• Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Prompt #21: A Little Secret

    “Kemarilah mas. Aku ingin berlama-lama duduk denganmu di bangku kecil ini. ” Pucat. Wajah itu tak secantik dulu. Tapi masih jelas kulihat gurat-gurat kecantikannya di sana. Kudekap erat tubuh ringkihnya. Kusandarkan kepalanya di bahuku. Tidak ada kata yang terucap. Hening. Hanya hembusan napas dan angin semilir. “Kita masuk ke dalam yuk. Di sini dingin.” Dia menggeleng. Taman belakang rumah ini, menjadi saksi kebahagiaan kami selama delapan tahun. Meski kami belum juga dikaruniai anak. Tapi aku menerima semuanya. Karena aku begitu mencintainya. “Sayang, sudah malam. Ayo masuk.” Dekapannya kian erat. Seperti tak ingin berpisah denganku. Sayang, aku berdosa sekali padamu. “Sayang, ayo masuk. Ada yang ingin aku omongkan denganmu. Di dalam…