Waspadai Saluran Cerna Sensitif pada Anak

Assalamualaikum….

Waspadai Saluran Cerna Sensitif pada Anak. Iyes! Itu penting banget. Jujur saja, saya awam banget soal itu. Taunya cuma sakit perut. Titik. Padahal kan, sakit perut gak melulu mules atau kebelet pup. Bisa jadi, saluran pencernaan kita sedang bermasalah.

IMG_20160428_145417

Beruntung, saya dan beberapa teman blogger, pada 28 April lalu diundang untuk mengikuti #Nutritalk dengan tema Dasar dan Pedoman Praktis Mengatasi Saluran Cerna Sensitif pada Anak, di hotel JW Marriot, Jakarta. Saya jadi tahu lebih banyak mengenai pentingnya menjaga saluran cerna, terutama pada anak.

Seperti dikatakan Dr. Badriul Hegar, Ph.D, SpA(K), Konsultan Gastrohepatologi Anak, saluran cerna memiliki peran unik dan penting bagi kesehatan setiap anak. Karena tidak hanya mencerna dan menyerap makanan tetapi juga sebagai pembatas antara ‘dunia luar’ dan ‘dunia dalam’ tubuh. Saluran cerna yang 40% selnya adalah jaringan limfoid yang merupakan sel sistem imun, maka perannya dalam mekanisme pertahanan tubuh secara keseluruhan menjadi sangat penting.

Nah, pada bayi, saluran cerna ini menjadi sesuatu yang sangat rawan. Karena bayi sangat rentan terkena bakteri dan virus. Itu karena secara fisiologi saluran cernanya belum matang sempurna. Sehingga perannya sebagai sistem imun (pertahanan tubuh) juga belum matang. Selain itu, sel-sel pada permukaan usus pada bayi masih dalam posisi renggang sehingga memudahkan kuman atau makanan yang sensitivitasnya tinggi masuk ke dalam tubuh bayi, yang dapat menimbulkan masalah pada kesehatan.

Sekitar 70-80% sel imun dihasilkan oleh saluran cerna dan proses ini berkembang pesat pada satu tahun pertama kehidupan. Saluran cerna sehat diharapkan dapat menoleransi makanan yang masuk ke dalam tubuh anak dan meningkatkan proteksi terhadap kuman penyakit.

Diare Penyebab Kematian #2

You know what? Sekitar 30% anak memiliki pencernaan yang sensitif, mudah diare, mengalami konstipasi, atau menghasilkan gas berlebih. Karena itu, harus diberikan asupan nutrisi yang tepat agar saluran cerna dapat menjalankan fungsinya dengan baik dalam mencerna dan menyerap makanan. Begitu juga sebagai pertahanan terhadap beberapa gangguan saluran cerna seperti diare dan konstipasi. Jika tidak, pencernaan sensitif bisa mengganggu tumbuh kembang anak. BAHAYA!

Di Indonesia, diare menjadi penyebab kematian nomor dua, sekitar 15-17%  pada anak usia di bawah lima tahun. Sedangkan konstipasi kronis dialami oleh 12% anak. Seorang anak dikatakan terkena diare jika kondisi buang air besar (BAB) cair lebih dari tiga kali sehari. Keadaan ini dapat disebabkan oleh infeksi, seperti virus, bakteri, parasit, dan jamur, atau non-infeksi seperti alergi dan intoleransi makanan. Sedangkan konstipasi, bila si anak mengalami BAB dengan tinja keras dan frekuensi kurang dari 2 kali dalam seminggu.

Diare akut juga bisa menyebabkan tumbuh kembang anak terganggu. Juga berdampak menurunnya tingkat kecerdasan kognitif. Sementara konstipasi juga bisa menyebabkan anak menderita gangguan perilaku. Penyembuhan terhambatnya tumbuh kembang yang disebabkan diare dan konstipasi, memerlukan waktu yang sangat lama.

Deteksi dini dan tata laksana akurat sangat diperlukan pada gangguan saluran cerna, agar kejadian berkepanjangan atau berulang. Diare dapat dicegah dengan memberikan ASI ekslusif, MPASI sesuai waktu dan kebutuhan bayi, menjaga kebersihan, dan imunisasi. Konstipasi dapat dicegah dengan memberikan cukup cairan dan serat (tidak berlebihan dan tidak kekurangan).

IMG_20160428_122103

Saluran cerna yang sehat berarti dapat menjalankan fungsinya dengan optimal, tidak saja mencerna dan menyerap makanan, tetapi juga sebagai mekanisme pertahanan tubuh. Keberadaan mikroflora di dalam saluran cerna juga memegang peran penting terhadap kematangan sistem imun anak. Saluran cerna bayi yang mendapat ASI didominasi oleh bakteri baik yang keberadaannya memberikan keuntungan bagi kesehatan saluran cerna. Oleh karena itu, pemberian ASI eksklusif 6 bulan menjadi sangat penting.

Pencernaan yang sehat di masa awal kehidupan adalah landasan untuk tumbuh kembang optimal serta membangun tingkat kesehatan tubuh dan mental secara keseluruhan pada usia dewasa.

Menurut DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K), 1000 hari pertama kehidupan merupakan window of opportunity. Tidak hanya untuk perkembangan pencernaan yang sehat, tetapi juga merupakan masa kritis untuk perkembangan otak anak. Karena saluran cerna merupakan jalur masuk nutrisi ke otak sekaligus saluran komunikasi untuk merespon pesan – pesan dari luar. Interaksi dua arah antara otak dan saluran cerna (Gut-Brain Axis) yang lancar akan memaksimalkan tumbuh kembang anak. Otak kita dikendalikan oleh saluran cerna. Bisa dibilang, saluran cerna adalah otak kedua kita. Thats why, what you eat is what you think!

Sehingga bila terdapat gangguan pencernaan pada periode tersebut akan berisiko tinggi berdampak pada pertumbuhan anak dari sisi berat dan tinggi badan, BMI, dan lingkar kepala. Selain itu juga berpengaruh pada perkembangan anak dari sisi penglihatan/pendengaran, motorik, bicara-bahasa, dan personal sosial-emosi.

Anak dengan tumbuh kembang optimal akan menjalani kualitas hidup yang baik termasuk dari sisi perilaku-sosial maupun prestasi akademis.  Pada masa ini, pemberian nutrisi yang tepat dapat menyehatkan pencernaan sehingga tumbuh kembang anak dapat optimal. Sementara pencernaan sensitif dapat berimplikasi tidak saja berupa gagal tumbuh pada anak. Tapi juga berupa gangguan perkembangan emosi, perilaku, dan kecerdasan anak jangka panjang. Nah, ini yang sering disepelekan oleh kita, para orang tua.

Gimana? Udah lebih ngerti mengenai saluran pencernaan sensitif? Mulai sekarang kita sebagai orang tua, harus lebih WASPADA!

 

Luv,

signature eda ungu

Categories: Event, Health and Beauty

25 comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: