlakuan BPJS per 1 Januari 2014 (di surabaya yah). (maaf gak sempet motret, hp lagi di tas, dan saya sedang memangku nona kecil yg lagi tidur :D). Saya geleng-geleng aja bacanya.

Bukannya saya gak berpihak sama mereka. Bukannya gak peduli apalagi gak simpati. Tapi, mbok ya…. lihat kondisi.. Okelah, itu hak mereka untuk menuntut upah layak sesuai dengan KHL. Tapi kaaan… (lagi-lagi saya geleng-geleng kepala), masa iya, biaya pulsa, kosmetik, liburan dimasukkan juga?

Saya aja, dulu, lulus kuliah, langsung magang di kominfo, cuma dapet uang transport, sekira 400ribu/bulan. Beberapa bulan berikutnya, saya diterima kerja di radio, gajinya juga gak sampe sejuta. Waktu itu masih taun 2006. Tapi saya terima. Saya anggap, saya masih miskin pengalaman dan itu kesempatan saya belajar. 3 taun berikutnya, saya kerja di media online. Sama juga, gajinya gak gede-gede banget. Tapi saya bersyukur. 

Waktu saya terjun ke lapangan kali pertama, demo buruh besar-besaran di Kantor gubernur di jl. Pahlawan yang saya liput. Waktu itu, tuntutannya juga sama. Upah layak! Sampai upah mereka saat itu naik, saya yang kerjanya reporter, gajinya gak naik. Bahkan, beberapa reporter di media (lokal), gajinya di bawah UMK.

Tiap tahun, memang yang jadi persoalan adalah upah layak. Apa kalian (para buruh) tau? gaji PNS itu juga gak gede-gede banget. Take home pay, kira2 3 juta lah untuk golongan 3B. Untuk golongan 3A, yang awal masuk, cuma 2,5 juta. Nah, teman saya, yang udah 30 taun mengabdi, gajinya 3,9 juta. Itu belum yang golongan II, yang hanya lulusan SMA/SMP/bahkan SD. Gak begitu besar kan?

Belum lagi gaji honorer di pemerintahan yang masha Allah.. jauh di bawah gaji buruh. Bahkan, di tempat kelurahan di rumah saya, ada pegawai honorer yang gajinya cuma 500 ribu. Tapi toh mereka gak pernah ikut demo.

Yang mau saya teriakkan di sini… Kalau mereka mau dapat hasil yang melimpah, maka harus kerja keras. Kalo perlu cari kerja sampingan. Jangan seenak udel’e minta gaji besar tapi nol besar kemampuan. Kenapa saya tekankan agar mereka mencari kerja sampingan? Karena saya sempat lihat spanduk yang dibawa mereka bertuliskan, “upah dinaikkan, biar kita gak repot-repot lembur.” Masuk akal gak? Di mana-mana, kalo pengen hasil gede, ya usahanya harus ekstra.

Saya yakin, pengusaha-pengusaha yang sukses itu, juga kerja ekstra untuk mencapai yang mereka dapat hari ini. Saya pernah wawancara sama Chairul Tanjung (CT) -pemilik trans corp- dia bisa sesukses sekarang, karena perjuangan yang sangat luar biasa. Bahkan waktu tidurnya cuma 3-4 jam sehari.

Jadi menurut saya, kalo mau gajinya gede dan melimpah ruah, ya cari kerja sampingan. Atau bisa juga kan sambil dagang.. Pintu rezeki gak hanya 1, tapi buanyak sumbernya. Saya aja, juga dagang kok. Dikit-dikit, yang penting bersyukur. Kalau kita mensyukuri yang sedikit, insha Allah, yang besar mengikuti..

Kalau mau gaji besar, kerja keras. Kalo perlu, tingkatkan kualitas dan ketrampilan. Bukannya malah demo, mogok kerja, bikin macet jalan, bahkan kadang memancing keributan. Saya yakin, buruh lain (yang tidak ikut demo) sebagai pengguna jalan, terganggu dengan aksi demo itu. Udah demo, gak masuk kerja, minta upah layak.. Gak malu?

Maaf, ini cuma kekesalan saya tentang demo yang terus-terusan. Awalnya simpati, lama-lama kok ya bikin kesel 🙁

best regard,

#JilbabUngu << temannya #JilbabHitam dan #JilbabPink

Categories: ..and the blabla..

No comments

    • eda

      Nah..makanya itu.. klo mereka punya skill khusus gak masalah.. lha klo lulusan sma gak bisa apa2, masa iya minta upah segede itu? Aku tak mburuh pisan ae 🙁

      • Teguh Puja

        Iya, pun biasanya pada kesempatan tertentu, promosi toh tetap ada, tapi ya bertahap. Bukan langsung besar seperti itu.

        Kenyataannya, pemilik modal di perusahaan itu ya kembang kempis juga, kaget, tahu-tahu harus mengeluarkan lebih banyak.

        • eda

          itu yg gak mereka pikir kayanya ya.. gaji naik, pengeluaran perusahaan kian bengkak. iya klo abs itu prusahaannya lancar aja ordernya, lha klo tiba2 mandeg, trus besar pasak daripada tiang kan..

          apalagi sudah pasti, gaji naik, harga2 kebutuhan pasti ikutan naik.. efek dominonya itu…

          • Teguh Puja

            Iya, kenaikan harga di pasar, akhirnya membuat seberapa besar gaji bertambah pun jadi sama seperti sebelumnya. Akhirnya ya sama saja.

            Perusahaan juga jadi merugi dalam waktu sangat cepat, kalau nantinya ada PHK besar-besaran, yang susahnya ya tentunya mereka juga padahal.

  • Baginda Ratu

    samaaaa, Da. Di Bandung udah 3 hari ini demo di kantor DPRD, dan…. maceeettt. Padahal itu jalur pulang perginya baginda raja kalo ke kantor. Malah kemaren ada tamunya dari Jakarta jauh2 ke bandung, nggak bisa aja gitu masuk ke kantor baginda raja gegara arus lalu lintas direkayasa akibat demo itu. Hiks…
    Aku setuju banget sama kalo mau penghasilan gede ya musti kreatif cari sumber lain (yang halaal) kecuali…. sampeyan bisa kawin sama salah satu ahli warisnya the bakrie’s..
    Salam manis dari em(b)ak2 berjilbab pink bunga2… 😆

  • chris13jkt

    Aku juga kesel lihatin demo yang ngaco gitu, nuntut tanpa mikir. Maunya enaknya aja. Apa dikiranya semua pengusaha itu punya pohon duit. Kalau sampai para pengusaha itu memindahkan lokasi usahanya kan mereka sendiri yang rugi ya

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: