Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

Untitled…

“Jadi kamu sudah yakin mau ngambil S2? Bosmu gimana?,” tanya mama.

“Yakin ma, bos juga udah ngijinin kok,” jawabku.

Akhirnya aku daftar jadi mahasiswa pascasarjana di salah satu PTN di kota aku. Keputusan aku sudah mantap, S2 Komunikasi. Sesuai dengan jurusanku sebelumnya.
*

“Bu nina, dipanggil bapak,” kata hasan, OB di kantorku.

Tumben banget, biasanya pak bos manggil pake phbx, ini kok nyuru hasan. Aku mengangguk pada hasan lalu bergegas ke ruangan bos.

“Jadi gimana nina, sudah disiapkan semuanya?,” tanya bosku.

“Sudah pak, Insya Allah mulai minggu depan saya mulai kuliah lagi. Saya ambil sore, jadi tidak menganggu kerjaan saya,” jawabku mantap.

Bos hanya mengangguk-angguk saja mendengar jawabanku.

Aku bersyukur, aku diberi kemudahan dalam hal pekerjaan. Karierku terbilang cemerlang. Di usiaku yang masuk usia 27 ini, karierku sangat bagus. Setelah 2 tahun aku menjadi staf humas di salah satu pabrik semen terbesar di Indonesia ini, aku dipercaya menjadi kepala bagian humas. Sungguh di luar dugaan. Kata bos, karena pak akmal, kepala bagianku saat ini sudah mau pensiun. Dan menurutnya aku layak menggantikannya, karena potensiku dan kerja kerasku, katanya. Karena itu, aku memutuskan untuk kuliah lagi.
*

Aku menyapu sekeliling ruangan ini dengan pandanganku. Mencoba mencari seseorang yang kukenal. Nihil, semuanya asing bagiku. Ada 46 mahasiswa S2 di sini. Rata-rata, mereka berusia di atas kepala 3, menurutku. Hanya beberapa saja yang sepantaran denganku. Lalu mataku terhenti pada sesosok manusia berjenis kelamin laki-laki. Nih cowo boleh juga, pikirku. Dia kelihatan cool, kulitnya gak putih-putih amat, matanya sipit tapi pandangannya tajam. Yang penting, dia terlihat smart.

“Permisi mba, saya boleh duduk di sini ya,” kata suara cewe membuyarkan konsentrasi pandanganku.

“Eh..eh iya, boleh-boleh,” jawabku lalu mengulurkan tanganku.

“Nina, Nina Fauziah. Kamu?,” tanyaku.

“Aku Dhita, Aldhita kusumawardhani,” jawabnya.

Gak lama, kami berdua sudah terlibat dalam pembicaraan yang cukup akrab. Aku merasa cocok dengannya. Mungkin karena kami sepantaran. Usia dhita setahun lebih muda dariku, tapi sudah menikah. Wajah dhita sangat keibuan. Kulitnya bersih, tutur katanya sangat lembut, pembawaannya juga kalem.

Dari pembicaraan kami, aku tahu, Dhita sengaja kuliah lagi untuk menghabiskan waktu di rumahnya. Suaminya gak mengijinkan dia untuk bekerja.

“Lha.. Terus buat apa kuliah lagi kalo gitu?,” aku penasaran.

“Meski jadi ibu rumah tangga itu berkutat di dapur, tapi aku harus punya wawasan lebih. Jadi kalo diajak suami buat nemuin kliennya, gak malu-maluin,” jawabnya. Aku salut pada dhita. Semangat belajarnya masih sangat tinggi.
*

Aku tergesa-gesa menuju kelasku. Meeting dengan para petinggi tadi cukup menguras tenaga, pikiran dan waktuku. Aku berlari-lari kecil menuju kelasku di lantai 2. Sial, aku bisa telat ini.

Bruuk.. Badanku menubruk sesuatu sampe aku terjatuh. Aku meringis merasakan nyeri di sekitar bahuku. Ah..ada-ada saja penghalang saat aku buru-buru gini.

“Maaf maaf mba,” kata sosok di depanku.

“Kalo jalan lihat-lihat dunk,” kataku tanpa melihat siapa yang menabrakku. Aku sibuk membereskan bajuku.

“Maaf mba, gak sengaja,”

“Maaf maaf, nyari perkara aja. Gak tau….,” aku lalu menghentikan omelanku ketika mataku tertujut pada wajah sosok itu. Cowo yang kulihat di kelasku kemarin.

“Kamu,” kataku lagi.

“Saya Aldhi,” dia mengulurkan tangannya padaku.

“Nina. Kamu, mahasiswa S2 komunikasi juga kan,” tanyaku. dia mengangguk.

“Maaf ya mba, tadi saya gak liat,”

“Sudah ga papa. Panggil aku nina aja, gak usa pake mba. Berasa tua aku,” kataku.

Aku celingukan. Mencari sosok Dhita. Gak biasanya dia telat. Dalam hati aku bersyukur, karena dosennya belum datang.

“Nyari siapa,” tanya aldhi.

“Dhita, kenal?,” jawabku. Dia mengangguk.

“Dia temen kuliahku dulu. Gak nyangka bisa ketemu lagi di sini,” jawabnya. Aku ber-oh ria.

Gak lama, dosen masuk kelas. Absen yang diedarkan, sampe juga di mejaku. Iseng, aku mencari nama aldhi. Aku manggut-manggut sendiri. Jadi namanya Aldhiansyah Utama toh. Tiba-tiba ada sesuatu yang bergetar dalam tasku. Aku mengambilnya. Ada sms masuk.

From: dhita S2
Aku titip absen ya. Ada urusan mendadak ini. Makasi.

To: dhita S2
Iya

Buset, baru juga beberapa minggu kuliah, uda maen TA aja nih anak. Aku lalu mencari nama dhita, dan memparafnya.
*

Gak terasa, aku, dhita dan aldhi akhirnya menjadi sangat akrab. Aku merasa nyaman jalan dengan mereka berdua. Dhita, ibu muda tapi selalu modis dan aldhi yang cool sekaligus misterius. Aku menyebutnya begitu karena memang aldhi selalu menutup diri mengenai kehidupan pribadinya. Tapi di luar itu, aldhi cukup menarik.

“Eh, ujian uda sebentar lagi, aku pinjem catetan ya,” kata dhita.

“Hah, gak salah? Bukannya kamu rajin nyatet ya. Lagian kan, ujiannya ga persis-persis amat sama yang dicatet. Palingan pake logika,” jawabku.

“Catetanku hilang. Kemarin, pas pulang kan kumasukkan di tas tenteng bareng belanjaan, lupa gak kebawa. Boleh ya, buat baca-baca aja,”

Aku lalu menyodorkan catatanku.

“Aku juga pinjem,” aldhi menyela.

“Boleh, tapi traktir dulu ya,” candaku.

“Beres mah soal itu. Jadi maunya kapan?,” aldhi menantang.

“Sekarang aja ya. Mumpung belum malam amat,” kataku.

“Maaf ya, aku gak ikutan. Kan ada suami di rumah,” kata dhita.

Kamipun merelakannya. Alasan yang masuk akal.

Aku dan aldhi memilih kampung steak sebagai tempat makan. Tiba-tiba aja pengen makan steak.

“Tenderloin 1 mba. Markisa squash 1,” aku memesan kepada mas waitresnya.

“Aku disamaain aja deh,” sahut aldhi.

“Ye, kok sama. Yang lain dunk. Kalo sama ntar ga bisa icip-icip,” candaku.

“Samain aja mas,” aldhi keukeuh.

15 menit kemudian, pesanan sudah datang. Karena laper, gak sampe 5 menit aku menyantap habis tenderloinku. Padahal punya aldhi masih separo. Ini anak emang makannya kayak putri, jadi lama.

Setelah basa basi busuk, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Sebelumnya, kami bertukar id ym, memudahkan komunikasi kalo ada tugas. Ehmm..tepatnya memudahkan tuker2an jawaban.

“Anterin aku ya dhi, uda malem ni,” pintaku. Aldhi hanya mengangguk.

30 menit, aku sampe juga di rumah.

“Makasih dhi, uda nraktir dan anterin aku,” kataku. Tiba2 aldhi mendaratkan bibirnya di pipiku. Apa-apaan nih, pikirku. Maen cium-cium segala.

“Ini,” refleks, tanganku mengelus pipiku.

“Itu, karena kamu uda baik sama aku,” katanya.
*

From: lelakiku
Siang ini jalan yuk. Aku kangen kamu

From: lelakiku
Gadis kecilku..kok gak dibales sih? Lagi apa? Telponku juga gak diangkat.

aku membuka 2 sms dari awan, pujaan hatiku. Aku lihat, juga ada 10 misscall darinya. Ya ampun, aku kesiangan. Ini sudah jam 10. Meski libur, aku terbiasa bangun pagi untuk membantu mama di dapur. Mungkin ini karena tidur terlalu malam.

To: lelakiku
Maaf yang, aku baru bangun. Oke, jam 11an kamu jemput aku ya. Aku siap2 skrg.

From: lelakiku
Cewe kok bangunnya siang. Uda cepet siap2 sana.

Ya, aku baru tidur jam 2 dini hari tadi. Setelah sampe rumah, semalam aku gak langsung tidur. Membuka laptop dan mengecek barangkali ada email dari bos. Lha kok keterusan, lantaran ada friend request dari al_d. Saking asyiknya, kami chat hingga jam 2.

Aku bergegas mandi, setelah sebelumnya nyamperin mama yang ada di ruang makan sama papa dan adikku, gina.

“Tumben baru bangun mba,” tanya gina. Aku hanya nyengir.

Dari dalam kamar mandi yang memang dekat dengan ruang makan, aku masih bisa mendengar papa menasehatiku.

“Dadi wong wadhon kuwi, kudu tangi isuk. Opo maneh isih perawan (Jadi perempuan, harus bangun pagi-pagi. Apalagi masih perawan),” kata papa yang memang asli jawa.

“Biasane nina tangi isuk kok pa, tumben iki kok awan (biasanya nina bangun pagi, tumben ini kok siang),” mama membelaku.

Aku menuntaskan mandiku hari ini dengan cepat, karena sudah janji sama awan. Biasanya, aku berlama-lama di kamar mandi. Di kamar, aku bingung memilih baju yang akan kukenakan. Akhirnya aku memutuskan untuk mengenakan kaos ungu graphis pemberian awan, jeans belel dan sepatu converse.

“Mba, ada mas awan nih,” gina berteriak.

Aku bergegas ke ruang makan lalu berpamitan ke mama dan papa.

“Iki opo-opoan toh nduk, mau kemana pakaiane koyok ngene (ini apa-apaan, kok pakaiannya begini),” papa tiba2 memprotes pakaianku.

“Kan cuma jalan aja pa,” jawabku.

“Iya tapi kan gak harus gaya gembel gini. Celana uda sobek dipake terus,” kata mama.

“Inget lho, kamu itu uda jadi kepala bagian di kantormu. Ora pantes koyok ngunu,” papa melanjutkan ceramahnya.

Dengan berat hati, kuganti jeans belelku dengan jeans lain. Setelah pamitan, aku dan awan pergi ke sebuah mall terbesar di kotaku. Kami lalu memilih duduk di sebuah tempat makan. Perutku tiba-tiba demo. Kulirik jam, pantes aja, udah jam 12. Hari ini, makan pagi dan siang kujamak.

“Eh sayang, coba deh lihat ini,” awan tiba2 mengeluarkan kotak berwarna merah.

Aku membukanya, kaget.

“Kamu mau gak jadi ibu buat anak-anaku nanti,” tanyanya.

“Gadis kecilku, mau gak jadi ibu dari anak-anakku nanti,” awan mengulang pertanyaannya.

Aku masih saja bengong. bingung mau menjawab apa. tapi sebenarnya, hal ini sudah lama kutunggu-tunggu. aku juga gak ngerti kenapa dia memanggilku seperti itu. Kalo menurut dia, itu arti dari namaku, nina = gadis kecil. Sebodo lah, aku suka dengan caranya memanggilku.

“aku kan masih kecil, masak mau nikah aja,” jawabku pada akhirnya.

Gantian awan yang bengong.

“Kan kamu sendiri yang bilang, gadis kecilku,” kataku, kami lalu tertawa keras.

aku lalu terdiam lagi. menarik napasku dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan.

“aku mau banget awan. Ini sudah lama aku tunggu,” jawabku pada akhirnya, mengakhiri kecemasannya.

Seketika, wajah awan terlihat lega. senyumnya kembali merekah.

“Tapi kamu enggak banget deh, masak ngelamar aku di sini, di restoran cepat saji ini. Mestinya bawa aku restoran mewah kek, hotel atau apalah,” aku cemberut.

“Yang penting kan niatnya nina sayang,” jawabnya.

Setelah lelah muter-muter mal, aku dan Awan memutuskan pulang. Aku melihat sinar kebahagiaan di matanya. Ah..awan, aku suka melihatmu tersenyum seperti itu.

“Aku langsung balik ya gadis kecilku,” katanya.

“Iya, makasih buat semuanya ya wan. Sayang kamu,” jawabku.

Awan lalu mengecup keningku lembut. Seketika seluruh tubuhku berdesir halus. sudah lama aku gak merasakan hal seperti ini.

sudah jam 11 malam, mataku gak juga mau terpejam. aku memilih membuka laptopku dan berselancar di dunia maya. kunyalakan Ym-ku, lalu…

ld_tama: buzz

siapa nih, maen nge-buzz aja, batinku. karena aku tak mengenal id itu, aku hiraukan saja.

ld_utama: duh sombongnya. di asep atuh neng

nina_fz: sapa nih?

ld_utama: ini aku nina, aldhi, aldhiansyah Utama. masa dari idku ga bisa nebak sih?

nina_fz: ooh…bilang sejak awal dunk. bikin sebel aja

ld_utama: belum tidur nin?

nina_fz: gak bisa tidur

sekitar 2 jam aku dan aldhi berchit-chat ria. Akhirnya ngantukku datang juga. aku lalu berpamitan padanya.
*

Di kantor, aku masih ingat kejadian kemarin.

“mbak, kenapa? abis kesambet apaan? kok senyum-senyum sendiri,” kata Sifa, rekan kerjaku.

“Hah, napa emang,” tanyaku.

“Yah..si embak, ditanya malah balik nanya. Itu tadi senyum-senyum sendiri ngapain? kayak orang…,” sifa lalu menyilangkan kedua telunjuknya ke jidatnya.

Aku menghiraukannya. Bukan urusanmu juga. Aku kembali senyum-senyum lagi, persis seperti orang yang lagi kasmaran. yups..kasmaran. Siapa sih, cewe yang gak seneng abis dilamar?

Awan Prasetya. sebuah nama yang sangat aku suka, orang juga sangat aku sayangi. Wajahnya bulat, matanya sipit, hidungnya mancung, alisnya seperti semut berbaris, giginya putih dan rata dan kulitnya sawo matang. Tipe cowo idamanku sekali. Pekerjaan dia juga sangat menjanjikan. Di usianya yang 28 tahun, dia sudah dipercaya menjadi manajer salah satu perusahaan peti kemas terbesar di Indonesia.

Awan…cowo yang menemaniku selama dua tahun ini. Dia begitu menyayangiku dan mencintaiku dengan tulus. Dia gak pernah membuatku marah ataupun jengkel. Dia selalu ada setiap aku butuhkan. Aku juga menyayangi dan mencintainya. Apa lagi yang kurang dari awan? Awan nyaris sempurna di mataku.
*

mata kuliah pertama, aku masih tetap gak bisa konsentrasi. pikiranku masih melayang-layang. semua penjelasan dosen gak ada yang masuk di kepalaku. masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. kulirik jam tanganku, masih 30 menit lagi selesai. Aaahh…masih lama, andai aku bisa memutar waktu. tiba-tiba aku mendengar dosen berpamitan karena ada urusan mendadak.

“Yesss…,” aku kegirangan dalam hati.

Mata kuliah kedua, aku berniat cabut. Dari pada gak masuk materinya, mending cabut aja.

“Nina…mau kemana,” teriak aldhi dan dhita barengan.

“Cabut, lagi gak konsen ini,” jawabku.

“ikutan ya,” lagi-lagi mereka berdua kompak.

kami lalu berkeliling mencari tempat makan yang suasanya enak.

“ke kebon pring aja, suasananya desa banget,” ajakku. kami lalu meluncur ke restoran ala desa yang berada sekitar 25 kilometer dari pusat kota.

Di sana, kami ngobrol masalah kuliah, pekerjaan sampai hal yang gak penting. Tunggu dulu, aku naru ngeh. Setiap kami bertiga nongkrong, gak pernah ada perbincangan masalah asmara dan cinta kasih. Masalah itu sepertinya sengaja ‘dikeramatkan’ oleh dua temanku itu. Dan aku juga tau diri gak hendak menggugatnya.

“Balik yuk, uda malem, ditunggu laki nih,” ajak dhita.

Setelah mengantarkan dhita, aldhi lalu mengantarku pulang.
*

Aku terbangun, mataku kukerjap-kerjapkan. tanganku meraba di atas bantal, mencari hpku. Kulihat jam, masih jam 2 dini hari. Ternyata ada sms masuk.

From: dhita S2
kamu tadi ngapain senyum-senyum sendiri di kelas

aku periksa jam pengirimannya. Ya elah..dari jam 11 malam tadi. aku lalu membalasnya. Jam segini, biasanya dhita selalu bangun.

To: dhita S2
aku dilamaaaaaaar…

benar dugaanku. dhita belum tidur. Gak lama, sms balasan darinya masuk.

from: dhita S2
siapa yg mau sama kamu? selamat ya

to: dhita S2
sialan. ada dunk.. makasih dhita

tak terhitung berapa kali kami ber-sms ria. Yang kutahu, jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul 4 subuh. Gila, bisa-bisa aku terlambat ngantor ini.

“Mba, dipanggil bapak,” kata Ria, stafku, begitu aku menampakkan diri di ruanganku.

aku memang lebih senang dipanggil nama atau mba. Panggilan resmi semacam bu, hanya boleh digunakan ketika sedang rapat dengan para big bos.

kulirik jam tanganku, 9 pagi. Mati deh, bakalan kena semprot ini. Hari ini aku kesiangan bangun, karena asik bersms-an sama dhita sepertinya. Ah…salahku juga sih. Kenapa tadi habis sholat subuh bukannya siap-siap malah tidur lagi. Huuufft… aku menghembuskan nafasku keras-keras. aku menyiapkan mental dan argumen untuk menjawab kemarahan bos.

“Permisi pak, tadi mencari saya,” kataku.

“Duduk,” kata bos.

“gimana kuliah kamu, gak ada masalah kan?,”

“Enggak pak, semua baik-baik saja kok,”

“ya udah, tanggal 27 besok, ada launching produk semen terbaru kita. Kamu urus semua yang berkaitan dengan media ya. Ini materinya, pastikan semua media hadir dan launching ini masuk di media,”

“iya pak,” aku lalu meninggalkan ruangannya.

Lega…ternyata bos gak marah sama aku. Bosku ini, direktur utama salah satu BUMD di Indonesia.

launching produk semen terbaru, tanggal 27. Tunggu dulu, sekarang kan sudah tanggal 25, 2 hari lagi acaranya.

“Sifa, tolong dikumpulin semua teman-teman humas ya,” kataku.

“iya mba, jam 11an ya, sekalian makan siang,” jawab sifa. aku hanya mengangguk.

aku memeriksa semua materi yang diberi bos tadi. semua data lengkap, mempermudahku membuat siaran pers. lokasi launching juga mudah dijangkau. beres lah semua, pikirku.

Gak butuh waktu lama bagiku dan teman2 untuk mengerjakan semuanya. kegiatan sseperti itu sudah biasa kami tangani. siaran pers beres, dokumentasi juga sudah disiapkan, wartawan juga sudah dihubungi semuanya. Tinggal konfirmasi ulang sama teman-teman wartawan besok malam.
*

Hari ini ada kuliah Teori Komunikasi Organisasi & Manajemen. duh..rasanya males banget. Bukan apa-apa sih, dosennya gak enak banget. Bikin ngantuk. kalo ngejelasin gak beda jauh sama yang ada di diktat. mending baca sendiri aja di rumah. baru mau beranjak dri bangku, suara dhita memanggilku, mengurungkan niatku untuk cabut (lagi).

“mau kemana buk?,” tanya dhita.

“gak mau kemana-mana kok, benerin duduk aja,” elakku.

“Halah, ngasal deh. udah jelas tadi kliatan mau kabur gitu,”

aku cengengesan gak jelas. malu.

“Eh..aldhi mana? kok gak keliatan,” aku mengalihkan pembicaraan.

“cieee…yang nyari aldhi. naksir ya,” godanya.

Memang dhita suka sekali menggodaku dengan aldhi. Entah apa yang ada di pikirannya. Padahal, dhita tau aku sudah bertunangan. lalu bagaimana dengan aldhi? apa dia sudah punya kekasih? arrgghh… sebodo lah.

“Cabut yuk,” tiba2 aldhi sudah berada di depanku.

aku dan dhita lalu tertawa lebar. Buset, ini anak. Ternyata nyambung juga dengan pikiranku. Akhirnya kami pergi dengan sukses malam itu. Lagi-lagi, kita nongkrong di sebuah restoran yang gak jauh dari kampus. setelah ngobrol2 gak jelas, kami pulang sekitar jam 11 malam.
*

Di rumah, aku merasa ada yang berbeda dalam diriku. tapi aku gak tau apa yang aneh. aku mulai mengingat peristiwa di restoran dengan dhita dan aldhi tadi. Hmm…kenapa aldhi tiba-tiba jadi perhatian ke aku ya. tatapannya beda dari biasanya. tatapannya membuatku mati rasa, tapi sangat menyejukkanku.

aku lalu beranjak ke meja kerjaku, kubuka laptopku dan kunyalakan Ym. 10 menit berlalu, mataku masih tertuju pada ID ym aldhi. argh… kenapa aku tiba-tiba menunggunya OL? tidak biasanya aku begini.

awan_putih: buzz

akh..kenapa yg muncul awan. Tunggu dulu, harusnya kan aku senang dengan kemunculan awan malam ini?

nina_fz: iya sayang

awan_putih: kok blm tidur?

nina_fz: ga bisa tidur. kamu kok belum tidur?

awan_putih: msh ngerjain sesuatu. ya uda, kamu tidur ya, jgn malam2. luv u gadis kecilku.

nina_fz: iya. luv u 2

ld_utama: buzz

tiba2 aku memekik keras. aku kegirangan. Yess..dia muncul juga, batinku. duh..kenapa aku tiba2 senang begini ya.

nina_fz: iya dhi, ada apa?

ld_utama: blm tidur?

nina_fz: blm bisa

akhirnya aku dan aldhi melanjutkan obrolan di restoran tadi hingga jam 2 dini hari. karena merasa ngantuk, aku lalu pamit tidur.

ld_utama: ya udah, bobok sana, besok telat lagi kerjanya. sweet dream nina
*

di kantor, mataku masih terasa cukup berat. padahal, banyak perkerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. berkaitan dengan rencana launching produk semen terbaru kami.

“Sifa, yang untuk besok, semuanya udah siap? tolong panggilin ria, toni dan rian juga. kita meeting bentar buat persiapan besok,” pintaku.

“iya mba,” jawab sifa.

sekitar 30 menit, aku menginstruksikan pada ria, sifa, toni dan rian agar bener2 memastikan keperluan buat besok gak ada yang kurang.

“Saya mau, semuanya sempurna. tolong dikerjakan sedetil mungkin ya. Sifa, siaran persnya jangan lupa, data2 ttg semen barunya yg komplit. Ria, jgn lupa menghubungi wartawan lagi nanti malam, kalo perlu besok pagi-pagi juga, terutama tv ya. pastikan mereka semua datang. ton dan rian, peralatan dokumentasinya beres kan?,” tanyaku.

setelah satu per satu dari mereka menjawab tugasku, aku sudahi meeting kecil ini. AKu gak boleh gagal, launching besok harus benar2 sukses di media. Sayang kan kalo perusahaan besar milik negara, launching produk, tapi gak termuat di media.

hpku bergetar. kulihat ada sms dari aldhi. seketika, aku langsung senang, berbunga-bunga rasanya.

From: aldhi S2
siang ini bisa makan siang bareng?

to: aldhi S2
bisa. mau makan dimana?

from: aldhi S2
di deket kantormu aja, biar aku yg ke sana

to: aldhi S2
oke, kutunggu di kantorku ya

ah..kenapa rasa ini datang lagi. rasa yang sama seperti semalam saat tiba-tiba aldhi muncul di YM. rasa yang sama, ketika aku bertemu dengan awan. apa..apa aku mulai suka sama aldhi? entahlah, aku gak mau memikirkan ini lagi. aku gak mau bermain api. sudah ada awan yang begitu sayang padaku. tapi kenapa aku mengiyakan ajakan aldhi tadi?
*

ddeerrrtt… hpku di atas meja bergerak, tanda sms masuk. ku buka sms itu.

from: aldhi S2
aku sdh di depan kantormu

aku berlari-lari kecil turun ke bawah. yah, ruanganku berada di lantai 2 di gedung berlantai 6 ini.

aku dan aldhi lalu memilih tempat makan rumahan yang dekat dengan kantorku. aku memilih menu gado-gado dan es jeruk sementara aldhi memilih soto daging dan es teh manis.

menunggu pesanan datang, aku dan aldhi terlibat pembicaraan yang cukup hangat. aku mulai menceritakan tentang pekerjaanku, tentang rekan2 kerjaku. begitu juga dengan dia. tapi lagi-lagi kami tidak menyinggung masalah asmara, tepatnya tentang kekasih kami masing-masing.

aku menatapnya cukup lama. tiba-tiba mata kami saling beradu. aku membuang pandanganku, jauh.

“kenapa nina, kok wajahnya bersemu merah gitu?,”

ini orang kok frontal banget ya. uda tau aku malu masih aja dipermalukan.

“gak papa kok,” aku tersipu malu.

“nin, seandainya kita bertemu jauh-jauh hari,” kata aldhi menggantung.

“apaan dhi?,” tanyaku memastikan.

“gak papa, ayo ah. uda jam kerja ini,” aldhi menarik tanganku meninggalkan tempat makan ini.

genggaman aldhi begitu terasa hangat. aku merasa nyaman seperti ini. persis seperti genggaman tangan awan. kenapa aku jadi membandingkan mereka berdua.

“aku balik kantor ya. omonganku yang tadi, anggap aja ga pernah terucap,” aldhi lalu berbalik arah dan pergi meninggalkanku.

malam ini aku sengaja gak kuliah. persiapan buat launching besok betul2 menguras tenaga dan pikiranku. Apalagi bos mewanti-wantiku agar acara besok gak ada cacat sedikitpun. terpaksa aku lembur malam ini.

“Nina, semuanya sudah beres kan,” kata bos yang tiba-tiba nongol di depan meja kerjaku.

“Iya iya pak, semua sudah dipersiapkan matang,” jawabku.

“Spanduk-spanduk dan lain2nya beres,”

“sudah dipasang semua pak. tapi itu kan di bagian perlengkapan pak, kok tanya ke saya,”

“kamu kan humas, jadi semuanya wajib tau. pokoknya kalo butuh apa2, saya nanya ke kamu aja,” bos pergi meninggalkanku.

aku bersungut-sungut dalam hati, kenapa semua jadi dilimpahkan ke aku. ya sudahlah, yang penting semua beres.

aku lalu membuka YM-ku. lama, aku memandangi friend listku. puluhan teman sedang OL, tapi gak ada nama aldhi. lagi-lagi aku menunggu ID aldhi menyala berwarna kuning. sejak beberapa hari lalu, aku selalu berharap aldhi selalu mengajakku bicara meski lewat YM. apalagi, mendengar ucapan aldhi tadi, saat makan siang. aku masih saja kepikiran dengan ucapannya.

ld_utama: buzz

yess!! akhirnya dia nongol juga.

nina_fz: kemana aja al, kok baru nongol

ld_utama: kangen yah?

nina_fz: idih, kegeeran

ld_utama: kan td bru ketemu

nina_fz: iya sih.

aku baru sadar akan pertanyaan tololku. aldhi benar, tadi kan baru ketemu saat jam makan siang. kenapa aku jadi bego begini yah.

“mba nina, semuanya uda beres nih. kami balik dulu ya,” kata sifa dan ria bersamaan.

aku melirik jam di pergelangan tanganku. sudah jam 12 dini hari.

“Ya udah, besok jangan lupa ya. pagi-pagi sekali sudah harus di sini,” pesanku.

aku masih betah di kantor ini. bukan pekerjaan yang membuatku betah berlama-lama di sini, tapi karena aldhi. rasanya, aku nyaman sekali berlama-lama ngobrol dengannya. seperti udah kenal lama.

“Nina, belum pulang?,” suara bos membuyarkan konsentrasi chattingku.

“iya pak, abis ini balik,” jawabku.

“Jangan malam2. ingat besok pagi-pagi sekali harus sudah di sini. jangan kesiangan,” bos lalu pergi meninggalkanku sendiri.

karena sudah larut malam, aku lalu berpamitan pada aldhi.

nina_fz: aku balik dulu ya

ld_utama: iya. makasih untuk semuanya. kamu ati-ati ya. kalo sudah sampe rumah, sms aku

nina_fz: iya
*

From: lelakiku
Nina,launchingnya uda selesai? sore ini aku mau ke rumah. Ngomongin pertunangan kita sama mama papa kamu

To: lelakiku
Kok dadakan banget sayang.gak bilang dulu sama aku

From: lelakiku
Sengaja. Kalo kamu kuliah, gapapa kok. Aku bisa sendiri.ati2 ya

To: lelakiku
Aku pulang aja deh

Aku bolos kuliah lagi hari ini.

tulilut..tulilut.. telpon masuk dari aldhi..

“halo…,”

“dimana nin?”

“baru keluar dari kantor, baru selesai acaranya,”

“Gak usah keburu-buru. dosennya gak masuk hari ini,”

“oh, makasi ya al. Kayaknya kau gak ngampus lagi hari ini. Capek banget,”

“Ya udah kalo gitu. Istirahat ya,”

aku bersyukur sekali. Tuhan masih menolongku hari ini.

Di rumah, aku sudah mendapati awan sedang bercengkerama dengan mama dan papa. awan langsung menyambutku begitu melihatku datang. Senyumnya, selalu bisa menentramkan hatiku.

“Bersih-bersih badan dulu sana,” kata mama.

Aku lalu menuju kamar. Entah apa yang harus kurasakan. Bahagia ataukah sedih. Bahagia karena awan mewujudkan janjinya atau harus sedih karena aku mengkhianati awan atas rasaku pada aldhi, meski gak secara langsung. Rasa? Apa aku memang sudah mencintai aldhi? Apa aku sudah mulai sayang aldhi? Pertanyaan-pertanyaan itu smakin membuatku bersalah. Maafkan aku wan, aku gak maksud. Aku masih sayang kamu. Aku lalu bergabung dengan mama, papa dan awan di meja makan.

“Jadi gini nina, tadi mama dan papa sudah mendengar keinginan awan untuk bertunangan dengan kamu,” kata papa.

“Iya pa, aku sudah tau,”

“Setelah berunding tadi, kami sepakat buat ngadain acaranya pertengahan bulan depan. Tanggal 12 februari. Kamu setuju kan?,” tanya mama.

aku hanya bisa mengangguk.

“Kamu kenapa sayang? Kok kelihatan beda banget. Gak suka ya?,” kata awan.

“Gapapa kok, mungkin kecapekan karena acara kantor tadi,” elakku.

“Ya udah, smuanya biar mama yang atur. Ini cincinnya sudah dibelikan awan, kamu liat dulu. Cantik kan,” kata mama.

Aku memaksakan untuk tersenyum. Aaarrhh.. Seharusnya aku bahagia dengan semua ini.

“Makasih ya sayang,” kukecup pipi awan.

Tiba-tiba hpku bergetar, ada sms dari dhita.

From: dhita S2
Ada titipan dari aldhi nih

To: dhita S2
Titipan apaan?

From: dhita S2
Besok aja di kampus
*

Pagi ini, aku merasa agak gak enak badan. kepalaku rasanya berat, badan sedikit demam.

“Nina, terima kasih ya. berkat kerja keras kamu, launching kemarin sukses besar,” tiba-tiba bos sudah berdiri di depan meja kerjaku.

“Iya pak, saya juga senang. Ini juga berkat kerja keras teman-teman semua,’ jawabku.

“ehm…pak. saya boleh ijin pulang hari ini. agak gak enak badan,” kataku.

“Ehmm… Ya udah. wajahmu memang terlihat pucat. lebih baik pulang aja,” jawab bos.

“Terima kasih pak,” jawabku. aku lalu membereskan semua bawaanku. lalu bergegas pulang ke rumah. sampai di rumah aku langsung tidur.

Jam 2 siang, aku terbangun. Aku baru ingat, nanti ada janji sama dhita di kampus.

to: dhita S2
aku gak ngampus hari ini. gak enak badan. titipan apa ya?

from: dhita S2
ya uda, aku ke rumahmu aja

“Nina, ada dhita datang,” kata mama.

“Suruh masuk aja ma. terima kasih,”

“Nina….,” dhita berteriak.

“Gila..badanmu panas banget. kamu sakit apa?,” punggung tangan dhita memegang jidatku.

“Gak papa kok, kecapekan aja,”

“titipan apa dari aldhi?,” tanyaku.

“Nih,” dhita menyerahkan sebuah kartu undangan.

Tunggu dulu, undangan? Jangan..jangan.. aku lalu cepat-cepat membukanya. benar saja dugaanku. aldhi menikah. aku membacanya perlahan, aldhi utama dengan mashita febriana. mereka akan melangsungkan pernikahan tanggal 12 ferbruari. Tanggalnya sama dengan tanggal pertunanganku sama awan.

“Kok tiba-tiba gini dhit? Dia kan gak pernah crita,”

“Gak tau juga,” Dhita mengangkat kedua bahunya.

“Kemarin dia nitip aja, gak pake cerita apapun,” kata dhita lagi.

“Ohh.. Begitu yah,”

“Iya. Kamu gapapa kan nin?,”

“Maksudnya?,”

“Ya, aku liat, kamu gimana gitu sama aldhi,”

“Hah? Biasa aja kok. Suka ngasal deh. Lagian kan aku uda ada awan,”

“Ya udah, kamu istirahat aja ya. Aku mau kuliah dulu,” dhita lalu meninggalkan rumahku.

Aku lalu menyalakan YMku. Id aldhi sedang offline. Aku lalu meninggalkan pesan untuknya.

nina_fz: Kenapa al, kamu gak pernah crita kalo kamu uda punya pacar, bahkan mau menikah? Aku dan dhita kamu anggep apa? Setidaknya, kamu kan bisa cerita-cerita ke aku dan dhita ttg masalah ini??

Aku lalu mematikan YM ku.
*

“Kamu yakin dengan keputusanmu nina?,” tanya bos lagi.

“Yakin pak. Saya gak pernah seyakin ini dalam mengambil keputusan,” jawabku mantap.

“Baiklah. Kalo kamu sudah mempertimbangkan baik buruknya, saya ijinkan. Lalu S2 mu gimana,”

“Sudah saya atur semua pak. Saya bisa transfer di sana kan,”

“Oke, alasanmu juga masuk akal. Besok kamu urus semua surat-suratnya,”

“Saya permisi pak. Terima kasih atas pengertiaannya,”
*

11 februari

Mama terus menerus menangis. Sudah satu jam lebih. Tapi aku harus melakukan semua ini. Ini keputusan yang kuambil.

“Maafin nina ma. Tapi ini yang terbaik buat nina,” kataku.

“Tapi kenapa begini nina? Waktunya sudah dekat, sudah besok,”

“Nina tau nina salah ma. Tapi ini harus nina lakukan. Daripada nanti nina gak bahagia,”

“Kamu sudah pernah ngomong sama awan?,”

Aku menggeleng lemah.

“Apa yang harus mama sampein ke awan dan keluarganya? Sudah besok harinya nina,”

“Mama bilang aja sejujurnya. Nina yakin, awan mau ngerti,”

“Baik, kalo ini keputusanmu. Mama akan bilang ke awan,”

“Maafin nina ma, sudah bikin malu mama dan keluarga,”

Aku lalu mengemasi semua barang-barangku. Tiket sudah siap digenggaman. Pesawatku berangkat jam 6 besok pagi.

“Ma, nitip ini buat awan ya,” aku menyerahkan surat itu ke mama.

“Iya, kamu ati-ati ya. Jaga diri baik-baik,”
*

Dear awan

Awan sayang, waktu kamu baca surat ini, aku sudah berada di Padang. Maafin aku kalo tiba-tiba aku ninggalin kamu. Aku tau aku salah. Pergi di hari pertunangan kita. Tapi ini harus aku lakukan.

Aku gak mau membohongi perasaanku sendiri. Aku memang sayang kamu, tapi hatiku mulai terbelah. Aku gak mau menyakitimu dengan terus berpura-pura menyayangimu dengan tulus. Kalo kita jodoh, suatu saat kita pasti bakal ketemu.

Yang perlu kamu tahu, aku masih sayang kamu. Meski gak seperti dulu. Aku hanya ingin menenangkan diri di sini.

With love

Nina
*

Aku menyalakan YMku. Kali ini kuinvisible. Kulihat id awan dan dhita online. Sementara aldhi offline. Yah, mana mungkin online, hari ini kan pernikahan dia. Lalu aku memutuskan untuk memilih permanently offline khusus untuk id aldhi. Aku harus menyudahi ini semua. Menyudahi pengkhianatanku ke awan. Meski aku sendiri belum yakin akan perasaanku ke aldhi.

Aku lalu memutuskan mengirim e-mail ke dhita. Aku juga belum berpamitan pada sahabatku satu ini.

To: dhi_ta@yahoo.com Mon, Februari 12, 2010 10:34:14 PM
Cc:
Subject: I’m gonna miss u

Dear dhita…
Maaf ya aku kasi kabarnya tiba-tiba. Sengaja memang. Takut kamu omelin.

Aku ada di padang sekarang. Mungkin untuk beberapa tahun ke depan. Aku memilih pindah ke pabrik semen anak perusahaan kantorku sebelumnya. Sedikit maksa juga sih sama si bos, supaya aku dipindah.

Kamu tau apa alasanku pada si bos supaya aku dipindah? Klise sebenernya, biar perusahaan ini lebih maju dan lebih go public. Gak masuk di akal sih, wong perusahaan ini sudah besar dengan sendirinya. Tapi berkat rayuan mautku, si bos percaya dan mengabulkannya.

Sebenernya, alasanku pindah, bukan karena itu. Tebakan kamu waktu itu mungkin ada benarnya. Aku mulai ada rasa sama aldhi. Tapi aku gak mau merusak semuanya. Aldhi mau menikah dan aku sudah punya awan.

O iya, mengenai awan, aku membatalkan pertunanganku hari ini dengannya. Aku gak berani ngomong jujur ke dia, takut malah menyakitinya. Padahal, dengan hanya menitipkan sepucuk surat ke mama, itu hal yang paling menyakitkan.

Kamu tau dhit, mama kemarin sampe menangis lama denger keputusanku. Untung saja papa bisa sabar dan gak marah-marah ke aku. Mereka berdua akhirnya mau ngerti aku. Aku bersyukur punya orang tua seperti mereka.

Dhita, aku minta maaf ya, kalo aku ada salah. Aku uda ninggalin kamu tanpa pesan. Aku pengecut? Iya. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku gak mau merusak semuanya.

Kamu ga usa mereply e-mail ini atau sms aku. Nomer hpku udah ganti. Pada saatnya nanti, aku yang akan hubungi kamu.

I’m gonna miss u dhita.. maap ya kalo aku kayak gini
*

Hari ini, hari pertama aku ngantor. Aku bersyukur, semua karyawan dan pimpinan di sini bisa menerimaku dengan baik. Setelah ajang perkenalan, aku memasuki ruanganku. Karena belum banyak kerjaan, aku membuka e-mailku. Ada 15 pesan baru. 2 dari bosku dulu, 1 dari awan, sisanya e-mail gak penting. Aku lalu membuka e-mail dari awan.

To: nina_fz@yahoo.com
Cc:
Subject: masih menunggumu

Dear Gadis kecilku…

Aku gak tau apa yang kamu rasakan saat ini dan aku gak hendak mencari tau. Biarlah itu menjadi bagian dari hidupmu.

Nina, aku bener-bener kaget setelah membaca suratmu. Aku gak nyangka banget. Tapi apa boleh buat, itu sudah keputusanmu dan itu hakmu. Kamu ingat dulu waktu kita jadian? Aku janji akan membebaskanmu bertindak, asal bisa dipertanggungjawabkan.

Aku minta maaf jika selama ini aku banyak salah sama kamu sampai kamu senekat ini. Mungkin selama ini, aku belum bisa jadi pendamping yang baik buat kamu.

Nina sayang, aku masih berhak kan memanggilmu dengan sebutan sayang?

Meski kamu pergi, bukan berarti kita putus kan? Yang aku tau, kamu hanya ingin menenangkan diri.

Perlu kamu tau sayang, aku masih sayang kamu. Aku berharap kita bisa seperti dulu. Aku di sini, akan menunggumu. Karena aku yakin, kita berdua akan bahagia nanti.

Love u still n always

Awan

Tak terasa, pertahananku yang kubangun kuat-kuat jebol juga. Air mata mengalir deras dari kedua sudut mataku. Awan, kenapa kamu baik sekali padahal aku sudah menyakitimu.

Aku lalu mereply e-mail awan

To: awan_putih@yahoo.com
Cc:
Subject: …

Dear Awan…

Kenapa kamu masih bisa begitu baik padaku setelah aku menyakitimu? Ah awan, aku benar2 wanita bodoh yang menyia-nyiakan malaikat di depanku.

Aku juga gak mau mengekangmu wan. Seperti janjimu itu. Kalo kamu berniat menungguku, tunggulah. Tapi jika di saat kamu menungguku, tiba-tiba ada wanita lain yang kau sayang, aku rela dan ikhlas.

Nb: No reply.. Biarkan aku yang mendatangimu

Luv u 2

Gadis kecilmu

Lalu kutekan tombol send..

 

E N D

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: