• Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Prompt #21: A Little Secret

    “Kemarilah mas. Aku ingin berlama-lama duduk denganmu di bangku kecil ini. ” Pucat. Wajah itu tak secantik dulu. Tapi masih jelas kulihat gurat-gurat kecantikannya di sana. Kudekap erat tubuh ringkihnya. Kusandarkan kepalanya di bahuku. Tidak ada kata yang terucap. Hening. Hanya hembusan napas dan angin semilir. “Kita masuk ke dalam yuk. Di sini dingin.” Dia menggeleng. Taman belakang rumah ini, menjadi saksi kebahagiaan kami selama delapan tahun. Meski kami belum juga dikaruniai anak. Tapi aku menerima semuanya. Karena aku begitu mencintainya. “Sayang, sudah malam. Ayo masuk.” Dekapannya kian erat. Seperti tak ingin berpisah denganku. Sayang, aku berdosa sekali padamu. “Sayang, ayo masuk. Ada yang ingin aku omongkan denganmu. Di dalam…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    MFF Prompt #20: Lelaki Bayaran

    Ini tulisan perdana saya di komunitas MFF yang ala kadarnya. Jumlah kata 454. Semoga berkenan. Ditunggu keripiknya manteman 😉 “Aku tak peduli dengan omongan orang, yang penting kita saling mencintai dengan cara kita sendiri,” kata lelaki itu padaku. Entah sejak kapan rasa ini hadir di diriku. Yang pasti aku begitu tersiksa ketika hendak membunuhnya. Aku tidak bisa tidak untuk memikirkannya. Setiap detik, selalu saja dia, lelaki itu yang menari-nari dalam pikiranku. Pun rasa rinduku kian menggebu. Arrgghh..ini konyol! Lelaki itu, benar-benar mengalihkan duniaku.

  • Blog Competition,  Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    P.S. I Love You

    Dear Kapten Bhirawa. Sudah dua tahun kita tak pernah bertatap muka. Apa kabarmu, di sana? Bagaimana kabar istri dan anakmu di Surabaya? Apa mereka baik-baik saja? Sampaikan peluk ciumku pada mereka. Aku yakin, kalian pasti sedang berbahagia menantikan kelahiran anak kalian yang ketiga. Aku ikut bahagia. Sobat, aku ingin berterus terang padamu. Tentang rasa yang kian berapi-api. Meski tiap hari air membanjiri. Rasanya hati ini seperti diketuk palu. Rindu padamu bertalu-talu. Apa kau merasa hal yang sama denganku? Ah..andai saja aku bisa membaca pikiranmu seperti aku membaca tulisan, pasti aku tidak perlu mengirimkan surat ini padamu. Aku rindu! Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada memendam rindu sendirian. Hanya lewat mimpi, aku bisa melepas…