Jalan2-makan2

Welcome to Lombok (6): Tradisi Kawin Lari Suku Sasak

Day 3, 19 Mei 2013

Setelah belajar nenun di Desa Sukarara, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sade. Inilah satu-satunya Desa suku Sasak yang masih memertahankan adat dan tradisi. Di desa ini sudah dihuni beberapa keturunan. Saat ini, terdapat 15 keturunan yang tinggal, terdiri dari 700 jiwa, yang menghuni 150 rumah yang ada. Karena itu, oleh Dinas Pariwisata setempat, Desa ini dijadikan sebagai salah satu objek wisata.

little happy family..
little happy family..

Tidak susah mencapai desa ini. Karena memang sarana prasarananya sudah sangat memadai. Jalan-jalan menuju desa ini juga sudah beraspal dan lebar. Letaknya juga persis di samping jalan raya. Tapii.. warganya masih berpegang teguh pada adat istiadat dan tradisi. Jadi, saat saya kesana, menemui semacam keunikan tersendiri. Kelihatan njomplang gitu. Di dalam kawasan desa, rumah-rumah masih sangat tradisional. Atap rumah terbuat dari ijuk, kuda-kuda rumah dari bambu yang diikat menggunakan tali tanpa paku. Temboknya dari anyaman bambu dan lantainya beralaskan tanah. Tapi jangan dikira kalau malam di sana gelap gulita, karena aliran listrik sudah terpasang.

Begitu masuk, kita akan disambut di bale pertemuan berupa rumah adat yang terbuka. Di tempat itu, biasanya semua pertemuan diadakan. Ada bermaca-maca bale di sana, sesuai peruntukannya. Uniknya, orang perempuan yang sudah tua, diharuskan hidup sendiri di sebuah bale yang sangat kecil. Menurut perkiraan saya, ukurannya sekira 2×1,5 meter. Waktu melongok isi rumahnya, gak tega banget. Orang sudah tua, disuruh hidup sendiri, di rumah yang kecil pula. hiks.. tapi itulah tradisi.

perempuan tua yang hidup sendiri menjajakan dagangannya
perempuan tua yang hidup sendiri menjajakan dagangannya

Oiya.. kalau kamu masuk ke dalam bale/rumah, jangan kaget yah. Karena warna lantainya coklat agak keijoan gitu. Itu karena suku sasak terbiasa membersihkan lantai rumahnya dengan kotoran kerbau. Anehnya, rumahnya tidak berbau. Katanya sih, supaya lantai rumahnya jadi hangat dan untuk mengusir nyamuk. Mereka tidur di lantai, hanya beralaskan tikar. Jalan-jalan di desa ini juga sangat sempit. paling lebar sekira 1 meter. Kalau jalan, juga harus nunduk-nunduk, karena rendahnya atap rumah.

bermacam-macam bale di desa sade
bermacam-macam bale di desa sade

Perekonomian warga desa ini ditunjang dari sektor perdagangan. Hampir semua penduduk berjualan di depan rumahnya. Bermacam-macam produk yang dijual. Mulai dari kain tenun, songket, sampai kerajinan lainnya. Perempuan di desa ini juga mencari uang dengan membuat kain tenun yang dijual juga. Sementara yang laki-laki bertani.

saya masih gak paham gimana caranya kapas itu bisa nyambung jadi benang.. -__-"
saya masih gak paham gimana caranya kapas itu bisa dipintal jadi benang.. -__-“

Kalau lihat orang nenun atau memintal benang di sana, bener-bener mupeng. Pengennya sih belajar sampai bisa. Waktu itu liat mbah-mbah lagi memintal kapas jadi benang. Sederhana saja, sepertinya. Kapas digulung dipegang pakai tangan kiri, kemudian dikaitkan ke alat pintal. Sementara tangan kirinya memutar alatnya. Gitu aja sudah jadi tuh benang. Tapi ketika saya mencoba memikirkannya, gimana bisa cobaa.. itu kapas bisa jadi benang. bener-bener gagal paham alias oon..hahaha…

Tradisi Merari

Oiya, waktu saya berkunjung di desa itu, kebetulan sekali ada acara kawin lari. Nah lho.. kawin lari diacarakan? hehe.. betul banget. Jadi tradisi suku sasak itu, kalo mau ngawinin anak orang, ya dibawa kabur aja. Itu dinilai lebih gentle timbang melamar. Aneh kaaan.. Iya, memang adatnya demikian sodara. hehe..

merari - tradisi kawin lari suku sasak
merari – tradisi kawin lari suku sasak

Kawin lari, menurut suku sasak, diartikan sebagai pernikahan. Caranya? Kalau antara pria dan wanita sudah sama-sama cinta, si wanita tinggal diculik saja, barang sehari semalam. Itu dianggap lebih kesatria. Daripada meminta baik-baik pada orang tua si wanita. Itu sama saja penghinaan. Jika sehari semalam, si anak gadis tidak pulang ke rumah, sudah bisa dipastikan sedang kawin lari. Istilah gaulnya Merari. Tapiii.. saat menculik anak gadis orang, harus juga membawa serta keluarga. Itung-itung sebagai saksi pernikahan kita.

Tapi saat melarikan si gadis, tidak dibawa ‘ngamar’ ke hotel atau penginapa lho ya.. tidak pula diajak menginap di rumah si lelaki. Tapi dititipkan ke rumah kerabat lelaki. Sehari kemudian, barulah si lelaku mengirim utusan ke rumah orang tua si gadis, memberitahukan bahwa anak gadisnya telah diculik dan disembunyikan di suatu tempat. Orang tua si gadis gak boleh tau tempat persembunyiannya. Istilahnya nyelabar. Saat nyelabar, didampingi 5 orang yang kesemuanya berpakaian adat lombok. Rombongan tidak diperbolehkan ke rumah gadis, tapi keliling terlebih dahulu dan meminta izin pada tetua adat. Setelah mendapat restu, barulah ke rumah si gadis. Duduk di halaman depan, sementara seorang utusan masuk ke dalam lalu meminang si gadis…

Begitulah adat kawin lari di Lombok. Beda banget kan dengan kawin lari pada umumnya… hehe.. di Lombok, kawin larinya tetap halal kok ^_^ (bersambung)

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

0 Comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: