• Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Rahasia Cermin

    Malam semakin memeluk erat. Kabut bertambah pekat. Tangis perempuan itu kian menyayat. Perih, membuat tenggorokan serasa tercekat. Kulihat dia terus menerus mematut diri di depan cermin. Sambil sesekali menyeka air matanya. Setiap malam hanya itu yang dilakukannya. Sesekali dia berbicara pada cermin. Berbagi rahasia, mungkin. Suaranya tak jelas. Hanya lengkingan yang menyayat hati yang terdengar sangat keras. Lamat-lamat, suaranya mulai terdengar. Ada cerita pilu di sana. “Dia.. orang yang paling jahat yang pernah aku kenal.” Terlihat ada murka di wajah perempuan itu. Tapi tetap tak dapat menutupi kesedihan di wajahnya. Di mata sayunya. Senyum yang setiap hari menghias wajahnya, juga tak bisa menyembunyikan kepiluan di hatinya. “Apa yang akan kau lakukan jika…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Jodoh

    Dari bangku taman ini, kupandangi punggungnya menjauh, pergi. Semoga saja, kepergiannya membawa serta luka di hati. Enam tahun bukanlah waktu sebentar buat kami menjalani perkawinan. Pun bukan waktu yang lama untuk kami saling mengenal. Atau mungkin jodoh kami hanya sekian? Rey. Lelaki yang selama ini kusebut suami. Kini telah pergi. Membawa berjuta harapan di hati. Sebenarnya nyaris tidak ada masalah dalam pernikahan kami. Kami cukup bahagia. Perubahan Rey terlihat setahun lalu. Saat dia pulang bertugas dari Korea. Dia mulai sering bertanya padaku kapan aku bisa memberinya keturunan. Tapi, hei, bukankah itu sudah dia ketahui sejak awal kami menikah? Aku mandul! Kenapa mesti dia tagih? Akh… Suasana perkawinan kami kian memanas,…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Prompt #21: A Little Secret

    “Kemarilah mas. Aku ingin berlama-lama duduk denganmu di bangku kecil ini. ” Pucat. Wajah itu tak secantik dulu. Tapi masih jelas kulihat gurat-gurat kecantikannya di sana. Kudekap erat tubuh ringkihnya. Kusandarkan kepalanya di bahuku. Tidak ada kata yang terucap. Hening. Hanya hembusan napas dan angin semilir. “Kita masuk ke dalam yuk. Di sini dingin.” Dia menggeleng. Taman belakang rumah ini, menjadi saksi kebahagiaan kami selama delapan tahun. Meski kami belum juga dikaruniai anak. Tapi aku menerima semuanya. Karena aku begitu mencintainya. “Sayang, sudah malam. Ayo masuk.” Dekapannya kian erat. Seperti tak ingin berpisah denganku. Sayang, aku berdosa sekali padamu. “Sayang, ayo masuk. Ada yang ingin aku omongkan denganmu. Di dalam…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    MFF Prompt #20: Lelaki Bayaran

    Ini tulisan perdana saya di komunitas MFF yang ala kadarnya. Jumlah kata 454. Semoga berkenan. Ditunggu keripiknya manteman 😉 “Aku tak peduli dengan omongan orang, yang penting kita saling mencintai dengan cara kita sendiri,” kata lelaki itu padaku. Entah sejak kapan rasa ini hadir di diriku. Yang pasti aku begitu tersiksa ketika hendak membunuhnya. Aku tidak bisa tidak untuk memikirkannya. Setiap detik, selalu saja dia, lelaki itu yang menari-nari dalam pikiranku. Pun rasa rinduku kian menggebu. Arrgghh..ini konyol! Lelaki itu, benar-benar mengalihkan duniaku.

  • Blog Competition,  Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Mirror Mirror On The Wall…

    Perempuan itu terus mematut diri di depan cermin. Usianya sudah memasuki senja. Tapi dia tetap terlihat cantik dan menawan. “Mirror mirror on the wall, apakah aku terlihat cantik malam ini?” dia bertanya pada cermin. “Cantik, sayang. Kamu sangat cantik malam ini,” pria berambut perak mengagetkannya. “Meski tak muda lagi, kamu tetap cantik di mataku. Hatimu terlebih.” Mereka berdua tersenyum, lalu berpelukan. Penuh cinta..

  • Blog Competition,  Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    P.S. I Love You

    Dear Kapten Bhirawa. Sudah dua tahun kita tak pernah bertatap muka. Apa kabarmu, di sana? Bagaimana kabar istri dan anakmu di Surabaya? Apa mereka baik-baik saja? Sampaikan peluk ciumku pada mereka. Aku yakin, kalian pasti sedang berbahagia menantikan kelahiran anak kalian yang ketiga. Aku ikut bahagia. Sobat, aku ingin berterus terang padamu. Tentang rasa yang kian berapi-api. Meski tiap hari air membanjiri. Rasanya hati ini seperti diketuk palu. Rindu padamu bertalu-talu. Apa kau merasa hal yang sama denganku? Ah..andai saja aku bisa membaca pikiranmu seperti aku membaca tulisan, pasti aku tidak perlu mengirimkan surat ini padamu. Aku rindu! Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada memendam rindu sendirian. Hanya lewat mimpi, aku bisa melepas…