Love of My Life

Semalam…

Semalam, adalah waktu yang paling mendebarkan. Setelah hari di mana saya dioperasi, tentu saja. Untung saja, suami dan malaikat kecil saya, Ara menemani dan memberikan dukungan yang luar biasa kepada saya.

Semalam, rasanya jantung saya mau copot karena hentakannya yang menurut saya, teramat sangat cepat (lebay dikit ah :p). Tapi memang, rasanya deg-degan gak karuan. Padahal ini sudah kali kesekian saya pergi ke dokter itu dan memeriksakan diri. Tapi, malam tadi rasanya beda sekali. Semacam ketakutan yang teramat sangat.

Semalam, saya memutuskan untuk melakukan tes lanjutan, setelah beberapa hari lalu, saya merasakan ada ‘keanehan’ pada rahim dan organ vital saya. Setelah sebelumnya saya bercerita pada dua orang teman yang sangat saya percaya, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan pemeriksaan itu. Thanks to tante deeana dan nina. Kalian membuatku merasa lega. kecup.

Semalam, begitu memasuki ruang itu, bau obat-obatan begitu menyengat. Semakin membuatku deg-degan dan ketakutan. Tapi begitu melihat senyum si dokter, ketakutan itu sedikit sirna. Dokter lalu menjelaskan tes-tes apa saja yang akan aku jalani.

Semalam, setidaknya ada 5 tes yang saya jalan: pap smear, tes kanker payudara, tes kanker serviks, cuci vag*na, trus satunya lupa. “Rileks aja ya bu,” kata si dokter. Bagaimana bisa rileks, kalau saya tau apa yang akan saya jalani? Tapi suasana tiba-tiba mencair dan berganti menjadi gelak tawa, ketika tiba-tiba ara nyeletuk “bunda, jangan nangis yah. gak sakit kok kata dokternya,” Terima kasih Allah, Engkau memberiku anak yang sangat mengerti keadaanku. Jadilah, kami bertiga -dokter, suami dan saya- cekikikan.

Apalagi, pas dokter mulai melakukan cuci vag*na. Begitu terdengar suara air yang entah dicampur apa (yang jelas baunya seperti campuran obat-obatan) bergemericik, si ara langsung nyaut lagi, “ayah, bunda dimandiin sama dokternya. lho.. iya kan, tuh denger suaranya.” Kontan, saya tertawa terbahak-bahak, sampai perut saya kram dan nyaris berteriak. Ada-ada aja si kecil itu.

Semalam, ketika si dokter bilang, “saya mulai tes kanker serviksnya ya buk (si dokter mengoleskan sesuatu, saya lupa namanya), untuk ngecek ada sel kanker apa enggak.” Hati saya seolah-olah berhenti berdetak. Takut hasilnya tidak-tidak. Tapi untungnya, kata dokter, bagian vag*na yang dioles oleh zat itu, tidak berubah warna menjadi putih. Katanya sih, kalau bagian yang dioles menjadi putih, diduga ada sel kanker di sana. Terima kasih Allah, karena warnanya tidak berubah.

Semalam, setelah saya menjalani serangkaian tes, saya masih gamang. Meski dokter sudah mengatakan, kemungkinan buruk itu tidak ada. Tapi hasilnya baru akan keluar nanti kan? Semoga hasilnya negatif. Aamiin..

 

P.s: saya tes kanker itu di klinik Bidadariku, miliknya Dr Ananto Sidohutomo, salah seorang narasumber saya dulu sewaktu masih menjadi reporter. Klinik Bidadariku merupakan Pusat Deteksi Dini & Diagnostik Kanker adalah merupakan bagian dari epik perjuangan berbasis masyarakat untuk “Never Ending Wars Against Cancer”

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

0 Comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: