Siapa Menyakiti Siapa?

Kadang dalam hidup, menjadi egois itu perlu. Bukan karena kita tak peduli pada orang lain. Justru sebaliknya, kita teramat sangat peduli pada orang lain itu. Dengan begitu orang lain itu akan belajar dengan kemandiriannya.

Mungkin aku perlu menjadi batu. Tiada goyah, tiada lemah. Tapi konstan, dan itu cukup membosankan. Mungkin sekarang, seperti itu adanya. Hanya diam tanpa bisa melawan.

I fall too hard, crash too hard, forgive too easy and care too much. Its my fault. Tapi semua itu tak semudah yang aku tulis. Menyakitkan hingga ke sumsum tulang belakang yang paling nyeri. Ketika rasa akan sesak itu hilang, yang tersisa hanya kehampaan. Sakit yang sama hanya dalam bentuk yang berbeda.

Ini bukan perkara seberapa panjang waktu membahasakan mantra untuk kesembuhanku, karena ini lebih dari sekedar siapa menyakiti siapa.

Aku hanya berharap, waktu bisa bekerja mereparasi hati. Membiarkan waktu yang mengobati semua luka ini, sampai ‘aku baik-baik saja’.

Sekali lagi kuberitahu, ini bukan perkara seberapa panjang waktu membahasakan mantra untuk kesembuhanku, karena ini lebih dari sekedar siapa menyakiti siapa. Tak perlu buru-buru meminta maaf padaku.

Tolong, sejenak saja, beri aku waktu.. sejenak saja
wahai jiwa yang tenang.. aku takut, perlukah?
aku dirajai, dijamahi takut
jangan terlalu dekat,
aku rasa ia bisa menular!

Aku bukan moderat, aku tidak mau kesamaan dalam segala hal, hanya ingin bisa diandalkan dan didengar.

Thanks to you…Thanks 4 every single thing 🙂

Categories: Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

%d bloggers like this: