Jalan2-makan2

Welcome to Lombok (5): Gak Bisa Nenun, Gak Boleh Kawin!

Day 3 – Minggu, 19 Mei 2013

44

Hari terakhir di Lombok, kami menyempatkan diri berenang dulu di hotel. Menikmati fasilitas sebelum check out *gak mau rugi ceritanya* hihihi.. Abis itu, packing, sarapan dan lanjut ke Desa Sukarara… Tapi sebelumnya mampir dulu ke pasar Cakranegara untuk beli oleh-oleh buat yang di rumah. Here we go..

mejeng dulu sebelum berangkat :p
mejeng dulu sebelum berangkat :p

Desa Sukarara merupakan desa penghasil tenun terbesar di Lombok. Letaknya jauh dari kota, sekira 26 km. Kalau ke sini, mending bawa mobil pribadi atau sewa, mengingat jarangnya angkutan umum yang melewati.

Yang menarik dari desa ini, ketika kita masuk di salah satu sentra kerajinan, kita akan langsung disambut oleh beberapa perempuan yang sedang menenun songket. Umumnya, mereka adalah pekerja di sentra itu. Bermacam-macam model yang mereka hasilkan. Oiya, tenun dari desa ini bahkan menembus pasaran internasional. Kualitasnya jangan ditanya, mengingat harganya yang berjuta-juta 😀

Pengunjung juga bisa ikutan belajar menenun di desa ini. Tapi susahnya minta ampun, saya sudah mencobanya. Hmm..yang menenun songket dengan cara manual (tradisonal), memang hanya untuk kaum hawa, sementara kaum adam membuat tenun ikat yang pakai mesin kayu gede. Untuk tenun ikat ini, harganya lebih murah. Sekira 100k-500k per meter. Karena bikinnya lebih mudah dan cepat.

46

Waktu saya belajar menenun, saya sempat berbincang-bincang dengan mba-mba yang ngajari saya (lupa nanya nama, bad habit :p). Dia sudah mulai mahir nenun umur 9 tahun. Hanya membutuhkan waktu sekira 2 bulan. Kalau saya? hehehehe.. bisa tahunan. Susaaaaaah banget. Pasang alatnya aja udah susah. Bagian belakang kayu, harus diikat kencang-kencang di punggung kita. Jadi posisi punggung harus benar-benar lurus, gak boleh nekuk. Kaki juga demikian, harus lurus menjejak kayu di bagian depan. Pokoknya, posisi badan harus tegak. Setelah diikat dengan kencang, mulailah tangan dilemaskan untuk memasukkan benang satu persatu, kemudian alat tenun (kayu) dihentakkan sedemikian rupa, sehingga benang-benang itu erat satu sama lain. Jangan dibayangin susahnya, emang susah banget kok. Saya aja, sama si mba, berkali-kali diingatkan, supaya menghentakkan kayunya dengan kuat. Padahal menurut saya itu sudah kencang banget. Tapi ‘kencang’ menurut si mba, harus mengeluarkan bunyi ‘brak’ yang sangat nyaring. fufufufufu…

45
kalo gak bisa nenun, gak boleh kawin!!! =))

Oiya, adat di sana, bagi perempuan, kalau ingin menikah, diharuskan bisa menenun. Kalau belum bisa menenun, ya gak boleh nikah. Itu salah satu syarat utama. Kenapa demikian? karena kain hasil tenunan si perempuan itu nantinya akan dihadiakan kepada calon suami. Kalau gak bisa nenun gimana dong?  si perempuan bakal dikenakan denda. Tapi sampai saat saya ke sana kemarin, belum ada perempuan di sana yang gak bisa nenun. Rata-rata, umur 10 taun, mereka sudah mahir menenun. Coba bayangin, kalau aturan seperti itu diterapkan di kota kita? Kebayang nggaaaak? 😆 Saya aja pusingnya minta ampun waktu nyoba.

47

Setelah melihat-lihat dan belajar nenun, saya kemudian masuk ke dalam galeri. Kain-kain hasil tenunan para perempuan dan lelaki tadi dipajang di sana. Bermacam-macam warna dan motif kain songket, tenun ikat, syal, taplak meja, sajadah dan songkok ada di sana. Harganya bervariasi mulai ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Paling murah, syal, harganya 75-125k. Tergantung motif, ukuran dan tingkat kerumitan pembuatan. Siapkan duit banyak kalo mau ke sini. Selamat berbelanja.. (bersambung)

emaknya pilih-pilih, anaknya leyeh-leyeh =))
emaknya pilih-pilih, anaknya leyeh-leyeh =))

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

0 Comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: