[Review Film] Sabtu Bersama Bapak

Assalamualaikum…

Jadi, libur Lebaran kemarin ke mana aja? Kalau saya, mengakhiri liburan dengan nonton film Sabtu Bersama Bapak, di hari Minggu. 😀

Iyes, film yang dibuat berdasar novel best seller milik Aditya Mulya, dengan judul serupa.

Sinopsis

Film ini bercerita tentang Keluarga Garnida. Si Bapak yang bernama Gunawan Garnida, si isteri Ibu Itje dan anak-anaknya, Cakra dan Satya. Hidup mereka yang terlihat selalu bahagia, tiba-tiba berubah ketika Gunawan mengetahui jika dirinya mengidap kanker, dan jatah hidupnya tinggal setahun lagi.

gunawan garnida

Gunawan khawatir, dirinya tidak bisa membimbing anak-anaknya hingga dewasa. Kematian boleh membawanya pergi. Tapi kematian tidak bisa membatasinya untuk terus menyayangi anak-anaknya. Akhirnya dia membuat banyak rekaman berisikan pesan-pesan untuk kedua anaknya. Setelah Gunawan berpulang, Ibu Itje memutuskan agar kedua anaknya dapat bertemu sang bapak satu kali seminggu, setiap hari Sabtu. Sabtu Bersama Bapak.

Isteri yang baik gak akan keberatan diajak melarat.
Tapi, suami yang baik, gak akan tega mengajak isterinya untuk melarat.

Kehidupan Itje, Satya dan Cakra, berlanjut. Satya sudah beristri, Rissa, dan mempunyai dua anak laki-laki. Satya bekerja sebagai tenaga offshore di lepas pantai Denmark. Cakra (30) menjadi deputi direktur di sebuah bank asing di Jakarta dan masih menjomblo. Itje, tetap sendiri menjalankan bisnis warung makannya di Bandung.
Mengikuti pesan sang bapak, Satya terlalu kaku dengan pemikirannya dan berjarak dengan sang istri. Mengikuti pesan sang bapak, Cakra fokus bertahun-tahun menyiapkan materi sehingga lupa bahwa menyiapkan diri untuk mencari pasangan. Itje menyimpan sebuah rahasia, dan tidak ingin kedua anaknya tahu. Sewaktu kecil, mereka tidak menyusahkan Itje, Sekarang, Itje tidak ingin menyusahkan mereka.

Cast:

Abimana Aryasatya sebagai Gunawan Garnida
Ira Wibowo sebagai Itje
Arifin Putra sebagai Satya
Deva Mahenra sebagai Cakra
Acha Septriasa sebagai Rissa
Sheila Dara Aisha sebagai Ayu
Ernest Prakasa sebagai Firman
Jennifer Arnelita sebagai Wati
Rendy Kjaernett sebagai Salman

Menurut saya (lagi), pemeran film ini udah cocok semua. Sesuai lah, dengan bayangan saya waktu baca bukunya. Pemeran Cakra juga pas banget sama yang karakter yang di buku. Kocak-kocak gimanaa.. gitu. Saya jadi ngebayangin waktu si Deva main di Tetangga, Masa Gitu. 😀
Arifin Putra aka Satya. Saya nganga dong lihatnya. hehehe.. Ganteng banget ya. Sesuai lah sama gambaran di bukunya, ganteng, pintar dan sempurna. Rissa juga kelihatan kuat banget karakternya, cocok dengan Acha Septriasa. Si Ayu juga okeh banget. Luwes, lemah lembut, pas banget jadi gadis Jawa.
Pemain lainnya juga pas. Tapi paporit saya, si Wati sama si Firman. Beneran deh, kalo gak ada mereka, ini film gak bakalan bisa hidup. hehehe…
Etapi, ada sih yang gak cocok banget perannya. Itu, dua anak Satya dan Rissa. Lempeng banget mimiknya. Ekspresinya datar abis. Siapa sih mereka? Ada yang tau? Let me know ya. 😛
sabtu-bersama-bapak

Review

First of all, jangan pernah bandingin film ini dengan bukunya. Gak fair. Ya, kan.. di buku, ceritanya bisa dijembrengin hingga 277 halaman, sementara di film, cuma 90 menit.

Merananya saya, waktu itu saya telat nontonnya. Film udah diputar 15 menit saya baru masuk theatre. Jadi saya gak kebagian lihat adegan, di mana Gunawan dan Itje waktu terima dan baca surat vonis dari dokter, tentang penyakitnya. Saya juga gak lihat, gimana si Gunawan ngerekam banyak video buat anak-anaknya, bahkan waktu dia meninggal. Saya baru nonton, waktu anak-anak Itje – Cakra dan Satya – udah gede, dan bantu-bantu Itje di warungnya atau restoran?. Kasihan banget kan, sayanya? 🙁

Yang beda dari bukunya: Di film, si Cakra ketemu Rissa di warung ibunya, bukan teman satu kampus yang ketemu saat wisuda. Anak Cakra dan Rissa cuma 2. Di buku, mereka punya anak 3. Gak tau lagi sih, kalo di awal udah diceritakan kalo di tengah kehamilan anak ketiganya, Rissa mengalami keguguran. Tapi sampe mereka menikah, dan tinggal di Paris, saya yakin, anak mereka cuma 2 di film itu. Beda lainnya, Rissa diceritakan ngotot pengen kerja di luar rumah. Sementara di bukunya, Rissa ngerasa nyaman dengan bekerja sebagai pialang saham dari rumah. Oiya, sama drama penculikan Ryan dan Miku. Di bukunya gak ada cerita ini. 😀

Adegan yang bikin mewek:

Dari awal saya baca buku ini di Oktober 2014, banyak kalimat yang bikin saya mewek, bahkan nangis. Pun di film ini.

Anak. Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orangtua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orangtua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya.

  1. Adegan waktu Rissa bertengkar sama Satya, karena suaminya itu sering marah-marah dan menuntut anak-isterinya untuk selalu terlihat sempurna, di mata Satya. Apalagi waktu Rissa nekat pergi dari rumah, dan nelpon mertuanya (Itje) cerita kalo habis berantem parah sama suaminya. Dan Itje dengan sabar, mendengarkan cerita menantunya dengan sabar, bahkan memberikan semangatnya. Padahal waktu itu, si Itje lagi di RS habis operasi kanker. Huhuhu.. Mana lagi waktu adegan ini, tuan besar langsung pegang dan elus-elus tangan saya. Kalo gak inget waktu itu lagi di bioskop, langsung saya sosor deh si tuan besar. 😆
  2. Adegan di mana Cakra buru-buru ke Bandung, begitu mendengar kalo ibunya dirawat di RS, karena kanker. Sampe RS, Cakra langsung naik kasur, dan memeluk ibunya dari belakang. Trus, nangis deh berdua. Di situ saya ngerasa speechless. Trus jadi inget ibu saya, yang hampir setahun ini, ditinggal Abah. 🙁

Sebenarnya, banyak adegan yang bikin mewek. Tapi cuma dua adegan itu, yang beneran bikin saya nangis kejer. Anak saya sampai nanya, “bubun kenapa, kok matanya basah? nangis ya?” Kan ekeh tengsin, nek, ditanya anak kayak gitu. Manalagi tangannya si bocah nyeka-nyeka mata saya. 🙁

Adegan yang bikin ngakak:

