Rumah Fiksi, Prosa dan Puisi

White Musk

“Perkenalkan, nama saya Friska, Friska Arunastimey. Saya pindahan dari SMAN XY di Jakarta….,”

Belum selesai aku memperkenalkan diri di depan kelas, tiba-tiba ada cowo yang menyelaku.

“uda punya pacar belum?,” kata cowo itu.

Aku mendelik ke arahnya. Duh…ini anak bener-bener pingin gw bejek. Sok kenal pula, gak ada sopan-sopannya banget, memotong pembicaraan orang. Aku memilih tak meladeninya.

“Sudah-sudah, cukup perkenalannya,” untung saja bu tiwi segera menyudahinya.

“Friska, kamu duduk di sebelah Dion ya, tuh bangku sebelahnya masih kosong,” kata bu Tiwi lagi.

“Dion yang mana bu?,” tanyaku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang gak gatal.

“Sini, sini. Lo duduk sebelah gw. nama gw itu Dion,” jawab cowo yang menyelaku tadi.

Omigot…kenapa harus duduk sebelah dia sih. Aku berusaha mencari bangku lain, tapi nihil. Semuanya penuh terisi. Dengan gontai, aku menuju bangku di sebelah Dion.

Aku berusaha agar tak bersinggungan dengannya. Bukuku kupinggirkan agar tak sampai melewati batas ke mejanya. Mulutku kukunci rapat-rapat untuk tak berbicaranya dengannya.

“Heh anak baru, lo kok diem aja sih,” tanyanya. Aku hanya melengos setelah memandangnya semenit.

“Idih, sombong amat neng. Kagak punya kawan lo nanti,” cerocosnya lagi. Aku masih cuek aja.

Dion terus menerus nyerocos dengan sejuta pertanyaannya. Tentu saja gak kujawab. Buset, ini anak frontal banget yak. Kalo mau kenalan yang baik-baik kek, pelan-pelan gitu ngomongnya. Ini malah ngata-ngatain.

Jadi selama pelajaran berlangsung, aku gak bisa konsentrasi karena Dion. Tepatnya karena keisengan Dion yang selalu tanya ini itu. Gak tau kenapa, firasatku mengatakan kalo aku dan dion bakal mirip kucing dan anjing.

Tunggu dulu, bau apa ini? kayaknya aku kenal bau ini. Aku terus mencari sumber bau itu, menoleh kanan kiri depan belakang. Aku mengeluarkan semua kemampuan daya endusku untuk memastikan asal bau ini. Tepat 5 menit, akhirnya pencarianku berakhir, hidungku berhenti tepat pada orang di sebelahku.

“White musk ya,” kataku tiba-tiba.

“Hah? Apaan? Idih, jangan panggil mas dunk. Dion aja,” jawabnya ngaco.

“Maksud gw, lo pake parfum white musk ya,” jelasku.

“Hehehe..kok tau,” Dion cengengesan.

“Ya taulah, gw juga suka dan pake parfum itu,”

“Wah.. Berarti kita jodoh dunk,”

“Jodoh dari hongkong, baru kenal juga,”

“Coba deh ya, kita baru kenal, trus lo duduk sebelah gw. Lo juga tau parfum kesukaan gw. Apa itu kebetulan,”

“ya kebetulan lah. Amit-amit deh kalo sampe berjodoh sama lo,” jawabku sengak sambil menggetok meja 3 kali. Penangkal sial, kata orang.

“Ati-ati neng, bisa kuwalat nanti,” Dion sepertinya menyumpahiku.

Aku hanya mendelik menatapnya.

Bel istirahat berbunyi. Aku memilih di dalam kelas saja. Bukannya sombong gak mau gaul sama yang lain. Tapi aku betul-betul malas jalan.

“Ayo ke kantin. Jangan diem aja lo,” ajak Dion.

“Gak, makasih. Gw di sini aja. Males,” jawabku cuek.

“Ye, ini anak. Masih ngambek lo,” tanyanya.

Aku merutuki diri sendiri. Kenapa bisa kenal dengan makhluk bernama Dion. Cowo yang super duper nyebelin.

“Hi, friska. Kita belum kenalan tadi. Nama gw vias. Kamu gak jajan,” sapanya sambil mengulurkan tangannya.

“Eh, hi.. Lagi males ni. Jadi di sini aja,” jawabku.

“Oh.. Gw temenin yak. Gak ganggu kan,”

“Enggak kok. Malah suka ada kawannya,” jawabku.

Kami pun larut dalam percakapan. Vias orangnya asik banget. Kulitnya hitam tapi wajahnya manis menurutku, alisnya kayak semut berbaris, pake kawat gigi, hidungnya gak mancung-mancung amat dan rambutnya agak ikal sebahu.

Vias menceritakan semua tentang sekolah ini. Mulai dari guru yang killer sampe yang metromini, murid yang pinter-pinter, yang doyan pamer kekayaan orang tua sampe yang langganan dipanggil guru BP.

Tunggu dulu, vias menyebut dion dalam barisan murid pinter di sekolah ini? Gak salah tuh? Tapi pertanyaan itu hanya kusimpan di otakku.

“Kamu beruntung bisa sebangku sama Dion, dia termasuk idola di sekolah ini. Banyak cewe yang ngejar-ngejar dia,” kata vias.

Gak bisa dipungkiri sih, Dion itu cakep, berkulit putih, hidungnya mancung, badannya atletis, rambutnya lurus dan hitam. Tapi kelakuannya nyebelin!!

Saking asiknya bercerita, gak kerasa, waktu istirahat habis. Vias kembali ke bangkunya, dua baris dibelakangku, sementara aku baris kedua dari depan.

“Hi cewe,” tiba-tiba dion berdiri di depanku sambil meringis memamerkan sederet gigi putihnya. Nilai plus lagi buat dion dariku.

“Ngapain lo senyum-senyum, kesambet ya,” ketus.

“Nih, kubeliin roti buat lo. Kan tadi gak istirahat. Pasti laper kan,”

“Gak perlu repot-repot. Sok-sokan baik pula sama gw. Makasih deh, rotinya buat lo aja,”
*

Kulemparkan tasku ke dalam kamar 3×4 yang didominasi warna ungu, kesukaanku. Kuhempaskan tubuhku di atas kasur bersprei ungu yang sangat empuk. Kupeluk gulingku erat-erat lalu kubenamkan wajahku ke dalam bantal. Hari yang menyebalkan, pikirku.

“Friska sayang, bersih-bersih badan dulu dunk, trus makan baru istirahat,” kata mama membelai rambutku.

Aku langsung membalikkan badanku.

“Bagaimana harimu di sekolah baru?,” tanya mama.

“Gak ada yang istimewa ma, malah menyebalkan,” jawabku.

Aku lalu bercerita ke mama bagaimana menyebalkannya si Dion yang terus menerus mengusiliku di kelas.

“Sabar ya. Kan masih baru, mestinya kamu bersyukur kenal Dion. Kalo denger ceritamu, mama yakin dia anak baik. Sudah sana bersih-bersih badan dulu,” mama keluar dari kamarku.
*

Hari ini, aku sengaja datang pagi-pagi. Sekedar untuk menikmati suasana sekolah yang masih sepi. Ternyata sekolah ini gak jelek-jelek amat. Bahkan bisa dibilang di atas rata-rata. Bangunannya baru direnovasi semua, terlihat dari bau cat yang masih tercium. Sekolah ini punya 3 lantai, setiap lantai ada 8 kelas, 1 lab komputer, 1 lab bahasa dan 6 kamar mandi. Khusus lantai 2, ditambah aula. Lapangan olah raganya juga cukup luas.

“Pagi friska,” suara itu menyepaku.

Aku lalu membalikkan badan. Haduh.. Kenapa pagi-pagi gini aku harus berurusan dengannya sih, rutukku dalam hati.

“Mau ngapain lo,” jawabku ketus. Entah kenapa aku gak bisa bersikap manis pada Dion.

“Judes amat. Pagi-pagi gak boleh marah-marah neng, ntar jadi perawan tua lho,” katanya enteng.

Nih anak bener-bener bikin aku kesel. Sukanya nyumpahin orang. Aku baru mau menjawabnya, dia sudah melenggang meninggalkanku.

“Awas aja nanti di kelas. Pasti kubalas,” aku berbicara sendiri.

Aku bergegas menuju kelasku di lantai 2. Di kelas, kujumpai vias sudah duduk manis di bangkunya, tapi gak ada Dion. Kemana kunyuk satu itu? Sebodoh lah, bukan urusanku juga.

“Vias, serius amat. Lagi ngapain lo,” aku menuju bangku vias.

“Ini, lagi buka-buka LKS matematika. Biasanya, pak brudin suka nunjuk-nunjuk anak gitu buat ngerjain soal di awal pelajarannya,”

“Oohh.. Gitu ya, yaudah terusin aja. Gw ke bangku dulu ya,”

Matematika buatku mah kecil. Aku sudah suka pelajaran itu sejak SD. Guru yang dibilang killer oleh vias itupun akhirnya datang juga. Disusul Dion dan murid lain di belakangnya.

“Selamat pagi anak-anak. Seperti biasa, 3 soal sebelum pelajaran dimulai. Saya denger ada anak baru di sini, yang mana ya,” kata pak brudin sambil menulis soal-soal di white board.

Tanpa dikomando, semua teman menunjukku.

“Oke, kamu maju. Siapa namamu,” tanyanya.

“Friska pak,”

“Tolong kerjakan soal nomor 1 ya,” perintahnya.

Aku belum beranjak dari bangkuku. Untuk memahami soal nomor 1 itu, ah phytagoras. Gampang, pikirku.

“Kenapa neng, gak bisa ngerjain ya. Kok diem aja,” kata dion pelan.

aku menoleh ke arahnya sebentar, lalu maju ke depan. Tiga menit, soal itu kukerjakan dengan sempurna. Pak brudin lalu mengoreksinya.

“Betul, kamu boleh duduk. Tapi pilih dulu siapa yang mengerjakan soal berikutnya,” katanya.

Aku menyapukan pandanganku ke seisi ruangan. Kenapa anak-anak jadi diem gini ya, biasanya rame. Apa mereka takut kupilih untuk mengerjakan soal? Aku melihat vias. Matanya seolah berbicara, “jangan pilih gw, gw belum siap”. Akhirnya aku menyebut nama dion yang disahuti “cieeeee” panjang oleh teman-teman. Aku kembali ke bangkuku. Dion bergegas mengerjakan soal. Gak sampe 2 menit, soal itu tuntas dikerjakannya. Buset, kayaknya bener yang dibilang vias. Lalu dion menyebut nama raka untuk mengerjakan soal terakhir.

Hari ini, dion masih saja suka iseng bertanya ini itu padaku. Hobi kayaknya. Dan aku, tetap dengan pendirianku, gak menanggapinya.
*

Seminggu aku bersekolah di sini. Aku mulai nyaman dengan suasana dan anak-anaknya. Mereka semua baik-baik, meski ada juga yang kecentilan, dan tukang pamer harta. Tapi enggak dengan cowo tengil itu, dion. Aku masih gak bisa baik dengannya. Sampai pada akhirnya, dion bertanya padaku.

“Lo kenapa sih, gw tanya gak pernah jawab,” tanya dion. Aku masih diam.

“Lo gak suka duduk deket gw?,” tanyanya lagi.

“Nah itu lo sadar,” jawabku.

“Oke, fine. Mulai sekarang gw tukeran duduk sama vias. Puas kan lo,” dion lalu mengemasi buku-bukunya dan memindahnya ke meja vias.

Vias heran melihat kami berdua.

“Mulai sekarang, lo duduk sama friska ya yas, biar gw duduk sama reta. Maaf,” kata dion. Vias hanya mengangguk menurut.

“Lo itu bego banget sih fris. Semua pengen duduk bareng dion, kok lo malah ngusir dia,” vias nyerocos padaku.

“Gw bukan ngusir ya, dia aja dengan sukarela pindah bangku. Ya gw seneng-seneng aja,” jawabku.

“Lo tau gak, reta itu suka banget sama dion. liat deh, si reta makin kecentilan tuh,” kata vias.

“Biarin deh, bukan urusan gw juga,”
*

Dua bulan sejak peristiwa tukeran tempat duduk itu, dion gak pernah lagi bicara panjang lebar padaku. Paling-paling dion hanya tersenyum ketika bertemu denganku. Sepertinya dia sadar diri kalo aku gak suka ditanya ini itu. Sukurlah.

Tapi lama-lama, aku merasa ada yang kurang. Hari-hariku di sekolah jadi datar-datar aja. Apa aku merasa kehilangan Dion yang selalu menggodaku? Gawat, apa aku sudah ada hati sama Dion. Aku jadi lebih banyak diam dan sedikit uring-uringan di kelas. Sedikit sensi kalo vias bilang.

“Lo kenapa sih fris, kok dikit-dikit sewot gitu,” tanya vias.

“Tau ah, gw juga gak ngerti,” jawabku sekenanya.

“Eh fris, lo uda denger gosip reta sama dion gak?,” kata Vias.

Aku yang ogah-ogahan langsung serius begitu mendengar nama dion disebut.

“Mang apaan?,” tanyaku sambil membenarnkan posisi dudukku.

“tuh kan, bener pikiran gw. Lo ada rasa tuh sama Dion. Tuh, pipi lo aja merah gitu, begitu denger nama Dion,” vias meledekku.

“Eh, dasar ya, ditanya malah ngeledek. Apaan sih,” jawabku.

“si Reta kan nembak Dion,” kata Vias yang tentu saja mengagetkanku.

“Apa? beneran tuh yas. jangan asal deh lo,” suaraku mengeras.

“nah nah, kamu cemburu ya,” vias semakin menggodaku.

“Sebodoh lah, bukan urusan gw,” aku lalu meninggalkan vias menuju kantin. tapi kemudian aku berbalik arah menuju vias lagi.

“yas, tapi dion mau gak jadi pacar reta?,” tanyaku lagi.

“Kenapa memang? kan lo bilang bukan urusan lo,”

“sial lo yas. ya uda deh, temenin gw ke kantin aja,” aku menggamit lengan vias ke kantin.

Di kantin, aku mendapatkan pemandangan cukup ‘menarik’. Reta menggandeng mesra tangan Dion. Emang sih, Dion terlihat ogah-ogahan, tapi cukup menegaskan jika mereka sudah jadian.

“Balik aja yuk yas. Tiba-tiba gw gak laper,” Vias hanya membuntutiku dari belakang.
*

Hari ini, aku sengaja bolos sekolah. Aku masih kepikiran dengan yang kulihat di kantin kemarin. Aku beralasan sakit sama mama sehingga diijinkan untuk gak masuk hari ini. Aku membenamkan wajahku ke dalam bantal. Aku gak rela Dion jadian sama Reta, si centil itu.

“Friska, ada temen kamu di depan tuh,” teriak mama.

“Sapa ma? suruh ke kamar aja deh,” jawabku.

Mungkin Vias yang datang, pikirku. Aku melanjutkan tiduran di atas kasurku. Lagu Smile Like Monalisa milik All 4 One menemaniku sore itu.

Knock..knock..

“masuk aja yas, gak dikunci kok,” kataku dengan suara agak keras.

“Fris, lo kenapa gak masuk. Sakit ya,” vias lalu duduk di sampingku.

“Gak papa kok, pengen aja bolos,” aku tertawa.

Tiba-tiba aku mencium sesuatu yang gak asing lagi di hidungku. Perasaan aku gak memakai parfum deh, trus ini wangi siapa? Jangan-jangan…

“Hi Fris, lagi sakit ya,” tanya suara lain itu.

Aku membalikkan badanku, omigot… benar dugaanku. Betapa kagetnya melihat Dion ada di dalam kamarku. Aku gugup sendiri, aduh mana aku belum mandi dari tadi pagi lagi. Wajahku pasti kusut sekali, rambutku sudah pasti acak kadut.

“Fris, sakit apa, kok wajah lo pucet banget,” tanya Dion lagi.

“Eh…anu anu..gwgak papa kok Dion,” semakin salah tingkah.

“udah, lo istirahat aja dulu. Masih pucet gitu. Gw temenin di sini ya,” katanya. Aku hanya mengangguk, senang tentunya.

“Fris, gw balik dulu ya. Gw tadi cuma pengen anter Dion kok. Khawatir dia sama lo,” pamit Vias.

Merasa gak enak berduaan di kamar sama Dion, aku lalu mengajaknya ke ruang makan.

“Tumben lo maen ke rumah gw,” tanyaku.

“Gak boleh nih, ya udah gw pulang aja,” Dion hendak beranjak pergi. Entah aku dapat keberanian dari mana, tiba-tiba tanganku menarik tangannya.

“Jangan pulang, lo di sini aja, nemenin gw,” kataku lalu melepaskan tanganku.

“Lo kok ke sini sendiri. Pacar kamu mana?,” tanyaku.

“Pacar, pacar yang mana? gw belum punya pacar,” jawabnya.

“kemarin yang gandengan tangan di kantin sapa dunk,”

“Oh, jadi kamu liat ya. Reta lagi gandeng tanganku,”

Aku hanya mengangguk. Dion lalu menjelaskan, saat itu dia sengaja meminta Reta untuk menggandengnya di kantin, buat manas-manasin aku.

“gw pengen tau aja Fris, gimana perasaan lo ke gw. Soalnya,”

“Soalnya apa?,” aku memotong kalimat Dion.

“Soalnya, soalnya gw sayang lo, gw suka lo dari pertama liat lo waktu itu,”

Mendengar ucapan Dion, rasanya mau pingsan. Aku merasa terbang ke awang-awang. kemudian…

“aw…sakit tau,” teriakku. Dion mencubit pipiku.

“abis lo sih, kaget ya,” tanyanya. Aku hanya mengangguk.

“Trus gimana Fris, mau gak lo jadi pacar gw,” tanyanya sambil memberiku parfum White Musk kesukaanku, kesukaan kami berdua.

Aku lalu memberinya syarat, kalo Dion berhasil ngalahin nilai raportku di semester 1 ini, aku mau menjadi pacarnya.
*

Ujian semester satu sudah di depan mata. Aku belajar dengan sangat keras. Sepertinya Dion juga begitu. Dion pasti gak mau kalah denganku. Memang Dion selama ini langganan juara umum di sekolah kami, tapi tidak untuk kali ini. Aku harus bisa mengalahkannya. Nilai raporku selama di sekolah lama juga bagus-bagus. Aku juga langganan juara kelas, dan gak pernah terlempar dari 3 besar.

Selama seminggu, kami bergelut dengan soal-soal UAS. Aku dan Dion memutuskan untuk tidak saling kontak selama ujian. Untuk menjaga konsentrasi kami.
*

Sebulan berlalu setelah ujian. Sekarang saatnya penerimaan raport. Aku menemani mama mengambil raport hari ini di sekolah. Aku berharap aku bisa juara, menggeser Dion. Dan itu berarti aku gak akan pernah jadian sama Dion. Tapi gak papa lah, pendidikan lebih penting bagiku. Aku gak mau mengecewakan papa dan mama yang sudah mati-matian membiayai sekolahku.

“Friska Arunastimey,” bu Mutia memanggil namaku.

Aku dan mama lalu menuju meja bu Mutia. Setelah memberi sedikit penjelasan, bu Mutia menunjukkan nilai raporku. Aku langsung menujukan mataku ke kolom pengisian ranking. Aku kecewa, karena di sana tertulis aku rangking 2. lalu siapa ranking 1 nya?

“Yang ranking 1 siapa buk?,” tanyaku.

“Seperti biasanya, Dion. Nilai kalian gak selisih banyak kok. Selisih 3 poin saja,” kata Bu Mutia.

Aku ranking 2, ini berarti aku harus jadi pacar Dion. Aku gak tau, harus senang atau sedih. Di satu sisi, aku senang karena jadian sama Dion. Di sisi lain, aku kecewa karena harus berada di ranking 2.

“maafin aku ya ma, belum bisa jadi yang terbaik,” kataku ke mama.

“Gak pa pa, ini juga sudha bagus kok. kamu yang semangat ya belajarnya,” jawab mama.

Saat menuju gerbang sekolah, aku bertemu Dion. Aku lalu meminta ijin mama untuk pulang belakangan dan mama mengijinkanku.

