• Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Dan Semua pun Pergi, Ayah…

    Ayah, aku ingin bertanya padamu Tentang masa remajamu dulu Apakah kau pernah merasakan hal yang sama denganku? Ayah, kurasakan semua hal mulai berlalu meninggalkanku Masa-masa dulu yang begitu menentramkan Ramai dan menyenangkan Kini berganti kesunyian yang mencekam Dulu, banyak temanku yang rela berkorban Satu hati, bersama melalui pergantian hari Kini sepi, teman sehati rasanya sudah tak ada lagi Kalaupun ada sudah tak sama lagi Mereka telah berubah, hidup dengan pilihannya masing-masing Menapaki jalan hidupnya masing-masing Kini aku merasa berjalan sendirian Ayah, apakah kedewasaan memang hal yang harus dilewati sendirian? Bertarung sendirian melawan batin dan pikiran tentang eksistensi keberadaan? Ayah, masa-masa dulu terasa sangat indah Tak banyak yang aku pikirkan Selain…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Menyiangi Kenangan

    Mencoba membuka lembaran demi lembaran kenangan yang belum tersusun rapi di hati dan otak kiri. Mengingat satu per satu kejadian yang telah kita alami. Kemudian menyusunnya dengan rapi. Menemukan banyak kenangan. Menyedihkan, menyakitkan dan membahagiakan. Semua seakan mengantarkan kita pada masa silam. Menyiangi kenangan, kalau saya bilang. Itu semacam membuka buku diary yang telah berdebu dan usang. Dan sangat menyenangkan. Karena bisa membuat kita tertawa, bahkan hingga menitikkan air mata. Seperti membawa kita pada masa lalu. Masih sangat ingat kejadian demi kejadian yang saya alami. Yang saya perlu lakukan hanya menyortirnya, kemudian menyusunnya ke dalam rak. Kenangan manis dan menyenangkan, akan saya tempatkan di rak hati. Kenangan buruk dan menyakitkan…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    (Ke)Mati(an)

    Sesungguhnya, mati adalah janji yang ditepati Setiap orang pasti akan mati… hanya tinggal menungu waktu saja. karena kehidupan pada akhirnya akan punah.. alam barzah yang kekal adanya.. Dear Allah, boleh saya bertanya? berapa banyak lagi sisa umur saya? bukan apa-apa sih. aku cuma ingin menghitung secara sistematis, berapa banyak amal dan pahala yang harus saya perbuat dan kumpulkan. tujuannya sih, biar bisa membayar dosa-dosa saya yang bergunung-gunung.  syukur-syukur kalau sisanya bisa menjadi tabungan saya di akhirat nanti. entah kenapa, saya terus menerus kepikiran tentang mati. mungkin sejak peristiwa di rumah sakit itu tepatnya. ditambah lagi dengan berpulangnya beberapa orang2 di sekitarku dan kejadian2 yang menjurus pada kematian. semalaman saya berpikir,…