• Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Kehilangan Itu…

    Kehilangan itu.. Entah harus bagaimana aku mendefinisikannya Banyak kata tapi tercekat di ujung lidah Yang jelas, aku harus bisa menerima dengan lapang dada Aku mengerti, sangat mengerti Ketika semuanya harus berlalu seiring waktu Semua berubah tak lagi berpola Entahlah, tuan.. Apa yang aku rasakan Yang pasti, aku harus menyadari Ini memang harus dijalani Meski terasa pedih Batinpun merasa perih Mungkin nanti, suatu saat nanti Ini akan menjadi biasa buat aku-kamu-kita Dan ketika saat itu tiba Semoga mata kita benar-benar terbuka Maka biarlah.. Kepingan ingatan itu menjadi kenangan Di hatimu, di dalam kepalamu Mungkin memang seharusnya begitu

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Kehilangan Itu…

    Kehilangan itu.. Entah harus bagaimana aku mendefinisikannya Banyak kata tapi tercekat di ujung lidah Yang jelas, aku harus bisa menerima dengan lapang dada Aku mengerti, sangat mengerti Ketika semuanya harus berlalu seiring waktu Semua berubah tak lagi berpola Entahlah, tuan.. Apa yang aku rasakan Yang pasti, aku harus menyadari Ini memang harus dijalani Meski terasa pedih Batinpun merasa perih Mungkin nanti, suatu saat nanti Ini akan menjadi biasa buat aku-kamu-kita Dan ketika saat itu tiba Semoga mata kita benar-benar terbuka Maka biarlah.. Kepingan ingatan itu menjadi kenangan Di hatimu, di dalam kepalamu Mungkin memang seharusnya begitu

  • ..and the blabla..

    Kupingku Panaaaaas!!!

    Halu tuan.. Makin ke sini makin panas aja ini telinga. Benar kata pepatah, semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang angin menghembusnya. Jadi ngerasa jadi selebritis dadakan di kantor 😉 Itu sekaligus makin gak betah dengan keadaan sekarang. Rasanya pengen menyerah aja. Sebenarnya kalau mau cuek bebek, beres aja masalahnya. Gak usah diladenin gitu. Tapi yang namanya eda mana bisa? I care too much! Maybe if I careless, I wouldn’t be so stressed. Aku gak bisa seperti itu. You know kan, tuan? 🙂 Mereka itu cuma bisa ngomong, “enak banget jadi sekretaris, tunjangan gede. Ada tunjangan make up dan lainnya.” Sekali dua kali di senyumin aja tuh orang. Lha kok keterusan…