“jangan sore-sore pulangnya,” pesannya. aku hanya mengangguk.

Aku menghampiri Dion yang lagi duduk-duduk di pinggiran lapangan basket. Sebenarnya malu, tapi aku sudah kadung janji sama dia. Aku lalu mengambil posisi duduk di sebelah Dion. Sekitar 10 menit, kami berdua saling diam.

“Selamat ya, lo masih tetep juara,” akhirnya aku membuka percakapan dengannya, sambil mengulurkan tanganku.

“Ngasih selamatnya kok kayak terpaksa gitu sih,”

Duh, ini anak masih saja tetep ngeselin, pikirku. Aku lalu pergi meninggalkannya tanpa berkata apapun.

“Friska, tunggu dunk. jangan ngambek gitu ah, kayak anak kecil aja,” teriaknya.

Aku tak menghiraukannya. Kupercepat langkahku, tapi usahaku kurang berhasil. Dion berhasil menarik tanganku dan menggenggamnya.

“Lo kan masih punya utang sama gw,” katanya, tetap menggenggam tanganku.

Tangannya begitu halus, hatiku langsung berdesir kencang. Aku ingat rasa ini, rasa yang 1 tahun lalu sempat ada, saat aku jadian dengan Ryan. Rasa itu kini muncul lagi pada pria yang berbeda. Apa aku bener-bener sayang sama Dion.

“heh, ngelamun aja lo. Ayo ke kantin,” ajak Dion. Aku mengekornya dari belakang.

Di kantin, Dion memberiku sebuah CD dan lagi-lagi parfum White Musk kesukaanku, kesukaan kami berdua.

“gw tau, lo suka banget sama parfum ini, makanya gw kasih lagi. CD ini, lagu kesukaan lo kan, punya All 4 One. Kemarin gw denger, CD lo sudah agak nyendat-nyendat, jadi gw beliin deh,” tanpa aku minta, Dion menjelaskan maksud pemberiannya itu.

“Karena gw masih tetep juara umum di sekolah ini, jadi lo mau dunk jadi pacar gw,”

“Eh… eh… ,” aku ragu menjawabnya. Sebenarnya aku tinggal bilang iya aja, tapi rasanya mulut ini gak bersuara. akhirnya aku memutuskan untuk mengangguk saja.

“itu artinya lo mau jadi pacar gw,” tanya Dion, aku pun mengangguk lagi.

Sayup-sayup, aku mendengar lagu All 4 One diputar.

“Gw harap, lo tetep tersenyum ke gw ya Fris. Senyum lo kayak lagu yang gw kasih ke lo. gw gak mau jauh-jauh dari lo. Tetep tersenyum kayak lagu ini,” tiba-tiba Dion ngecup pipiku. Spontan, tangaku langsung mendarat di pipinya.

“Widih, jahat banget neng. Nempel dikit langsung tabok,” katanya sambil mengelus-elus pipinya.

“salah sendiri main nyosor aja. Gw terima hadiah lo, lo juga udah terima ‘hadiah’ gw kan. satu lagi, gw juga sayang lo, gw akan tetep tersenyum buat lo,” aku lalu meninggalkannya tanpa menghiraukan panggilannya. Aku tertawa dalam hati. Puas
***

Smile Lika Monalisa

Oh, I carry a photograph
Girl of the way you used to be
Love looking back at me,
Now it’s just a memory

You were all laughter then
And you were my light when I was dark
How did we lose our way,
How did we fall apart

‘Cause something in our kisses
Said love would never end
And deep down you still fell it too
But you won’t let me in

So when you smile like Mona Lisa
My heart falls to pieces
‘Cause smiling just can’t hide
All the sadness in your eyes

If I could only hold you
Love you like I used too
But girl what can I do
When you smile like Mona Lisa

The way that I held you close
The way that you whispered My name
We made it a work of art
Now there’s just an empty frame

All we had
Baby we could have again
And deep down you still feel it too
But you won’t let me in

I carry a photograph
Girl of the way you used to be

E N D

moslem • a daughter • a sister • a wife • a moms • a friend • jalan-jalan enthusiasm • emak-emak beud • am blessed

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: