• Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Siapa Menyakiti Siapa?

    Kadang dalam hidup, menjadi egois itu perlu. Bukan karena kita tak peduli pada orang lain. Justru sebaliknya, kita teramat sangat peduli pada orang lain itu. Dengan begitu orang lain itu akan belajar dengan kemandiriannya. Mungkin aku perlu menjadi batu. Tiada goyah, tiada lemah. Tapi konstan, dan itu cukup membosankan. Mungkin sekarang, seperti itu adanya. Hanya diam tanpa bisa melawan. I fall too hard, crash too hard, forgive too easy and care too much. Its my fault. Tapi semua itu tak semudah yang aku tulis. Menyakitkan hingga ke sumsum tulang belakang yang paling nyeri. Ketika rasa akan sesak itu hilang, yang tersisa hanya kehampaan. Sakit yang sama hanya dalam bentuk yang berbeda.…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Takut Kehilangan

    Takut kehilangan? Entahlah.. rasanya sudah sangat lama pertanyaan itu kupendam dalam-dalam. Kalaupun kalimat itu harus dipertanyakan sekarang, apa yang harus kuucapkan? Toh kita tak lagi bergandengan tangan. Tak lagi seperti yang dulu, kita janjikan.. Janji? Apa kita -aku dan kamu- dulu pernah berjanji untuk berteman sampai mati? Rasanya tidak. Tapi dalam persahabatan, ada semacam aturan tak tertulis mengenai itu. Akan bersama selamanya.. no matter what.. Damn! I missed that moment, so much! Masa-masa dimana kita tertawa bersama. Bukan menertawakan kekonyolan kita, tapi kekonyolan orang lain. Masa-masa dimana kita saling bercerita apa saja, tanpa menutupi apapun. Masa-masa dimana kita saling ejek, nyinyir satu sama lain sampai akhirnya kita saling diam untuk…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Matahari dan Hujan

    matahari terlihat sangat murka panasnya begitu menyengat kepala aku sampai kelimpungan dibuatnya matahari terlihat sangat murka mungkin saat ini dia enggan berteman dengan siapa2 hanya ingin menumpahkan segala amarah matahari terlihat sangat murka entah pada siapa dia marah apakah kepada saya?? cuma kangen hujan wangi tanah yang ditinggalkan teduh menenangkan cuma kangen hujan yang selalu saja menuntun kita pada kenangan yang tak pernah lekang *) diambil dari blog saya dengan nama serupa di tumblr.. yg ini bukan galau yah, cuma reblog aje :p

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Pada Suatu Titik..

    Sampailah aku pada suatu titik, di mana aku harus berhenti. Tenang saja, ini hanya untuk sementara. Aku akan mengumpulkan kekuatan, lebih besar mungkin, kemudian akan aku pergunakan untuk berlari sekuat tenaga. Sampailah aku pada suatu titik, di mana aku harus berdiri. Kemudian memandang sekeliling, tentang apa yang terjadi. Hmm.. mungkin, melihat kepada diriku sendiri. Sampailah aku pada suatu titik, di mana aku harus terduduk dan menunduk. Bukan untuk meratapi diri. Tapi mengevaluasi. Ternyata, banyak yang salah di sini. Di hati ini. Di diri ini. Di tubuh ini. Ada banyak jiwa terlukai, tersakiti atau bahkan terkhianati. Akhirnya, sampailah aku pada suatu titik, di mana aku kian menyadari semuanya. Tentang rasa yang…

  • Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

    Senja kata Seno Gumira

    Setiap hari ada senja, tapi tidak setiap senja adalah senja keemasan, dan setiap senja keemasan itu tidaklah selalu sama…. Aku selalu membayangkan ada sebuah Negeri Senja, dimana langit selalu merah keemas-emasan dan setiap orang di negeri itu lalu lalang dalam siluet. Dalam bayanganku Negeri Senja itu tak pernah mengalami malam, tak pernah mengalami pagi dan tak pernah mengalami siang. Senja adalah abadi di Negeri Senja, matahari selalu dalam keadaan merah membara dan siap terbenam tapi tak pernah terbenam, sehingga seluruh dinding gedung, tembok gang, dan kaca-kaca jendela berkilat selalu kemerah-merahan. Orang-orang bisa terus-menerus berada di pantai selama-lamanya, dan orang-orang bisa terus-menerus minum kopi sambil memandang langit semburat yang keemas-emasan. Kebahagiaan…