  1. Waktu Cakra dikerjain anak buahnya di kantor:
    + Pagi, pak Cakra.
    * Pagi, Wati.
    + Sudah sarapan, pak?
    * Sudah, Wati.
    + Udah punya pacar, pak?
    * Diam kamu, Wati!
  2. Bullyan kedua datang dari Firman yang tiba-tiba masuk ke ruangan Cakra
    “Kalo kamu datang ke sini mau nanya status Saya, Saya masih JOMBLO!”
    “Saya cuma mau ngingetin 2 hal. Pertama, nanti Bapak ada induksi jam 9 di ruang meeting”
    “Satu lagi apa?”
    “Mau ngingetin aja, Bapak masih jomblo”
    “Enyah, kamu”
  3. Email yang dikirim anak buah Cakra, masih tetap soal perJOMBLOan. (Yang ini sumpah bikin ngakak!)
  4. Waktu si Cakra mimpin rapat bersama stafnya yang baru, termasuk di situ si Ayu (yang nantinya jadi pacara Cakra). Cakra kelihatan gugup banget, sampai gagap, gak bisa ngomong. Apalagi waktu dia kepleset ngomong, kalo dia sedang malu banget, kepleset jadi, “kemaluan saya besar”. << ini yang bikin Ayu ilfil sama Cakra.
  5. Waktu Cakra ditanya sama Ayu, dari divisi mana, si Cakra jawab, “dari Divisi Jomblo” (di sini si Ara ngakak kenceng banget. Padahal ya, Jomblo itu apa, saya gak yakin si bocil tau artinya. wkwkwkwk)
  6. Cakra ngajak makan siang si Ayu, trus kepleset ngomong, “Saya mau makan kamu siang-siang” 😆
  7. Waktu Cakra ngedate sama Ayu (finally) di Ancol, dan mereka lewat di depan tukang jual obat kuat. Dan si Cakra ngerasa tersinggung, karena dianggap punya Cakra gak gede. 😆

Adegan-adegan itu bikin ngakak banget. Apalagi kalo lihat gimana mimik si Deva (Cakra), ganteng-ganteng bloon gitu deh. Bikin emesh! 😆
Btw, ada yang punya atasan macam Cakra? 😛

Recomended!

Over all, menurut saya, film ini pantas dihadiahi bintang 4. Alurnya hampir sama dengan yang di buku. Bahkan endingnya pun, persis seperti yang ditulis di buku. Cuma karena durasi aja, jadi agak-agak disingkat ceritanya. So far, saya bilang film ini mampu mengadaptasi bukunya.

Saya bilang, film ini paket komlit. Ada lucu, sedih, susah, senang, sampe ketawa ngakak, ada semua di film ini. Pokoknya, film ini wajib tonton banget! Apalagi kalo nontonnya barengan sama suami/isteri. Itung-itung sekalian nambah ilmu dan pengetahuan.

Recomended!

Lesson Learned:

  1. Orang hidup itu harus punya rencana, rencana, dan rencana. Apalagi yang berkaitan dengan keuangan.
  2. Jangan pernah membiarkan orangtuamu sendiri. Apalagi kalau ternyata orangtuamu hanya tinggal Ibu. Apapun alasannya. Karena bisa saja kita tidak tahu apa saja yang terjadi di kehidupan orangtua kita. Karena surgamu terletak di telapak kakinya. Kalaupun terpaksa tidak bisa tinggal bersama orangtua, paling gak, sering-sering menanyakan kabar, menengoknya langsung atau sekadar telpon.
  3. Rencana memang penting dalam hidup, tapi jangan sampai mengabaikan keadaan sekitar. Jangan sampai, karena kita ‘memburu’ masa depan, kita tidak ‘hidup’ saat ini.  Terutama bagi para bapak, jangan sampai karena merasa sudah menyiapkan materi berlimpah buat keluarga, si bapak tidak turut serta mendidik dan membesarkan anak-anak. Salah besar! Karena biar bagaimanapun, mendidik dan membesarkan anak, adalah tugas ibu dan bapak. Bukan orang lain. Karena anak-anak juga butuh sosok bapak, bukan hanya ibu. Berikan perhatian dan kasih sayang yang selayaknya kepada anak dan isteri. Ini penting banget.
  4. Jangan terlalu banyak menuntut isteri untuk sesempurna yang suami inginkan. Jangan pernah membanding-banding isteri dengan ibumu. Ingat, isterimu adalah ibu dari anak-anakmu. Kalau suami menuntut isteri untuk sempurna, apakah suami sudah bersikap sempurna di mata si isteri? Karena kesempurnaan adalah milik Allah, jadi saya jawab, tidak ada manusia yang sempurna. Yang bisa diberikan oleh suami/isteri adalah berusaha untuk menjadi yang lebih baik.
  5. Buat yang jomblo, untuk menarik perhatian gebetan, bukan hanya modal tampang dan omongan. Tapi yang paling penting dari semua itu adalah kesiapan mental. Apalagi buat cowok yah. Nih, saya kasih tahu. Cewek itu gak perlu janji ini itu, tapi butuh kepastian. Jadi, kalau emang udah niat serius, harus dipersiapkan segala sesuatunya. Termasuk soal materi. Kalau cinta, gak usah ditanya lah. Saya yakin, kalau cowok udah niat mau ngelamar cewek, pasti si cowok cinta. Tapi cinta aja gak cukup kan? 😛

Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan.
Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

 

Quote yang paling saya suka dari film ini:

Ketika seorang laki-laki  dan perempuan menikah, laki-laki itu meminta banyak dari perempuan.
Saya pilih kamu.
Tolong pilih saya, untuk menghabiskan sisa hidup kamu. Dan saya akan menghabiskan sisa hidup saya bersama kamu.
Percayakan hidup kamu pada saya. Dan saya penuhi tugas saya padamu, nafkah lahir dan batin.
Pindahkan baktimu. Tidak lagi baktimu kepada orangtuamu. 
Baktimu sekarang pada saya.

– Cakra Garnida –

Deramah sebelum nonton

Seperti saya ceritakan di awal, ada deramah yang terjadi sebelum nonton. Sebetulnya saya udah rencanain, mau nonton Sabtu Bersama Bapak ini di hari Minggu jam 2.30 siang. Tapi sampai jam 1 siang, saya masih leyeh-leyeh di kasur. Semacam males, gitu deh. Kok ya pas banget, waktu itu ada mba saya datang. Ngobrol-ngobrol lah ngalor ngidul, sampai jam 2 siang. Saya baru inget, kalo saya belum sholat dhuhur. Lari dong ke kamar, trus sholat. Cepet-cepetan, karena filmnya main 30 menit lagi. Tuan besar pun, belum lagi si bocil yang pake rewel, pengen pake baju ini itu. 🙁

Akhirnya tuan besar nyaranin buat nonton pertunjukan yang malam. Saya ogah. Ngotot nonton siang itu. Apapun yang terjadi #halah

Tapi tetep aja gak keburu, yes. Jam 2.30 tet, yang mestinya saya sudah duduk syantiek di dalam theatre, kami malah baru berangkat dari rumah. Kami memutuskan nonton di Tunjungan 21, itu bioskop paling dekat dengan rumah. Naik motor cuma 5 menit, udah termasuk macetnya.

Di loket, ternyata antrenya panjaaang. Saya masih nekat sih. Jam 3 kurang 15, akhirnya saya dapat tiket. Alhamdulillah, masih ada seat kosong. Tapi bagian depan ya. Kursi H tepatnya. Dongak-dongak deh, nontonnya. Tapi ya, namapun udah ngebet, pala pusing liat layar segede itu persis di depan mata pun, dijabanin. Hasilnya, saya ketinggalan 15 menit pertama. Jadi gak tau gimana awal filmnya. Makanya ya, jangan suka malas-malasan kaya saya. 🙁

 

Selamat Lebaran yaa.. Taqabballahu minna wa minkum.. 

Salah-salah kata, maafkan saya :*

 

Luv,

signature eda ungu

 

 

Categories: Rak Buku - Film - Lagu

42 comments

Yakin Gak Mau Komen? :D

%d bloggers like this: